Tatterhood
A free B1-level English story for language learners, readable online in 7 languages, with an option to listen via the free Storyteller app.
Born wild and unlovely while her twin is born beautiful, Tatterhood rides a goat and swings a wooden spoon — and she is the only one brave enough to face the witches who attack on Christmas Eve.
Once on a time there was a king and a queen who had no children, and that gave the queen much grief; she scarce had one happy hour. She was always bewailing and bemoaning herself, and saying how dull and lonesome it was in the palace.
Pada suatu masa hiduplah seorang raja dan seorang ratu yang tak memiliki anak, dan itu membuat sang ratu sangat sedih; ia hampir tak pernah merasakan satu jam pun kebahagiaan. Ia selalu meratap dan mengeluh, dan berkata betapa hampa dan sepinya istana itu.
“If we had children there’d be life enough”, she said.
"Kalau kami punya anak pasti akan ada kehidupan yang cukup," katanya.
Wherever she went in all her realm she found God’s blessing in children, even in the vilest hut; and wherever she came she heard the Goodies scolding the bairns, and saying how they had done that and that wrong. All this the queen heard, and thought it would be so nice to do as other women did. At last the king and queen took into their palace a stranger lassie to rear up, that they might have her always with them, to love her if she did well, and scold her if she did wrong, like their own child.
Ke mana pun ia pergi di seluruh kerajaannya ia menemukan berkat Tuhan dalam wujud anak-anak, bahkan di gubuk paling hina sekalipun; dan ke mana pun ia datang ia mendengar para ibu memarahi anak-anak mereka, dan berkata bagaimana mereka telah melakukan ini dan itu dengan salah. Semua ini didengar sang ratu, dan ia pikir alangkah baiknya jika ia bisa melakukan seperti yang dilakukan wanita-wanita lain. Akhirnya sang raja dan ratu mengambil ke dalam istana mereka seorang gadis kecil asing untuk dibesarkan, agar mereka bisa selalu memilikinya bersama mereka, untuk mencintainya jika ia berbuat baik, dan memarahinya jika ia berbuat salah, seperti anak mereka sendiri.
So one day the little lassie whom they had taken as their own, ran down into the palace yard, and was playing with a gold apple. Just then an old beggar wife came by, who had a little girl with her, and it wasn’t long before the little lassie and the beggar’s bairn were great friends, and began to play together, and to toss the gold apple about between them.
Maka suatu hari gadis kecil yang telah mereka ambil sebagai anak mereka sendiri, berlari turun ke halaman istana, dan sedang bermain dengan sebuah apel emas. Tepat saat itu seorang nenek pengemis tua lewat, yang membawa seorang gadis kecil bersamanya, dan tak lama kemudian gadis kecil itu dan anak si pengemis menjadi sahabat karib, dan mulai bermain bersama, dan melempar-lempar apel emas itu di antara mereka.
When the Queen saw this, as she sat at a window in the palace, she tapped on the pane for her foster-daughter to come up. She went at once, but the beggar-girl went up too; and as they went into the Queen’s bower, each held the other by the hand. Then the Queen began to scold the little lady, and to say:
Ketika sang Ratu melihat ini, sementara ia duduk di sebuah jendela di istana, ia mengetuk kaca jendela agar putri angkatnya naik. Ia pun segera naik, tetapi gadis pengemis itu ikut naik juga; dan ketika mereka masuk ke kamar sang Ratu, mereka saling bergandengan tangan. Kemudian sang Ratu mulai memarahi si nona kecil, dan berkata:
“You ought to be above running about and playing with a tattered beggar’s brat.”
"Kau seharusnya tak sudi berlarian dan bermain dengan anak pengemis compang-camping seperti itu."
And so she wanted to drive the lassie downstairs.
Dan begitulah ia hendak mengusir gadis itu turun.
“If the Queen only knew my mother’s power, she’d not drive me out”, said the little lassie; and when the Queen asked what she meant more plainly, she told her how her mother could get her children if she chose. The Queen wouldn’t believe it, but the lassie held her own, and said every word of it was true, and bade the Queen only to try and make her mother do it. So the Queen sent the lassie down to fetch up her mother.
"Andai sang Ratu tahu kekuatan ibuku, ia tak akan mengusirku," kata gadis kecil itu; dan ketika sang Ratu bertanya apa maksudnya lebih jelas, ia memberitahunya bagaimana ibunya bisa memberinya anak-anak jika ia mau. Sang Ratu tak percaya, tetapi gadis itu bersikeras, dan berkata setiap kata yang ia ucapkan itu benar, dan meminta sang Ratu untuk mencoba dan menyuruh ibunya melakukannya. Maka sang Ratu mengirim gadis itu turun untuk memanggil ibunya naik.
“Do you know what your daughter says?” asked the Queen of the old woman, as soon as ever she came into the room.
"Tahukah kau apa yang dikatakan putrimu?" tanya sang Ratu kepada wanita tua itu, begitu ia masuk ke ruangan.
No; the beggar wife knew nothing about it.
Tidak; sang nenek pengemis tak tahu apa-apa soal itu.
“Well, she says you can get me children if you will”, answered the Queen.
"Nah, ia bilang kau bisa memberiku anak-anak jika kau mau," jawab sang Ratu.
“Queens shouldn’t listen to beggar lassies’ silly stories”, said the old wife, and strode out of the room.
"Para ratu seharusnya tak mendengarkan cerita konyol anak-anak pengemis," kata wanita tua itu, dan melangkah keluar ruangan.
Then the Queen got angry, and wanted again to drive out the little lassie; but she declared it was true every word that she had said.
Kemudian sang Ratu menjadi marah, dan hendak kembali mengusir gadis kecil itu; tetapi ia bersikeras bahwa setiap kata yang ia katakan itu benar.
“Let the Queen only give my mother a drop to drink,” said the lassie; “when she gets merry she’ll soon find out a way to help you.”
"Biarkan sang Ratu memberi ibuku setetes minuman," kata gadis itu; "ketika ia bergembira ia pasti akan segera menemukan cara untuk membantu Anda."
The Queen was ready to try this; so the beggar wife was fetched up again once more, and treated both with wine and mead as much as she chose; and so it was not long before her tongue began to wag. Then the Queen came out again with the same question she had asked before.
Sang Ratu bersedia mencoba ini; maka nenek pengemis itu dipanggil naik sekali lagi, dan dijamu dengan anggur dan madu sepuasnya; dan tak lama kemudian lidahnya pun mulai lancar bicara. Kemudian sang Ratu kembali mengajukan pertanyaan yang sama yang ia tanyakan sebelumnya.
“One way to help you perhaps I know”, said the beggar wife. “Your Majesty must make them bring in two pails of water some evening before you go to bed. In each of them you must wash yourself, and afterwards throw away the water under the bed. When you look under the bed next morning, two flowers will have sprung up, one fair and one ugly. The fair one you must eat, the ugly one you must let stand; but mind you don’t forget the last.”
"Mungkin aku tahu satu cara untuk membantumu," kata nenek pengemis itu. "Yang Mulia harus menyuruh mereka membawakan dua ember air suatu malam sebelum Anda tidur. Di masing-masing ember itu Anda harus mencuci diri, dan setelah itu buanglah air itu di bawah ranjang. Ketika Anda melihat di bawah ranjang keesokan paginya, dua bunga akan tumbuh, satu indah dan satu buruk rupa. Yang indah harus Anda makan, yang buruk rupa harus Anda biarkan saja; tapi ingat jangan lupakan yang terakhir itu."
That was what the beggar wife said.
Begitulah yang dikatakan nenek pengemis itu.
Yes; the Queen did what the beggar wife advised her to do; she had the water brought up in two pails, washed herself in them, and emptied them under the bed; and lo! when she looked under the bed next morning, there stood two flowers; one was ugly and foul, and had black leaves; but the other was so bright, and fair, and lovely, she had never seen its like; so she ate it up at once. But the pretty flower tasted so sweet, that she couldn’t help herself. She ate the other up too, for, she thought, “it can’t hurt or help one much either way, I’ll be bound”.
Ya; sang Ratu melakukan apa yang disarankan nenek pengemis itu; ia menyuruh membawa air dalam dua ember, mencuci diri di dalamnya, dan mengosongkannya di bawah ranjang; dan lihatlah! ketika ia melihat di bawah ranjang keesokan paginya, di sana berdiri dua bunga; yang satu buruk rupa dan kotor, dan berdaun hitam; tetapi yang lain begitu cerah, indah, dan menawan, ia belum pernah melihat yang serupa; jadi ia langsung memakannya. Tetapi bunga yang cantik itu rasanya begitu manis, sehingga ia tak bisa menahan diri. Ia memakan yang satunya juga, sebab, pikirnya, "itu tak akan terlalu berbahaya atau membantu, aku yakin itu."
Well, sure enough, after a while the Queen was brought to bed. First of all, she had a girl who had a wooden spoon in her hand, and rode upon a goat; loathly and ugly she was, and the very moment she came into the world, she bawled out “Mamma”.
Nah, sungguh benar, setelah beberapa waktu sang Ratu pun melahirkan. Pertama-tama, ia melahirkan seorang gadis yang memegang sebuah sendok kayu di tangannya, dan menunggangi seekor kambing; buruk rupa dan jelek ia, dan begitu ia lahir ke dunia, ia berteriak "Mama".
“If I’m your mamma”, said the Queen, “God give me grace to mend my ways.”
"Jika akulah mamamu," kata sang Ratu, "semoga Tuhan memberiku rahmat untuk memperbaiki caraku."
“Oh, don’t be sorry”, said the girl, who rode on the goat, “for one will soon come after me who is better looking.”
"Oh, jangan sedih," kata gadis yang menunggangi kambing itu, "sebab akan segera datang yang lain setelahku yang lebih rupawan."
So, after a while, the Queen had another girl, who was so fair and sweet, no one had ever set eyes on such a lovely child, and with her you may fancy the Queen was very well pleased. The elder twin they called “Tatterhood”, because she was always so ugly and ragged, and because she had a hood which hung about her ears in tatters. The Queen could scarce bear to look at her, and the nurses tried to shut her up in a room by herself, but it was all no good; where the younger twin was, there she must also be, and no one could ever keep them apart.
Maka, setelah beberapa waktu, sang Ratu melahirkan seorang gadis lain, yang begitu indah dan manis, tak seorang pun pernah melihat anak secantik itu, dan dengan dia kau bisa bayangkan betapa senangnya sang Ratu. Si kembar yang lebih tua mereka panggil "Tatterhood", karena ia selalu begitu buruk rupa dan compang-camping, dan karena ia memiliki sebuah tudung yang tergantung compang-camping di sekitar telinganya. Sang Ratu hampir tak sanggup memandangnya, dan para pengasuh mencoba mengurungnya di sebuah kamar sendirian, tetapi semua itu sia-sia; di mana pun si kembar yang lebih muda berada, di situ pula ia harus berada, dan tak seorang pun bisa memisahkan mereka.
Well, one Christmas eve, when they were half grown up, there rose such a frightful noise and clatter in the gallery outside the Queen’s bower. So Tatterhood asked what it was that dashed and crashed so out in the passage.
Nah, suatu malam Natal, ketika mereka sudah setengah dewasa, terdengar suara gaduh dan gemuruh yang menakutkan di lorong luar kamar sang Ratu. Maka Tatterhood bertanya apa yang bergemuruh dan berdentam-dentam seperti itu di luar lorong.
“Oh!” said the Queen, “it isn’t worth asking about.”
"Oh!" kata sang Ratu, "itu tak layak ditanyakan."
But Tatterhood wouldn’t give over till she found out all about it and so the Queen told her it was a pack of Trolls and witches who had come there to keep Christmas. So Tatterhood said she’d just go out and drive them away; and in spite of all they could say, and however much they begged and prayed her to let the Trolls alone, she must and would go out to drive the witches off; but she begged the Queen to mind and keep all the doors close shut, so that not one of them came so much as the least bit ajar.
Tetapi Tatterhood tak mau menyerah sampai ia mengetahui semuanya dan akhirnya sang Ratu memberitahunya bahwa itu sekumpulan Troll dan penyihir yang datang untuk merayakan Natal di sana. Maka Tatterhood berkata ia akan pergi keluar dan mengusir mereka; dan meski mereka semua mencoba melarangnya, dan betapa pun kerasnya mereka memohon dan berdoa agar ia membiarkan para Troll itu saja, ia harus dan akan pergi keluar untuk mengusir para penyihir itu; tetapi ia meminta sang Ratu untuk ingat menjaga semua pintu tertutup rapat, sehingga tak satu pun dari mereka terbuka bahkan sedikit pun.
Having said this, off she went with her wooden spoon, and began to hunt and sweep away the hags; and all this while there was such a pother out in the gallery, the like of it was never heard. The whole Palace creaked and groaned as if every joint and beam were going to be torn out of its place.
Setelah mengatakan ini, pergilah ia dengan sendok kayunya, dan mulai memburu dan menyapu bersih para nenek sihir itu; dan sepanjang waktu ini terdengar kegaduhan luar biasa di lorong itu, seperti yang belum pernah didengar sebelumnya. Seluruh istana berderak dan mengerang seolah setiap sendi dan balok akan tercerabut dari tempatnya.
Now, how it was, I’m sure I can’t tell; but somehow or other one door did get the least bit ajar, then her twin sister just peeped out to see how things were going with Tatterhood, and put her head a tiny bit through the opening. But, POP! up came an old witch, and whipped off her head, and stuck a calf’s head on her shoulders instead; and so the Princess ran back into the room on all-fours, and began to “moo” like a calf.
Nah, bagaimana itu bisa terjadi, aku sungguh tak bisa menjelaskan; tetapi entah bagaimana satu pintu terbuka sedikit, kemudian si kembar itu mengintip untuk melihat bagaimana keadaan Tatterhood, dan menjulurkan kepalanya sedikit melalui celah itu. Tetapi, TAK! muncullah seorang nenek sihir tua, dan menyambar kepalanya lepas, dan menempelkan kepala seekor anak sapi ke bahunya sebagai gantinya; dan begitulah sang Putri berlari kembali ke ruangan itu merangkak dengan keempat kakinya, dan mulai "melenguh" seperti seekor anak sapi.
When Tatterhood came back and saw her sister, she scolded them all round, and was very angry because they hadn’t kept better watch, and asked them what they thought of their heedlessness now, when her sister was turned into a calf.
Ketika Tatterhood kembali dan melihat saudarinya, ia memarahi mereka semua, dan sangat marah karena mereka tak menjaga dengan lebih baik, dan bertanya kepada mereka apa yang mereka pikirkan tentang kelalaian mereka sekarang, ketika saudarinya telah berubah menjadi seekor anak sapi.
“But still I’ll see if I can’t set her free”, she said.
"Tapi tetap saja aku akan lihat apakah aku bisa membebaskannya," katanya.
Then she asked the King for a ship in full trim, and well fitted with stores; but captain and sailors she wouldn’t have. No; she would sail away with her sister all alone; and as there was no holding her back, at last they let her have her own way.
Kemudian ia meminta sang Raja sebuah kapal yang lengkap perlengkapannya, dan dilengkapi baik dengan perbekalan; tetapi kapten dan pelaut ia tak mau. Tidak; ia akan berlayar bersama saudarinya sendirian saja; dan karena tak ada yang bisa menahannya, akhirnya mereka membiarkannya melakukan apa yang ia mau.
Then Tatterhood sailed off, and steered her ship right under the land where the witches dwelt, and when she came to the landing-place, she told her sister to stay quite still on board the ship; but she herself rode on her goat up to the witches’ castle. When she got there, one of the windows in the gallery was open, and there she saw her sister’s head hung up on the window frame; so she leapt her goat through the window into the gallery, snapped up the head, and set off with it.
Kemudian Tatterhood berlayar pergi, dan mengarahkan kapalnya tepat di bawah tanah tempat para penyihir itu tinggal, dan ketika ia sampai di tempat berlabuh, ia menyuruh saudarinya tetap diam saja di atas kapal; tetapi ia sendiri menunggangi kambingnya menuju kastil para penyihir. Ketika ia sampai di sana, salah satu jendela di lorong itu terbuka, dan di sana ia melihat kepala saudarinya tergantung di bingkai jendela; maka ia melompatkan kambingnya melalui jendela masuk ke lorong itu, menyambar kepala itu, dan pergi membawanya.
After her came the witches to try to get the head again, and they flocked about her as thick as a swarm of bees or a nest of ants; but the goat snorted, and puffed, and butted with his horns, and Tatterhood beat and banged them about with her wooden spoon; and so the pack of witches had to give it up. So Tatterhood got back to her ship, took the calf’s head off her sister, and put her own on again, and then she became a girl as she had been before. After that she sailed a long, long way, to a strange king’s realm.
Setelah itu para penyihir mengejarnya untuk mencoba mendapatkan kembali kepala itu, dan mereka mengerumuninya sepadat kawanan lebah atau sarang semut; tetapi sang kambing mendengus, dan menyeruduk dengan tanduknya, dan Tatterhood memukul dan menghantam mereka dengan sendok kayunya; dan begitulah sekumpulan penyihir itu terpaksa menyerah. Maka Tatterhood kembali ke kapalnya, melepas kepala anak sapi dari saudarinya, dan memasang kembali kepalanya sendiri, dan kemudian ia kembali menjadi seorang gadis seperti sebelumnya. Setelah itu ia berlayar jauh sekali, ke kerajaan seorang raja asing.
Now the king of that land was a widower, and had an only son. So when he saw the strange sail, he sent messengers down to the strand to find out whence it came, and who owned it; but when the king’s men came down there, they saw never a living soul on board but Tatterhood, and there she was, riding round and round the deck on her goat at full speed, till her elf locks streamed again in the wind.
Nah, raja negeri itu adalah seorang duda, dan memiliki seorang putra satu-satunya. Maka ketika ia melihat layar asing itu, ia mengirim utusan turun ke pantai untuk mencari tahu dari mana asalnya, dan siapa pemiliknya; tetapi ketika orang-orang raja itu turun ke sana, mereka tak melihat satu pun jiwa hidup di kapal itu selain Tatterhood, dan di sanalah ia, mengendarai kambingnya berputar-putar di geladak dengan kecepatan penuh, sampai rambut peri kusutnya berkibar-kibar tertiup angin.
The folk from the palace were all amazed at this sight, and asked, were there not more on board? Yes, there were; she had a sister with her, said Tatterhood. Her, too, they wanted to see, but Tatterhood said “No”:
Orang-orang dari istana itu semua takjub melihat pemandangan ini, dan bertanya, apakah tak ada lagi orang lain di kapal itu? Ya, ada; ia punya seorang saudari bersamanya, kata Tatterhood. Mereka ingin melihatnya juga, tetapi Tatterhood berkata "Tidak":
“No one shall see her, unless the king comes himself”, she said; and so she began to gallop about on her goat till the deck thundered again.
"Tak seorang pun boleh melihatnya, kecuali sang raja sendiri yang datang," katanya; dan begitulah ia mulai memacu kambingnya berputar-putar sampai geladak itu berdentam kembali.
So when the servants got back to the palace, and told what they had seen and heard down at the ship, the king was for setting out at once, that he might see the lassie that rode on the goat. When he got down, Tatterhood led out her sister, and she was so fair and gentle, the king fell over head and ears in love with her as he stood. He brought them both back with him to the Palace, and wanted to have the sister for his queen; but Tatterhood said “No”; the king couldn’t have her in any way, unless the king’s son chose to have Tatterhood.
Maka ketika para pelayan kembali ke istana, dan menceritakan apa yang telah mereka lihat dan dengar di kapal itu, sang raja bertekad untuk segera berangkat, agar ia bisa melihat gadis yang menunggangi kambing itu. Ketika ia turun ke sana, Tatterhood mengeluarkan saudarinya, dan ia begitu cantik dan lembut, sang raja langsung jatuh cinta setengah mati begitu ia melihatnya. Ia membawa mereka berdua kembali bersamanya ke istana, dan ingin menjadikan saudari itu sebagai ratunya; tetapi Tatterhood berkata "Tidak"; sang raja tak bisa mendapatkannya dengan cara apa pun, kecuali putra sang raja mau menikahi Tatterhood.
That you may fancy the prince was very loath to do, such an ugly hussy as Tatterhood was; but at last the king and all the others in the palace talked him over, and he yielded, giving his word to take her for his queen; but it went sore against the grain, and he was a doleful man.
Kau bisa bayangkan betapa enggannya sang pangeran melakukan itu, mengingat Tatterhood begitu buruk rupa; tetapi akhirnya sang raja dan semua orang lain di istana membujuknya, dan ia pun menyerah, berjanji akan menikahinya sebagai ratunya; tetapi itu sangat bertentangan dengan keinginannya, dan ia adalah lelaki yang sangat murung.
Now they set about the wedding, both with brewing and baking; and when all was ready, they were to go to church; but the prince thought it the weariest churching he had ever had in all his life. First, the king drove off with his bride, and she was so lovely and so grand, all the people stopped to look after her all along the road, and they stared at her till she was out of sight.
Sekarang mereka mulai mempersiapkan pernikahan itu, baik dengan menyeduh minuman maupun memanggang roti; dan ketika semuanya sudah siap, mereka pun berangkat ke gereja; tetapi sang pangeran mengira ini pernikahan gereja yang paling melelahkan yang pernah ia alami seumur hidupnya. Pertama, sang raja berangkat dengan pengantinnya, dan ia begitu indah dan agung, semua orang berhenti untuk memandanginya sepanjang jalan, dan mereka menatapnya sampai ia hilang dari pandangan.
After them came the prince on horseback by the side of Tatterhood, who trotted along on her goat with her wooden spoon in her fist, and to look at him, it was more like going to a burial than a wedding, and that his own; so sorrowful he seemed, and with never a word to say.
Setelah mereka datanglah sang pangeran menunggang kuda di samping Tatterhood, yang berlari-lari kecil di atas kambingnya dengan sendok kayunya di genggamannya, dan melihatnya, itu lebih mirip pergi ke pemakaman daripada pernikahan, apalagi pernikahannya sendiri; begitu murungnya ia tampak, dan tak sepatah kata pun ia ucapkan.
“Why don’t you talk?” asked Tatterhood, when they had ridden a bit.
"Kenapa kau tak bicara?" tanya Tatterhood, ketika mereka sudah berkuda sebentar.
“Why, what should I talk about?” answered the prince.
"Wah, apa yang harus kubicarakan?" jawab sang pangeran.
“Well, you might at least ask me why I ride upon this ugly goat”, said Tatterhood.
"Nah, setidaknya kau bisa bertanya padaku kenapa aku menunggangi kambing buruk rupa ini," kata Tatterhood.
“Why do you ride on that ugly goat?” asked the prince.
"Kenapa kau menunggangi kambing buruk rupa itu?" tanya sang pangeran.
“Is it an ugly goat? why, it’s the grandest horse bride ever rode on”, answered Tatterhood; and in a trice the goat became a horse, and that the finest the prince had ever set eyes on.
"Apakah itu kambing buruk rupa? Wah, itu kuda pengantin termegah yang pernah ditunggangi," jawab Tatterhood; dan seketika kambing itu berubah menjadi seekor kuda, dan kuda terindah yang pernah dilihat sang pangeran.
Then they rode on again a bit, but the prince was just as woeful as before, and couldn’t get a word out. So Tatterhood asked him again why he didn’t talk, and when the Prince answered he didn’t know what to talk about, she said:
Kemudian mereka berkuda lagi sebentar, tetapi sang pangeran tetap sama sedihnya seperti sebelumnya, dan tak bisa mengeluarkan sepatah kata pun. Maka Tatterhood bertanya lagi kenapa ia tak bicara, dan ketika sang Pangeran menjawab ia tak tahu apa yang harus dibicarakan, ia berkata:
“You can at least ask me why I ride with this ugly spoon in my fist.”
"Setidaknya kau bisa bertanya kenapa aku berkuda dengan sendok buruk rupa ini di genggamanku."
“Why do you ride with that ugly spoon? “asked the prince.
"Kenapa kau berkuda dengan sendok buruk rupa itu?" tanya sang pangeran.
“Is it an ugly spoon? why, it’s the loveliest silver wand bride ever bore”, said Tatterhood; and in a trice it became a silver wand, so dazzling bright, the sunbeams glistened from it.
"Apakah itu sendok buruk rupa? Wah, itu tongkat perak terindah yang pernah dibawa pengantin," kata Tatterhood; dan seketika itu berubah menjadi sebuah tongkat perak, begitu berkilau cerahnya, sinar matahari berkilauan darinya.
So they rode on another bit, but the Prince was just as sorrowful, and said never a word. In a little while, Tatterhood asked him again why he didn’t talk, and bade him ask why she wore that ugly grey hood on her head.
Maka mereka berkuda lagi sebentar, tetapi sang Pangeran tetap sama murungnya, dan tak berkata sepatah kata pun. Sesaat kemudian, Tatterhood bertanya lagi kenapa ia tak bicara, dan menyuruhnya bertanya kenapa ia mengenakan tudung abu-abu buruk rupa itu di kepalanya.
“Why do you wear that ugly grey hood on your head?” asked the Prince.
"Kenapa kau mengenakan tudung abu-abu buruk rupa itu di kepalamu?" tanya sang Pangeran.
“Is it an ugly hood? why, it’s the brightest golden crown bride ever wore”, answered Tatterhood, and it became a crown on the spot.
"Apakah itu tudung buruk rupa? Wah, itu mahkota emas paling berkilau yang pernah dikenakan pengantin," jawab Tatterhood, dan seketika itu juga berubah menjadi sebuah mahkota.
Now, they rode on a long while again, and the Prince was so woeful, that he sat without sound or speech just as before. So his bride asked him again why he didn’t talk, and bade him ask now, why her face was so ugly and ashen-grey?
Nah, mereka berkuda lagi lama sekali, dan sang Pangeran begitu murung, sehingga ia duduk tanpa suara atau kata seperti sebelumnya. Maka pengantinnya bertanya lagi kenapa ia tak bicara, dan menyuruhnya bertanya sekarang, kenapa wajahnya begitu buruk rupa dan pucat keabu-abuan.
“Ah!” asked the Prince, “why is your face so ugly and ashen-grey?”
"Ah!" tanya sang Pangeran, "kenapa wajahmu begitu buruk rupa dan pucat keabu-abuan?"
“I ugly”, said the bride; “you think my sister pretty, but I am ten times prettier”; and lo! when the Prince looked at her, she was so lovely, he thought there never was so lovely a woman in all the world. After that, I shouldn’t wonder if the Prince found his tongue, and no longer rode along hanging down his head.
"Aku buruk rupa," kata pengantin itu; "kau pikir saudariku cantik, tapi aku sepuluh kali lebih cantik"; dan lihatlah! ketika sang Pangeran menatapnya, ia begitu indah, sampai ia pikir tak pernah ada wanita seindah itu di seluruh dunia. Setelah itu, aku tak akan heran jika sang Pangeran menemukan kembali suaranya, dan tak lagi berkuda sambil menundukkan kepalanya.
So they drank the bridal cup both deep and long, and, after that, both Prince and King set out with their brides to the Princess’s father’s palace, and there they had another bridal feast, and drank anew, both deep and long. There was no end to the fun; and, if you make haste and run to the King’s palace, I dare say you’ll find there’s still a drop of the bridal ale left for you.
Maka mereka pun minum piala pengantin dalam-dalam dan lama, dan, setelah itu, baik sang Pangeran maupun sang Raja berangkat bersama para pengantin mereka menuju istana ayah sang Putri, dan di sana mereka mengadakan pesta pernikahan lainnya, dan minum lagi, dalam-dalam dan lama. Tak ada habisnya kesenangan itu; dan, jika kau bergegas dan berlari ke istana Sang Raja, aku berani bilang kau akan menemukan masih ada setetes bir pengantin yang tersisa untukmu.