The Standing Companion
Cerita bahasa Inggris gratis level C1 untuk pelajar, bisa dibaca online dalam 5 bahasa, dengan pilihan untuk mendengarkannya di aplikasi Storyteller gratis.
A teenager resents the companion robot that now manages her grandmother's daily routine, until she realizes what it can and cannot actually replace.
Itu cuplikannya! Dengarkan cerita lengkapnya di aplikasi Storyteller gratis. Unduh aplikasi
Audio belum tersedia saat ini.
Iris had been the one who taught her grandmother gin rummy, years ago, at a kitchen table that still had the same water ring on it from a glass neither of them ever moved. So it was strange, walking in on a Wednesday, to find her grandmother already midway through a hand. There was no deck spread across the table — just a low, cylindrical unit on the counter, reading the cards aloud in a voice calibrated to be pleasant without being anything close to human.
Iris-lah yang mengajari neneknya bermain gin rummy, bertahun-tahun lalu, di meja dapur yang masih menyimpan bekas lingkaran air dari gelas yang tak pernah dipindahkan siapa pun di antara mereka. Maka terasa aneh, saat masuk pada suatu hari Rabu, mendapati neneknya sudah di tengah satu permainan. Tak ada setumpuk kartu terhampar di meja, hanya sebuah unit rendah berbentuk silinder di atas meja dapur, yang membacakan kartu dengan suara yang dikalibrasi agar menyenangkan tanpa sedikit pun mendekati suara manusia.
"Elm's learning my tells," her grandmother said, delighted, not looking up. "It says I always discard the same suit when I'm bluffing."
"Elm sedang mempelajari kebiasaanku," kata neneknya dengan gembira, tanpa menoleh. "Katanya aku selalu membuang kartu dari jenis yang sama kalau sedang menggertak."
Iris sat down anyway and waited for the hand to finish. She said nothing about how odd it felt to watch a machine notice something about her grandmother that had taken Iris herself twelve years to learn.
Iris tetap duduk dan menunggu permainan itu selesai. Ia tak mengatakan apa-apa tentang betapa anehnya melihat sebuah mesin menyadari sesuatu tentang neneknya yang butuh dua belas tahun baginya untuk mempelajarinya sendiri.
It got worse before it got better. Elm reminded Beatrix to take her medication at the same hour every day, a task Iris's mother had managed inconsistently by phone for a year before the unit arrived. It also told the same three stories about a garden that no longer existed. Iris had grown up hearing those stories directly from her grandmother's own mouth. Now she heard them secondhand, filtered through a device that got the ending slightly wrong every time. Had Elm never arrived, Iris suspected, the medication would still be slipping through some week or another, her mother's rushed phone calls no real substitute for a machine that simply never forgot. That thought didn't make the counter unit any easier to sit next to. By the third visit, Iris had stopped bringing cards at all. Her theory — never stated aloud, barely admitted to herself — was that there was no longer any role for her to play that the counter unit couldn't play better.
Keadaannya memburuk sebelum membaik. Elm mengingatkan Beatrix untuk minum obat pada jam yang sama setiap hari, tugas yang selama setahun sebelum unit itu datang dilakukan ibu Iris secara tak konsisten lewat telepon. Elm juga menceritakan tiga kisah yang sama tentang sebuah kebun yang tak lagi ada. Iris tumbuh dengan mendengar kisah-kisah itu langsung dari mulut neneknya sendiri. Kini ia mendengarnya dari tangan kedua, disaring lewat sebuah perangkat yang selalu salah sedikit di bagian akhirnya. Seandainya Elm tak pernah datang, Iris menduga, obat itu masih akan terlewat di salah satu minggu, telepon ibunya yang terburu-buru bukan pengganti sungguhan bagi mesin yang sama sekali tak pernah lupa. Pikiran itu tak membuat unit di meja dapur itu lebih mudah didampingi. Pada kunjungan ketiga, Iris berhenti membawa kartu sama sekali. Teorinya, yang tak pernah diucapkan keras-keras dan nyaris tak diakuinya kepada diri sendiri, adalah bahwa tak ada lagi peran yang bisa ia mainkan yang tak bisa dimainkan lebih baik oleh unit di meja dapur itu.
What finally cracked that theory open was something her grandmother said almost in passing, folding laundry while Elm charged quietly in the corner. "It's good company," she said, "but it doesn't know why I like the garden story. It just knows I like it." She looked up. "You're the only one left who knows why."
Yang akhirnya membongkar teori itu adalah sesuatu yang diucapkan neneknya hampir sambil lalu, saat melipat cucian sementara Elm mengisi daya dengan tenang di sudut. "Dia teman yang baik," katanya, "tapi dia tidak tahu kenapa aku suka cerita kebun itu. Dia hanya tahu aku menyukainya." Neneknya mendongak. "Kamu satu-satunya yang tersisa yang tahu kenapa."
Iris hadn't considered, until that moment, that competence and meaning might not be the same currency at all. A machine could handle the schedule, the medication, the reliable hour-by-hour presence her own life left too little room for. It could do all of that without ever once touching the part of the relationship that had actually mattered to either of them. Rarely had a single sentence rearranged so much so quickly.
Iris tak pernah mempertimbangkan, sampai saat itu, bahwa kecakapan dan makna mungkin sama sekali bukan mata uang yang sama. Sebuah mesin bisa menangani jadwal, obat, kehadiran yang bisa diandalkan jam demi jam, yang hidupnya sendiri terlalu sempit untuk memberinya ruang. Mesin itu bisa melakukan semuanya tanpa sekali pun menyentuh bagian hubungan yang benar-benar penting bagi mereka berdua. Jarang sebuah kalimat menata ulang begitu banyak hal secepat itu.
She didn't stop noticing Elm after that, and she didn't pretend to love it. But the next week she brought the cards back, dealt her grandmother's hand herself, and let the unit sit there quietly logging tells it would never fully understand the meaning of. When her grandmother reached for the garden story that evening, Iris let her finish it, and then, for the first time in weeks, added the ending herself.
Setelah itu ia tak berhenti memperhatikan Elm, dan tak berpura-pura menyukainya. Tetapi minggu berikutnya ia membawa kartu itu kembali, membagikan kartu neneknya sendiri, dan membiarkan unit itu duduk di sana dengan tenang mencatat kebiasaan yang tak akan pernah sepenuhnya dipahami maknanya. Ketika neneknya meraih cerita kebun malam itu, Iris membiarkannya menyelesaikannya, lalu, untuk pertama kalinya dalam berminggu-minggu, ia menambahkan akhir ceritanya sendiri.






