The Old Dame and Her Hen
A free B1-level English story for language learners, readable online in 7 languages, with an option to listen via the free Storyteller app.
When her precious hen vanishes into a crack in the hillside, a poor widow sends her three daughters down after it one by one — only the boldest knows how to outwit the Man o' the Hill who lives below.
Once on a time there was an old widow who lived far away from the rest of the world, up under a hillside, with her three daughters. She was so poor that she had no stock but one single hen, which she prized as the apple of her eye; in short, it was always cackling at her heels, and she was always running to look after it. Well! one day, all at once, the hen was missing. The old wife went out, and round and round the cottage, looking and calling for her hen, but it was gone, and there was no getting it back.
Pada suatu masa hiduplah seorang janda tua yang tinggal jauh dari dunia lainnya, di lereng sebuah bukit, bersama ketiga putrinya. Ia begitu miskin sehingga tak punya ternak apa pun selain seekor ayam betina, yang ia hargai bagaikan biji matanya sendiri; singkatnya, ayam itu selalu berkotek mengekorinya, dan ia selalu berlari mengurusnya. Nah! suatu hari, tiba-tiba saja, ayam itu hilang. Sang nenek tua keluar, dan berputar-putar mengelilingi pondoknya, mencari dan memanggil-manggil ayamnya, tetapi ayam itu lenyap, dan tak ada cara mendapatkannya kembali.
So the woman said to her eldest daughter, “You must just go out and see if you can find our hen, for have it back we must, even if we have to fetch it out of the hill.”
Maka wanita itu berkata kepada putri sulungnya, "Kau harus pergi dan mencari tahu apakah kau bisa menemukan ayam kita, sebab kita harus mendapatkannya kembali, bahkan jika kita harus mengambilnya dari dalam bukit."
Well! the daughter was ready enough to go, so she set off and walked up and down, and looked and called, but no hen could she find. But all at once, just as she was about to give up the hunt, she heard some one calling out in a cleft in the rock:
Nah! putri sulung itu cukup bersedia untuk pergi, maka ia berangkat dan berjalan naik turun, mencari dan memanggil-manggil, tetapi tak ada ayam yang bisa ia temukan. Namun tiba-tiba, tepat ketika ia hendak menyerah mencari, ia mendengar seseorang berseru dari sebuah celah di batu:
Your hen trips inside the hill! Your hen trips inside the hill!
Ayammu berlarian di dalam bukit! Ayammu berlarian di dalam bukit!
So she went into the cleft to see what it was, but she had scarce set her foot inside the cleft, before she fell through a trap-door, deep, deep down, into a vault under ground. When she got to the bottom she went through many rooms, each finer than the other; but in the innermost room of all, a great ugly man of the hill-folk came up to her and asked, “Will you be my sweetheart?”
Maka ia masuk ke celah itu untuk melihat apa itu, tetapi ia baru saja menjejakkan kakinya di dalam celah itu, ketika ia jatuh melalui sebuah pintu jebakan, dalam, dalam sekali, ke sebuah ruang bawah tanah. Ketika ia sampai di dasar ia melewati banyak ruangan, masing-masing lebih indah dari yang lain; tetapi di ruangan paling dalam dari semuanya, seorang lelaki besar dan buruk rupa dari kaum bukit mendekatinya dan bertanya, "Maukah kau menjadi kekasihku?"
“No! I will not”, she said. She wouldn’t have him at any price! not she; all she wanted was to get above ground again as fast as ever she could, and to look after her hen which was lost. Then the Man o’ the Hill got so angry that he took her up and wrung her head off, and threw both head and trunk down into the cellar.
"Tidak! aku tak mau," katanya. Ia sama sekali tak menginginkannya! sungguh tidak; yang ia inginkan hanyalah kembali ke atas tanah secepat mungkin, dan mencari ayamnya yang hilang. Maka si Lelaki Bukit menjadi begitu marah sehingga ia mengangkatnya dan memuntir kepalanya sampai putus, lalu melemparkan kepala dan tubuhnya ke dalam gudang bawah tanah.
While this was going on, her mother sat at home waiting and waiting, but no daughter came. So after she had waited a bit longer, and neither heard nor saw anything of her daughter, she said to her midmost daughter, that she must go out and see after her sister, and she added:
Sementara ini terjadi, sang ibu duduk di rumah menunggu dan menunggu, tetapi tak ada putrinya yang pulang. Maka setelah ia menunggu sedikit lebih lama, dan tak mendengar maupun melihat apa pun dari putrinya, ia berkata kepada putri tengahnya, bahwa ia harus pergi mencari kakaknya, dan ia menambahkan:
“You can just give our hen a call at the same time.”
"Kau bisa sekalian memanggil ayam kita."
Well! the second sister had to get off, and the very same thing befell her; she went about looking and calling, and all at once she too heard a voice away in the cleft of the rock saying:
Nah! putri kedua pun harus berangkat, dan hal yang sama persis menimpanya; ia berjalan mencari dan memanggil-manggil, dan tiba-tiba ia juga mendengar sebuah suara jauh di celah batu itu berkata:
Your hen trips inside the hill! Your hen trips inside the hill!
Ayammu berlarian di dalam bukit! Ayammu berlarian di dalam bukit!
She thought this strange, and went to see what it could be; and so she too fell through the trap-door, deep, deep down, into the vault. There she went from room to room, and in the innermost one the Man o’ the Hill came to her and asked if she would be his sweetheart? No! that she wouldn’t; all she wanted was to get above ground again, and hunt for her hen which was lost. So the Man o’ the Hill got angry, and took her up and wrung her head off, and threw both head and trunk down into the cellar.
Ia merasa ini aneh, dan pergi melihat apa itu; dan begitulah ia pun jatuh melalui pintu jebakan itu, dalam, dalam sekali, ke ruang bawah tanah itu. Di sana ia berjalan dari ruangan ke ruangan, dan di ruangan paling dalam si Lelaki Bukit mendatanginya dan bertanya apakah ia mau menjadi kekasihnya? Tidak! ia sama sekali tak mau; yang ia inginkan hanyalah kembali ke atas tanah, dan mencari ayamnya yang hilang. Maka si Lelaki Bukit menjadi marah, dan mengangkatnya dan memuntir kepalanya sampai putus, lalu melemparkan kepala dan tubuhnya ke dalam gudang bawah tanah.
Now, when the old dame had sat and waited seven lengths and seven breadths for her second daughter, and could neither see nor hear anything of her, she said to the youngest:
Kini, ketika sang nenek tua telah duduk dan menunggu tujuh kali panjang dan tujuh kali lebar untuk putri keduanya, dan tak bisa melihat maupun mendengar apa pun darinya, ia berkata kepada si bungsu:
“Now, you really must set off and see after your sisters. ’Twas silly to lose the hen, but ’twill be sillier still if we lose both your sisters; and you can give the hen a call at the same time”—for the old dame’s heart was still set on her hen.
"Sekarang, kau benar-benar harus berangkat dan mencari kakak-kakakmu. Sungguh bodoh kehilangan ayam itu, tetapi akan lebih bodoh lagi jika kita kehilangan kedua kakakmu; dan kau bisa sekalian memanggil ayam itu"—sebab hati sang nenek tua masih tertuju pada ayamnya.
Yes! the youngest was ready enough to go; so she walked up and down, Wanting for her sisters and calling the hen, but she could neither see nor hear anything of them. So at last she too came up to the cleft in the rock, and heard how something said:
Ya! si bungsu cukup bersedia untuk pergi; maka ia berjalan naik turun, mencari kakak-kakaknya dan memanggil ayam itu, tetapi ia tak bisa melihat maupun mendengar apa pun dari mereka. Maka akhirnya ia juga tiba di celah batu itu, dan mendengar sesuatu berkata:
Your hen trips inside the hill! Your hen trips inside the hill!
Ayammu berlarian di dalam bukit! Ayammu berlarian di dalam bukit!
She thought this strange, so she too went to see what it was, and fell through the trap-door too, deep, deep down, into a vault. When she reached the bottom she went from one room to another, each grander than the other; but she wasn’t at all afraid, and took good time to look about her. So, as she was peeping into this and that, she cast her eye on the trap-door into the cellar, and looked down it, and what should she see there but her sisters, who lay dead. She had scarce time to slam to the trap-door before the Man o’ the Hill came to her and asked:
Ia merasa ini aneh, jadi ia juga pergi melihat apa itu, dan jatuh melalui pintu jebakan itu juga, dalam, dalam sekali, ke sebuah ruang bawah tanah. Ketika ia mencapai dasar ia berjalan dari satu ruangan ke ruangan lain, masing-masing lebih megah dari yang lain; tetapi ia sama sekali tak takut, dan mengambil waktu yang cukup untuk mengamati sekelilingnya. Maka, sambil mengintip ke sana kemari, ia melirik pintu jebakan menuju gudang bawah tanah, dan menatap ke bawahnya, dan apa yang ia lihat di sana selain kakak-kakaknya, yang tergeletak mati. Ia baru sempat membanting pintu jebakan itu sebelum si Lelaki Bukit mendatanginya dan bertanya:
“Will you be my sweetheart?”
"Maukah kau menjadi kekasihku?"
“With all my heart”, answered the girl, for she saw very well how it had gone with her sisters. So, when the Man o’ the Hill heard that, he got her the finest clothes in the world; she had only to ask for them, or for anything else she had a mind to, and she got what she wanted, so glad was the Man o’ the Hill that any one would be his sweetheart.
"Dengan segenap hatiku," jawab gadis itu, sebab ia melihat dengan jelas apa yang terjadi pada kakak-kakaknya. Maka, ketika si Lelaki Bukit mendengar itu, ia memberinya pakaian terbaik di dunia; ia hanya perlu memintanya, atau apa pun lain yang ia inginkan, dan ia mendapatkan apa yang ia mau, saking senangnya si Lelaki Bukit bahwa ada yang mau menjadi kekasihnya.
But when she had been there a little while, she was one day even more doleful and downcast than was her wont. So the Man o’ the Hill asked her what was the matter, and why she was in such dumps.
Namun ketika ia sudah berada di sana beberapa saat, suatu hari ia bahkan lebih murung dan muram daripada biasanya. Maka si Lelaki Bukit bertanya apa yang terjadi, dan mengapa ia begitu sedih.
“Ah!” said the girl, “it’s because I can’t get home to my mother. She’s hard pinched, I know, for meat and drink, and has no one with her.”
"Ah!" kata gadis itu, "itu karena aku tak bisa pulang ke ibuku. Aku tahu ia sangat kekurangan makanan dan minuman, dan tak ada siapa pun bersamanya."
“Well!” said the Man o’ the Hill, “I can’t let you go to see her; but just stuff some meat and drink into a sack, and I’ll carry it to her.”
"Baiklah!" kata si Lelaki Bukit, "aku tak bisa membiarkanmu pergi menemuinya; tapi masukkan saja sedikit makanan dan minuman ke dalam sebuah karung, dan aku akan membawanya kepadanya."
Yes! she would do so, she said, with many thanks; but at the bottom of the sack she stuffed a lot of gold and silver, and afterwards she laid a little food on the top of the gold and silver. Then she told the ogre the sack was ready, but he must be sure not to look into it. So he gave his word he wouldn’t, and set off. Now, as the Man o’ the Hill walked off, she peeped out after him through a chink in the trap-door; but when he had gone a bit on the way, he said:
Ya! ia akan melakukan itu, katanya, dengan banyak terima kasih; tetapi di dasar karung itu ia memasukkan banyak emas dan perak, dan setelah itu ia meletakkan sedikit makanan di atas emas dan perak itu. Kemudian ia memberitahu raksasa itu karung itu sudah siap, tetapi ia harus benar-benar tak mengintip ke dalamnya. Maka ia berjanji tak akan melakukannya, dan berangkat. Nah, saat si Lelaki Bukit berjalan pergi, gadis itu mengintipnya melalui sebuah celah di pintu jebakan; tetapi ketika ia sudah berjalan agak jauh, ia berkata:
“This sack is so heavy, I’ll just see what there is inside it.”
"Karung ini begitu berat, aku akan lihat saja apa yang ada di dalamnya."
And so he was about to untie the mouth of the sack, but the girl called out to him:
Dan begitulah ia hendak membuka ikatan mulut karung itu, tetapi gadis itu berseru kepadanya:
I see what you’re at! I see what you’re at!
Aku melihat apa yang kau lakukan! Aku melihat apa yang kau lakukan!
“The deuce you do!” said the Man o’ the Hill; “then you must have plaguy sharp eyes in your head, that’s all!”
"Sialan, kau memang bisa!" kata si Lelaki Bukit; "kalau begitu kau pasti punya mata yang sangat tajam di kepalamu, itu saja!"
So he threw the sack over his shoulder, and dared not try to look into it again. When he reached the widow’s cottage, he threw the sack in through the cottage door, and said:
Maka ia melemparkan karung itu ke bahunya, dan tak berani mencoba mengintip ke dalamnya lagi. Ketika ia tiba di pondok sang janda, ia melemparkan karung itu melalui pintu pondok, dan berkata:
“Here you have meat and drink from your daughter; she doesn’t want for anything.”
"Ini makanan dan minuman dari putrimu; ia tak kekurangan apa pun."
So, when the girl had been in the hill a good bit longer, one day a billy-goat fell down the trap-door.
Maka, ketika gadis itu sudah cukup lama berada di dalam bukit, suatu hari seekor kambing jantan jatuh melalui pintu jebakan itu.
“Who sent for you, I should like to know? you long-bearded beast!” said the Man o’ the Hill, who was in an awful rage, and with that he whipped up the goat, and wrung his head off, and threw him down into the cellar.
"Siapa yang memanggilmu, aku ingin tahu? Binatang berjanggut panjang!" kata si Lelaki Bukit, yang sedang murka luar biasa, dan dengan itu ia menyambar kambing itu, dan memuntir kepalanya sampai putus, lalu melemparkannya ke dalam gudang bawah tanah.
“Oh!” said the girl, “why did you do that? I might have had the goat to play with down here.”
"Oh!" kata gadis itu, "mengapa kau melakukan itu? Aku bisa saja bermain dengan kambing itu di sini."
“Well!” said the Man o’ the Hill, “you needn’t be so down in the mouth about it, I should think, for I can soon put life into the billy-goat again.”
"Baiklah!" kata si Lelaki Bukit, "kau tak perlu begitu sedih soal itu, kurasa, sebab aku bisa segera menghidupkan kembali kambing jantan itu."
So saying, he took a flask which hung up against the wall, put the billy-goat’s head on his body again, and smeared it with some ointment out of the flask, and he was as well and as lively as ever again.
Sambil berkata begitu, ia mengambil sebuah botol yang tergantung di dinding, memasang kembali kepala kambing itu ke tubuhnya, dan mengoleskan sedikit salep dari botol itu, dan kambing itu pun kembali sehat dan lincah seperti sebelumnya.
“Ho! ho!” said the girl to herself; “that flask is worth something—that it is.”
"Ho! ho!" kata gadis itu dalam hati; "botol itu berharga sesuatu—memang benar."
So when she had been some time longer in the hill, she watched for a day when the Man o’ the Hill was away, took her eldest sister, and putting her head on her shoulders, smeared her with some of the ointment out of the flask, just as she had seen the Man o’ the Hill do with the billy-goat, and in a trice her sister came to life again. Then the girl stuffed her into a sack, laid a little food over her, and as soon as the Man o’ the Hill came home, she said to him:
Maka ketika ia sudah berada di dalam bukit beberapa waktu lebih lama, ia mengintai sebuah hari ketika si Lelaki Bukit sedang pergi, mengambil kakak sulungnya, dan memasang kepalanya kembali ke bahunya, mengoleskannya dengan sedikit salep dari botol itu, persis seperti yang ia lihat dilakukan si Lelaki Bukit pada kambing jantan itu, dan dalam sekejap kakaknya hidup kembali. Lalu gadis itu memasukkannya ke dalam sebuah karung, meletakkan sedikit makanan di atasnya, dan begitu si Lelaki Bukit pulang, ia berkata kepadanya:
“Dear friend! Now do go home to my mother with a morsel of food again; poor thing! she’s both hungry and thirsty, I’ll be bound; and besides that, she’s all alone in the world. But you must mind and not look into the sack.”
"Sahabatku! Sekarang pergilah pulang ke ibuku dengan sedikit makanan lagi; kasihan! ia pasti lapar dan haus, aku yakin itu; dan lagipula, ia sendirian di dunia ini. Tapi kau harus ingat untuk tak mengintip ke dalam karung itu."
Well! he said he would carry the sack; and he said, too, that he would not look into it; but when he had gone a little way, he thought the sack got awfully heavy; and when he had gone a bit farther he said to himself:
Baiklah! ia bilang ia akan membawa karung itu; dan ia juga bilang, bahwa ia tak akan mengintip ke dalamnya; tetapi ketika ia telah berjalan sedikit jauh, ia merasa karung itu jadi begitu berat; dan ketika ia berjalan sedikit lebih jauh lagi ia berkata dalam hati:
“Come what will, I must see what’s inside this sack, for however sharp her eyes may be, she can’t see me all this way off”
"Apa pun yang terjadi, aku harus melihat apa yang ada di dalam karung ini, sebab betapapun tajamnya matanya, ia tak bisa melihatku sejauh ini"
But just as he was about to untie the sack, the girl who sat inside the sack called out:
Namun tepat ketika ia hendak membuka ikatan karung itu, gadis yang duduk di dalam karung itu berseru:
I see what you’re at! I see what you’re at!
Aku melihat apa yang kau lakukan! Aku melihat apa yang kau lakukan!
“The deuce you do!” said the ogre; “then you must have plaguey sharp eyes”; for he thought all the while it was the girl inside the hill who was speaking. So he didn’t care so much as to peep into the sack again, but carried it straight to her mother as fast as he could, and when he got to the cottage door he threw it in through the door, and bawled out:
"Sialan, kau memang bisa!" kata sang raksasa; "kalau begitu kau pasti punya mata yang sangat tajam"; sebab ia mengira sepanjang waktu bahwa gadis yang di dalam bukit itulah yang sedang berbicara. Maka ia tak peduli lagi untuk mengintip ke dalam karung itu, tetapi membawanya langsung ke ibu gadis itu secepat mungkin, dan ketika ia sampai di pintu pondok itu ia melemparkannya masuk melalui pintu, dan berteriak:
“Here you have meat and drink from your daughter; she wants for nothing.”
"Ini makanan dan minuman dari putrimu; ia tak kekurangan apa pun."
Now, when the girl had been in the hill a while longer, she did the very same thing with her other sister. She put her head on her shoulders, smeared her with ointment out of the flask, brought her to life, and stuffed her into the sack; but this time she crammed in also as much gold and silver as the sack would hold, and over all laid a very little food.
Nah, ketika gadis itu sudah berada di dalam bukit sedikit lebih lama lagi, ia melakukan hal yang persis sama dengan kakaknya yang lain. Ia memasang kepalanya kembali ke bahunya, mengolesinya dengan salep dari botol itu, menghidupkannya kembali, dan memasukkannya ke dalam karung; tetapi kali ini ia juga menjejalkan sebanyak mungkin emas dan perak yang bisa ditampung karung itu, dan di atas semuanya ia meletakkan sedikit sekali makanan.
“Dear friend”, she said to the Man o’ the Hill, “you really must run home to my mother with a little food again; and mind you don’t look into the sack.”
"Sahabatku," katanya kepada si Lelaki Bukit, "kau benar-benar harus segera pulang ke ibuku dengan sedikit makanan lagi; dan ingat jangan mengintip ke dalam karung itu."
Yes! the Man o’ the Hill was ready enough to do as she wished, and he gave his word too that he wouldn’t look into the sack; but when he had gone a bit of the way he began to think the sack got awfully heavy, and when he had gone a bit further, he could scarce stagger along under it, so he set it down, and was just about to untie the string and look into it, when the girl inside the sack bawled out:
Ya! si Lelaki Bukit cukup bersedia untuk melakukan apa yang ia inginkan, dan ia juga berjanji bahwa ia tak akan mengintip ke dalam karung itu; tetapi ketika ia telah berjalan sedikit jauh ia mulai merasa karung itu jadi begitu berat, dan ketika ia berjalan sedikit lebih jauh lagi, ia nyaris tak sanggup melangkah tertatih-tatih di bawah bebannya, jadi ia meletakkannya, dan baru saja hendak membuka tali dan mengintip ke dalamnya, ketika gadis di dalam karung itu berteriak:
I see what you’re at! I see what you’re at!
Aku melihat apa yang kau lakukan! Aku melihat apa yang kau lakukan!
“The deuce you do”, said the Man o’ the Hill, “then you must have plaguey sharp eyes of your own.”
"Sialan, kau memang bisa," kata si Lelaki Bukit, "kalau begitu kau pasti punya matamu sendiri yang sangat tajam."
Well, he dared not try to look into the sack, but made all the haste he could, and carried the sack straight to the girl’s mother. When he got to the cottage door he threw the sack in through the door, and roared out:
Baiklah, ia tak berani mencoba mengintip ke dalam karung itu, tetapi bergegas secepat mungkin, dan membawa karung itu langsung ke ibu gadis itu. Ketika ia sampai di pintu pondok itu ia melemparkan karung itu masuk melalui pintu, dan meraung:
“Here you have food from your daughter; she wants for nothing.”
"Ini makanan dari putrimu; ia tak kekurangan apa pun."
So when the girl had been there a good while longer, the Man o’ the Hill made up his mind to go out for the day; then the girl shammed to be sick and sorry, and pouted and fretted.
Maka ketika gadis itu telah berada di sana cukup lama lagi, si Lelaki Bukit memutuskan untuk pergi seharian; lalu gadis itu berpura-pura sakit dan sedih, dan cemberut serta merajuk.
“It’s no use your coming home before twelve o’clock at night”, she said, “for I shan’t be able to have supper ready before—I’m so sick and poorly.”
"Tak ada gunanya kau pulang sebelum pukul dua belas malam," katanya, "sebab aku tak akan bisa menyiapkan makan malam sebelum itu—aku begitu sakit dan tak enak badan."
But when the Man o’ the Hill was well out of the house, she stuffed some of her clothes with straw, and stuck up this lass of straw in the corner by the chimney, with a besom in her hand, so that it looked just as if she herself were standing there. After that she stole off home, and got a sharp-shooter to stay in the cottage with her mother.
Tetapi begitu si Lelaki Bukit sudah jauh keluar rumah, ia mengisi sebagian pakaiannya dengan jerami, dan menegakkan gadis jerami ini di sudut dekat perapian, dengan sebuah sapu lidi di tangannya, sehingga tampak persis seolah ia sendiri yang berdiri di sana. Setelah itu ia mengendap-endap pulang, dan membawa seorang penembak jitu untuk tinggal di pondok bersama ibunya.
So when the clock struck twelve, or just about it, home came the Man o’ the Hill, and the first thing he said to the straw-girl was, “Give me something to eat.”
Maka ketika jam berdentang dua belas, atau kira-kira begitu, pulanglah si Lelaki Bukit, dan hal pertama yang ia katakan kepada si gadis jerami itu adalah, "Berikan aku sesuatu untuk dimakan."
But she answered him never a word.
Tetapi gadis itu tak menjawabnya sepatah kata pun.
“Give me something to eat, I say!” called out the Man o’ the Hill, “for I am almost starved.”
"Berikan aku sesuatu untuk dimakan, kubilang!" seru si Lelaki Bukit, "sebab aku hampir kelaparan."
No! she hadn’t a word to throw at him.
Tidak! ia tak punya sepatah kata pun untuk dilontarkan padanya.
“Give me something to eat!” roared out the ogre the third time.” I think you’d better open your ears and hear what I say, or else I’ll wake you up, that I will!”
"Berikan aku sesuatu untuk dimakan!" raung sang raksasa untuk ketiga kalinya. "Kurasa lebih baik kau buka telingamu dan dengarkan apa yang kukatakan, atau kalau tidak aku akan membangunkanmu, sungguh akan kulakukan!"
No! the girl stood just as still as ever; so he flew into a rage, and gave her such a slap in the face, that the straw flew all about the room; but when he saw that, he knew he had been tricked, and began to hunt everywhere; and at last, when he came to the cellar, and found both the girl’s sisters missing, he soon saw how the cat jumped, and ran off to the cottage, saying, “I’ll soon pay her off!”
Tidak! gadis itu tetap berdiri diam saja seperti biasa; maka ia pun mengamuk, dan menampar wajahnya begitu keras, sehingga jerami beterbangan ke seluruh ruangan; tetapi ketika ia melihat itu, ia tahu ia telah ditipu, dan mulai mencari ke mana-mana; dan akhirnya, ketika ia sampai di gudang bawah tanah, dan mendapati kedua kakak gadis itu hilang, ia segera tahu bagaimana keadaannya, dan berlari ke pondok itu, sambil berkata, "Akan segera kubalas dia!"
But when he reached the cottage, the sharp-shooter fired off his piece, and then the Man o’ the Hill dared not go into the house, for he thought it was thunder. So he set off home again as fast as he could lay legs to the ground; but what do you think, just as he got to the trap-door, the sun rose and the Man o’ the Hill burst.
Tetapi ketika ia sampai di pondok itu, sang penembak jitu menembakkan senjatanya, dan si Lelaki Bukit tak berani masuk ke rumah itu, sebab ia mengira itu adalah petir. Maka ia berangkat pulang lagi secepat kakinya bisa membawanya; tetapi coba tebak apa yang terjadi, tepat ketika ia sampai di pintu jebakan itu, matahari terbit dan si Lelaki Bukit pun meledak.
Oh! if one only knew where the trap-door was, I’ll be bound there’s a whole heap of gold and silver down there still!
Oh! andai saja seseorang tahu di mana pintu jebakan itu berada, aku yakin masih ada segunung emas dan perak di sana!