Sampul The Violin Left on the Bus

Ayla took the morning bus to work, as she did every day. The bus was almost empty. At the back, she saw a black case on a seat.

Ayla naik bus pagi ke tempat kerja, seperti yang ia lakukan setiap hari. Bus itu hampir kosong. Di bagian belakang, ia melihat sebuah tas hitam di atas sebuah kursi.

She opened it a little. Inside was a violin. Nobody sat near it. A small label on the case said "Hill Street Music School."

Ia membukanya sedikit. Di dalamnya ada sebuah biola. Tidak ada seorang pun yang duduk di dekatnya. Sebuah label kecil di tas itu bertuliskan "Sekolah Musik Hill Street."

"Did anyone ask about a violin?" she asked the driver.

"Apakah ada yang menanyakan biola?" tanyanya kepada sopir.

He shook his head. "Not today," he said.

Sopir itu menggeleng. "Hari ini tidak ada," katanya.

Ayla looked at her watch. She had thirty minutes before work. The school was only two stops away. "I will take it there," she said.

Ayla melihat jam tangannya. Ia punya tiga puluh menit sebelum jam kerja. Sekolah itu hanya dua perhentian dari sini. "Saya akan membawanya ke sana," katanya.

She got off at the next stop and walked fast. The case was heavy, and her arm was tired. After ten minutes, she found a tall grey building.

Ia turun di perhentian berikutnya dan berjalan cepat. Tas itu berat, dan lengannya lelah. Setelah sepuluh menit, ia menemukan sebuah gedung abu-abu yang tinggi.

At the front door, a young man ran out. His face was white. "Excuse me," he said. "Do you know where…" Then he saw the case, and he stopped.

Di pintu depan, seorang pemuda berlari keluar. Wajahnya pucat. "Permisi," katanya. "Apakah Anda tahu di mana…" Lalu ia melihat tas itu, dan ia berhenti.

"My violin!" he said. "I left it on the bus. My name is Nasser. I have an exam in one hour. I did not know what to do."

"Biola saya!" katanya. "Saya meninggalkannya di bus. Nama saya Nasser. Saya ada ujian satu jam lagi. Saya tidak tahu harus berbuat apa."

"Then you must hurry," Ayla said. She gave him the case.

"Kalau begitu Anda harus bergegas," kata Ayla. Ia menyerahkan tas itu kepadanya.

Nasser opened it and looked at the violin. His hands shook a little. "Thank you," he said. "Thank you so much. Please, tell me your name."

Nasser membukanya dan memandangi biolanya. Tangannya sedikit gemetar. "Terima kasih," katanya. "Terima kasih banyak. Tolong, beri tahu saya nama Anda."

"It's Ayla. Good luck, Nasser. Play well."

"Ayla. Semoga berhasil, Nasser. Mainkan dengan baik."

He ran back into the school. Ayla looked at her watch again. Now she was late for work, but she did not care. She turned around and ran for the next bus.

Ia berlari kembali ke dalam sekolah. Ayla melihat jam tangannya lagi. Sekarang ia terlambat bekerja, tetapi ia tidak peduli. Ia berbalik dan berlari mengejar bus berikutnya.

🧠 Cek pemahamanmu

  1. Where does Ayla find the violin?

    Lihat jawaban

    Jawaban: On the bus

    She sees a black case on a seat at the back of the morning bus.

  2. How does Ayla know where the violin goes?

    Lihat jawaban

    Jawaban: A label has the name of a music school

    A small label on the case says "Hill Street Music School."

  3. Why is Nasser afraid?

    Lihat jawaban

    Jawaban: He has an exam in one hour

    He says, "I have an exam in one hour," and he has no violin.

Suka ceritanya? Dengarkan versi lengkap dan cari arti kata apa pun di aplikasi

  • Ketuk kata apa pun untuk melihat artinya
  • Dengarkan setiap cerita sampai habis dan baca offline
  • Ulangi kosakata, latih pelafalan, dan kerjakan kuis
Temukan di Google Play