The Wrong Highway Exit
Cerita bahasa Inggris gratis level A2 untuk pelajar, bisa dibaca online dalam 5 bahasa, dengan pilihan untuk mendengarkannya di aplikasi Storyteller gratis.
Henrik takes the wrong highway exit, and Esme's old paper map helps them find their way back.
Itu cuplikannya! Dengarkan cerita lengkapnya di aplikasi Storyteller gratis. Unduh aplikasi
Audio belum tersedia saat ini.
Henrik and Esme drove north for their weekend trip. Henrik watched the road signs. Esme slept in the passenger seat.
Henrik dan Esme berkendara ke utara untuk liburan akhir pekan. Henrik memperhatikan rambu-rambu jalan. Esme tidur di kursi penumpang.
At exit 42, he turned off too early. He did not see the sign for exit 44. The car left the highway and entered a small town.
Di pintu keluar 42, ia berbelok terlalu cepat. Ia tidak melihat rambu pintu keluar 44. Mobil meninggalkan jalan tol dan masuk ke sebuah kota kecil.
Esme woke up and looked around. "This doesn't look right," she said. "Where are we?"
Esme terbangun dan melihat sekeliling. "Sepertinya ini bukan jalan yang benar," katanya. "Kita di mana?"
Henrik checked his phone, but there was no signal in the hills. "My phone shows nothing," he said. "We need another plan."
Henrik memeriksa ponselnya, tetapi tidak ada sinyal di perbukitan. "Ponselku tidak menunjukkan apa-apa," katanya. "Kita butuh rencana lain."
Esme opened the glove box and pulled out an old paper map. Her father gave it to her years ago. She always kept it in the car.
Esme membuka laci dasbor dan mengeluarkan peta kertas tua. Ayahnya memberikannya bertahun-tahun lalu. Ia selalu menyimpannya di mobil.
"Let's find the town name first," she said. She traced the roads with her finger. She found a small dot.
"Kita cari dulu nama kotanya," katanya. Ia menelusuri jalan-jalan di peta dengan jarinya. Ia menemukan sebuah titik kecil.
"Here we are," she said. "We took the wrong exit. The right road is just north of here."
"Ini dia," katanya. "Kita salah ambil pintu keluar. Jalan yang benar ada tepat di sebelah utara sini."
Henrik turned the car around and followed her directions. They passed a small farm and a quiet church. Soon, they found the highway again.
Henrik memutar mobil dan mengikuti petunjuknya. Mereka melewati sebuah peternakan kecil dan sebuah gereja yang sepi. Tak lama kemudian, mereka menemukan jalan tol lagi.
"I'm glad you kept that old map," Henrik said.
"Aku senang kamu menyimpan peta tua itu," kata Henrik.
Esme folded it back into the glove box. "Paper doesn't lose its signal," she said with a smile.
Esme melipatnya dan memasukkannya kembali ke laci dasbor. "Kertas tidak pernah kehilangan sinyal," katanya sambil tersenyum.
They drove on, back on the right road.
Mereka melanjutkan perjalanan, kembali di jalan yang benar.






