Storyteller

The Three Little Pigs (Pyle retelling)

A free A1-level English story for language learners, readable online in 7 languages, with an option to listen via the free Storyteller app.

Level
A1
Genres
fable, fairy-tale
Reading time
12 min
Languages available
EN, VI, ES, ZH, PT, HI, ID
The Three Little Pigs (Pyle retelling) cover

Three little pigs leave home to build their own houses — and only one of them is wise enough to outsmart the hungry wolf at the door.

A mother pig and her three little pigs lived together in a wood very happily all through the long summertime, but towards autumn the mother pig called her little ones to her and said, “My dear little pigs, the time has come for you to go out into the world and seek your own fortunes.

Seekor induk babi dan ketiga anak babinya tinggal bersama di hutan dengan sangat bahagia sepanjang musim panas yang panjang, tetapi menjelang musim gugur induk babi itu memanggil anak-anaknya mendekatinya dan berkata, "Anak-anakku sayang, sudah tiba waktunya bagi kalian untuk pergi ke dunia luar dan mencari peruntungan kalian sendiri.

You will each want to build a little house to live in, but do not build them of straw or leaves; straws are brittle and leaves are frail. Build your houses of bricks, for then you will always have a safe place to live in; you can go in and lock the door, and nothing can harm you.” She then bade the little pigs farewell, and away they ran out into the world to make their fortunes.

Kalian masing-masing akan perlu membangun sebuah rumah kecil untuk ditinggali, tetapi jangan membangunnya dari jerami atau daun-daun; jerami mudah patah dan daun-daun rapuh. Bangunlah rumah kalian dari bata, sebab dengan begitu kalian akan selalu punya tempat tinggal yang aman; kalian bisa masuk dan mengunci pintu, dan tak ada yang bisa mencelakai kalian." Kemudian ia mengucapkan selamat tinggal kepada anak-anak babi itu, dan pergilah mereka berlari ke dunia luar untuk mencari peruntungan mereka.

The first little pig had not gone far when he met a man with a load of straw. The straw looked so warm, and smelled so good that the little pig quite forgot what his mother had told him.

Anak babi pertama belum jauh berjalan ketika ia bertemu seorang pria membawa muatan jerami. Jerami itu tampak begitu hangat, dan berbau begitu enak sehingga anak babi itu sama sekali lupa akan apa yang telah dikatakan ibunya.

“Please, Mr. Man,” said the little pig, “give me enough straw to build a house to keep me warm through the long winter.”

"Tolonglah, Tuan," kata anak babi itu, "berikan aku cukup jerami untuk membangun sebuah rumah agar aku tetap hangat sepanjang musim dingin yang panjang."

The man did not say no. He gave the little pig all the straw he wanted, and then he drove on.

Pria itu tidak menolak. Ia memberikan anak babi itu semua jerami yang diinginkannya, lalu ia melanjutkan perjalanannya.

The little pig built himself a house of straw, and it was so warm and cosy that he was quite delighted with it. “How much better,” said he “than a house of cold hard bricks.”

Anak babi itu membangun sebuah rumah dari jerami untuk dirinya sendiri, dan rumah itu begitu hangat dan nyaman sehingga ia sangat senang dengannya. "Betapa jauh lebih baik," katanya, "daripada rumah dari bata yang dingin dan keras."

So he lay there snug and warm, and presently the old wolf knocked at the door.

Maka ia berbaring di sana dengan nyaman dan hangat, dan tak lama kemudian serigala tua itu mengetuk pintu.

“Piggy-wig, piggy-wig, let me in!” he cried.

"Babi kecil, babi kecil, biarkan aku masuk!" serunya.

“I won’t, by the hair on my chinny-chin-chin,” answered the pig.

"Tidak akan, demi bulu di daguku," jawab anak babi itu.

“Then I’ll huff, and I’ll puff, and I’ll blow your house in.”

"Kalau begitu aku akan menghembus, dan aku akan meniup, dan aku akan meruntuhkan rumahmu."

The little pig laughed aloud, for he felt very safe in his snug straw house.

Anak babi itu tertawa keras, sebab ia merasa sangat aman di dalam rumah jeraminya yang nyaman.

“Well, then huff, and then puff, and then blow my house in!” he cried.

"Baiklah, kalau begitu hembuslah, dan tiuplah, dan runtuhkanlah rumahku!" serunya.

Well, the old wolf did huff and puff, and he did blow the house in, for it was only made of straw, and then he ate up the pig.

Nah, serigala tua itu pun menghembus dan meniup, dan ia berhasil meruntuhkan rumah itu, sebab rumah itu hanya terbuat dari jerami, dan kemudian ia memakan habis anak babi itu.

The second little pig when he left the forest ran along and ran along and presently he met a man with a great load of leaves.

Anak babi kedua ketika ia meninggalkan hutan berlari dan berlari terus dan tak lama kemudian ia bertemu seorang pria dengan muatan besar daun-daun.

“Oh, kind Mr. Man, please give me some leaves to build me a little house for the winter time,” cried the piggy.

"Oh, Tuan yang baik hati, tolong berikan aku beberapa daun untuk membangun sebuah rumah kecil bagi musim dingin," seru anak babi itu.

The man was willing to do this. He gave the pig all the leaves he wanted, and then he went on his way.

Pria itu bersedia melakukannya. Ia memberikan anak babi itu semua daun yang diinginkannya, lalu ia melanjutkan perjalanannya.

The pig built himself a house of leaves and it was even snugger and warmer than the straw house had been. “How silly my mother was,” said the pig, “to tell me to build a brick house. What could be warmer and cosier and safer than this.” And he snuggled down among the leaves and was very happy.

Anak babi itu membangun sebuah rumah dari daun-daun untuk dirinya sendiri dan rumah itu bahkan lebih nyaman dan hangat daripada rumah jerami tadi. "Betapa bodohnya ibuku," kata anak babi itu, "menyuruhku membangun rumah dari bata. Apa yang bisa lebih hangat dan nyaman serta aman daripada ini." Dan ia bergelung di antara daun-daun itu dan merasa sangat bahagia.

Presently along came the great wolf, and he stopped and knocked at the door.

Tak lama kemudian datanglah serigala besar itu, dan ia berhenti serta mengetuk pintu.

“Piggy-wig, piggy-wig, let me in!” he cried.

"Babi kecil, babi kecil, biarkan aku masuk!" serunya.

“I won’t, by the hair of my chinny-chin-chin!”

"Tidak akan, demi bulu di daguku!"

“Then I’ll huff, and I’ll puff, and I’ll blow your house in.”

"Kalau begitu aku akan menghembus, dan aku akan meniup, dan aku akan meruntuhkan rumahmu."

The little pig laughed when he heard that, for the walls were thick, and he felt secure.

Anak babi itu tertawa mendengar hal itu, sebab dindingnya tebal, dan ia merasa aman.

“Well, then huff, and then puff, and then blow my house in.”

"Baiklah, kalau begitu hembuslah, dan tiuplah, dan runtuhkanlah rumahku."

So the wolf huffed, and he puffed, and he did blow the house in, and he ate up the little pig that was inside of it.

Maka serigala itu menghembus, dan ia meniup, dan ia berhasil meruntuhkan rumah itu, dan ia memakan habis anak babi kecil yang ada di dalamnya.

Now the third little pig was the smallest pig of all, but he was a very wise little pig, and he meant to do exactly as his mother had told him to do. After he left the forest he met a man driving a wagon-load of straw, but he did not ask for any of it. He met the man with the load of leaves, but he did not ask for any of it. He met a man with a load of bricks, and then he stopped and begged so prettily for enough bricks to build himself a little house that the man could not refuse him.

Nah anak babi ketiga adalah yang terkecil dari semuanya, tetapi ia adalah anak babi kecil yang sangat bijaksana, dan ia bermaksud melakukan persis seperti yang diperintahkan ibunya. Setelah ia meninggalkan hutan ia bertemu seorang pria mengendarai gerobak bermuatan jerami, tetapi ia tidak memintanya sedikit pun. Ia bertemu pria dengan muatan daun-daun, tetapi ia tidak memintanya sedikit pun. Ia bertemu seorang pria dengan muatan bata, dan kemudian ia berhenti dan memohon dengan begitu manis agar diberi cukup bata untuk membangun sebuah rumah kecil untuk dirinya sendiri sehingga pria itu tak bisa menolaknya.

The pig took the bricks and built himself a little red house with them, and it was not an easy task either. When it was done it was not so soft as the little straw house, and it was not so warm as the little leaf house, but it was a very safe little house.

Anak babi itu mengambil bata-bata itu dan membangun sebuah rumah kecil berwarna merah dengannya, dan itu bukanlah pekerjaan yang mudah pula. Ketika selesai, rumah itu tidak selembut rumah jerami kecil itu, dan tidak sehangat rumah daun kecil itu, tetapi itu adalah sebuah rumah kecil yang sangat aman.

Presently the old wolf came along and knocked at the door—rat-tat-tat!

Tak lama kemudian serigala tua itu datang dan mengetuk pintu—tok-tok-tok!

“Piggy-wig, piggy-wig, let me in,” he called.

"Babi kecil, babi kecil, biarkan aku masuk," serunya.

“I won’t, by the hair on my chinny-chin-chin.”

"Tidak akan, demi bulu di daguku."

“Then I’ll huff, and I’ll puff, and I’ll blow your house in.”

"Kalau begitu aku akan menghembus, dan aku akan meniup, dan aku akan meruntuhkan rumahmu."

“Well, then huff, and then puff, and then blow my house in,” answered the pig.

"Baiklah, kalau begitu hembuslah, dan tiuplah, dan runtuhkanlah rumahku," jawab anak babi itu.

So the old wolf huffed and he puffed, and he puffed and he huffed, and he huffed and puffed till he almost split his sides, and he just couldn’t blow the house in, and the little pig laughed to himself as he sat safe and comfortable inside there.

Maka serigala tua itu menghembus dan meniup, dan ia meniup dan menghembus, dan ia menghembus dan meniup sampai ia hampir kehabisan napas, dan ia sama sekali tak bisa meruntuhkan rumah itu, dan anak babi itu tertawa dalam hati sambil duduk aman dan nyaman di dalam sana.

The old wolf saw there was nothing to be done by blowing, so he sat down and thought and thought. Then he said, “Piggy-wig, I know where there is a field of fine turnips.”

Serigala tua itu melihat bahwa tak ada gunanya meniup-niup, jadi ia duduk dan berpikir dan berpikir. Kemudian ia berkata, "Babi kecil, aku tahu di mana ada sebuah ladang lobak yang bagus."

“Where?” asked the little pig.

"Di mana?" tanya anak babi itu.

“Open the door and I will tell you.”

"Bukalah pintunya dan aku akan memberitahumu."

No, the little pig could hear quite well with the door closed.

Tidak, anak babi itu bisa mendengar dengan cukup jelas meski pintu tertutup.

“It is just up the road three fields away,” said the wolf, “and if you would like to have some I will come for you at six o’clock to-morrow morning, and we will go and dig them up together.”

"Tepat di jalan sana, tiga ladang dari sini," kata serigala itu, "dan kalau kau ingin mendapatkan beberapa, aku akan menjemputmu jam enam besok pagi, dan kita akan pergi menggalinya bersama-sama."

“At six o’clock!” said the little pig. “Very well.”

"Jam enam!" kata anak babi itu. "Baiklah."

Then the old wolf trotted off home, licking his lips, and he was well content, for he thought he would have pig for breakfast the next day.

Kemudian serigala tua itu berlari pulang, menjilat bibirnya, dan ia sangat puas, sebab ia mengira ia akan memakan anak babi untuk sarapan keesokan harinya.

But the next morning the little pig was up and astir by five o’clock. Off he trotted to the turnip field and gathered a whole bagful of turnips and was home again before the old wolf thought of coming.

Tetapi keesokan paginya anak babi itu telah bangun dan sibuk pada pukul lima. Ia berlari ke ladang lobak itu dan mengumpulkan sekantong penuh lobak dan sudah pulang lagi sebelum serigala tua itu sempat berangkat.

At six o’clock the old wolf knocked at the door.

Pada jam enam, serigala tua itu mengetuk pintu.

“Are you ready to go for the turnips, Piggy?” he cried.

"Sudah siap pergi mengambil lobak, Babi?" serunya.

“Ready!” answered the pig. “Why I was up and off to the field an hour ago and I have all the turnips I want, and I’m boiling them for breakfast.”

"Sudah siap!" jawab anak babi itu. "Malah aku sudah bangun dan pergi ke ladang satu jam yang lalu dan aku sudah punya semua lobak yang kuinginkan, dan aku sedang merebusnya untuk sarapan."

“That’s what you did!” said the wolf. And then he thought a bit. “Piggy, do you like fine ripe apples?” he asked.

"Jadi begitu yang kaulakukan!" kata serigala itu. Lalu ia berpikir sejenak. "Babi, apakah kau suka apel matang yang enak?" tanyanya.

Yes, the pig was very fond of apples.

Ya, anak babi itu sangat menyukai apel.

“Then I can tell you where to find some.”

"Kalau begitu aku bisa memberitahumu di mana bisa menemukan beberapa."

“Where is that?”

"Di mana itu?"

“Over beyond the hill in the squire’s orchard, and if you will play me no tricks I will come for you at five o’clock to-morrow, and we will go together, and gather some.”

"Di seberang bukit di kebun tuan tanah, dan kalau kau tak mengelabuiku lagi, aku akan menjemputmu jam lima besok, dan kita akan pergi bersama, dan memetik beberapa."

Very well; the pig would be ready.

Baiklah; anak babi itu akan siap.

So the wolf trotted off home, and this time he was very sure that he would have a nice fat little piggy for breakfast the next morning.

Maka serigala itu berlari pulang, dan kali ini ia sangat yakin bahwa ia akan mendapatkan anak babi kecil yang gemuk dan enak untuk sarapan keesokan paginya.

The little pig got up at four o’clock the next day, and off he started for the orchard as fast as his four little feet would carry him. But the way was long, and the tree was hard to climb, and while he was still up among the branches gathering apples the old wolf came trotting into the orchard. The little pig was very much frightened, but he kept very still and hoped, up among the leaves, the wolf would not see him.

Anak babi itu bangun jam empat keesokan harinya, dan berangkatlah ia ke kebun itu secepat yang bisa dibawa keempat kaki kecilnya. Tetapi jalannya jauh, dan pohon itu sulit dipanjat, dan selagi ia masih di antara dahan-dahan memetik apel, serigala tua itu datang berlari-lari ke kebun itu. Anak babi itu sangat ketakutan, tetapi ia tetap diam dan berharap, di antara dedaunan itu, serigala itu tak akan melihatnya.

The wolf peered about, first up one tree and then up another, and finally he spied the piggy up among the branches.

Serigala itu mengintai ke sekeliling, pertama ke satu pohon lalu ke pohon lain, dan akhirnya ia melihat anak babi itu di antara dahan-dahan.

“Why did you not wait for me?”

"Mengapa kau tak menungguku?"

“Oh, I knew you would be along presently.”

"Oh, aku tahu kau akan segera datang."

“How soon are you coming down?”

"Berapa lama lagi kau akan turun?"

“When I have picked a few more apples.”

"Setelah aku memetik beberapa apel lagi."

The old wolf sat down at the foot of the tree, and the pig sat up among the branches crunching apples and smacking his lips.

Serigala tua itu duduk di kaki pohon itu, dan anak babi itu duduk di antara dahan-dahan mengunyah apel dan mendecapkan bibirnya.

“Are they good?” asked the wolf looking up; and his mouth watered.

"Apakah apel itu enak?" tanya serigala itu sambil mendongak; dan air liurnya menetes.

Yes, they were very good.

Ya, apel itu sangat enak.

“Could you not throw one down to me?”

"Bisakah kau melemparkan satu untukku?"

Yes, the little pig could do that.

Ya, anak babi kecil itu bisa melakukannya.

He picked the biggest, reddest apple he could, and then he threw it, but he threw it far off, and in such a way that it went bounding and rolling down the hill slope. The wolf bounded down the hill after it, and while he was catching it, the little pig climbed down the tree and ran safely home with his basketful of apples.

Ia memetik apel terbesar dan termerah yang bisa ia dapatkan, lalu ia melemparkannya, tetapi ia melemparkannya jauh sekali, sedemikian rupa sehingga apel itu memantul dan bergulir menuruni lereng bukit. Serigala itu melompat menuruni bukit mengejarnya, dan selagi ia menangkapnya, anak babi itu turun dari pohon dan berlari pulang dengan selamat membawa sekeranjang penuh apel.

When the old wolf found the pig had tricked him again he was very angry. He was more determined than ever that he would catch the little pig. He trotted off to the little red house and knocked at the door.

Ketika serigala tua itu mendapati bahwa anak babi itu telah mengelabuinya lagi, ia sangat marah. Ia menjadi lebih bertekad daripada sebelumnya untuk menangkap anak babi itu. Ia berlari ke rumah merah kecil itu dan mengetuk pintu.

“Did you get all the apples you wanted?” asked the wolf.

"Apakah kau mendapatkan semua apel yang kauinginkan?" tanya serigala itu.

Yes, the little pig had all he wanted, and he was very much obliged to the wolf for telling him about the orchard.

Ya, anak babi itu sudah mendapatkan semua yang ia inginkan, dan ia sangat berterima kasih kepada serigala itu karena telah memberitahunya tentang kebun itu.

“Listen, Piggy, there’s to be a fine fair over in the town to-morrow,” said the wolf. “Wouldn’t you like to go?”

"Dengarkan, Babi, akan ada pasar malam yang meriah di kota besok," kata serigala itu. "Tidakkah kau ingin pergi?"

Yes, the little pig would like very much to go.

Ya, anak babi itu sangat ingin pergi.

“Very well,” said the wolf. “Then I will come for you at half-past three to-morrow, and we will go together.”

"Baiklah kalau begitu," kata serigala itu. "Aku akan menjemputmu jam setengah empat besok, dan kita akan pergi bersama."

“Very well,” said the little pig. But long before half-past three the next day, piggy was off to the fair, and he took four bright silver pieces with him, for he wanted to buy himself a butter-churn. It did not take him long to buy the churn, and then he started home again, carrying it on his back.

"Baiklah," kata anak babi itu. Tetapi jauh sebelum jam setengah empat keesokan harinya, si babi sudah berangkat ke pasar malam itu, dan ia membawa empat keping perak mengkilap bersamanya, sebab ia ingin membeli sebuah alat pengaduk mentega untuk dirinya sendiri. Tak butuh waktu lama baginya untuk membeli alat pengaduk itu, dan kemudian ia mulai pulang lagi, membawanya di punggungnya.

But the wolf had learned a thing or two about the little pig’s tricks. He, too, started off to the fair long before half-past three, and so it was that the little pig was scarcely half-way home, and had just reached the top of a high hill, when he saw the wolf come trotting up the hill directly toward him.

Tetapi serigala itu telah mempelajari sesuatu tentang tipu daya anak babi itu. Ia juga berangkat ke pasar malam itu jauh sebelum jam setengah empat, dan jadilah anak babi itu baru sampai setengah jalan pulang, dan baru saja mencapai puncak sebuah bukit tinggi, ketika ia melihat serigala itu berlari-lari mendaki bukit tepat menuju ke arahnya.

The little pig was terrified. He looked all around but he could not see any place to hide. He decided the best thing he could do was to get inside the churn. So he put it down and crept inside it. But the hill was very steep, and no sooner was the piggy inside the churn than it began to roll down the hill slope bumpety-bumpety-bump, over rocks and stones, leaping and bounding like a live thing. The little pig did not know what was happening to him. He began to squeal at the top of his voice.

Anak babi itu sangat ketakutan. Ia melihat ke sekeliling tetapi tak bisa menemukan tempat untuk bersembunyi. Ia memutuskan hal terbaik yang bisa ia lakukan adalah masuk ke dalam alat pengaduk itu. Maka ia meletakkannya dan merangkak masuk ke dalamnya. Tetapi bukit itu sangat curam, dan begitu si babi masuk ke dalam alat pengaduk itu, alat itu mulai bergulir menuruni lereng bukit, bergedebuk-gedebuk, melewati bebatuan dan batu-batu, melompat dan memantul seperti sesuatu yang hidup. Anak babi itu tak tahu apa yang sedang terjadi padanya. Ia mulai menjerit sekencang-kencangnya.

The old wolf was half-way up the hill when he heard the noise. He looked up, and there was a great round thing coming bounding over the rocks straight at him, and squeaking and squeaking as it came. He gave one look and his hair bristled with fear, and with a howl he turned tail and ran home as fast as he could. He never stopped till he was safe inside his house, and had shut and locked the door behind him. There he crouched, trembling and wondering what would happen. But nothing happened, and all was quiet, so after awhile the wolf ventured out and ran over to the pig’s house.

Serigala tua itu sudah setengah jalan mendaki bukit ketika ia mendengar suara berisik itu. Ia mendongak, dan di sana ada sebuah benda bulat besar yang datang memantul melewati bebatuan tepat ke arahnya, dan menjerit-jerit terus selagi datang. Ia melihat sekali saja dan bulunya berdiri karena ketakutan, dan sambil melolong ia berbalik dan berlari pulang secepat yang ia bisa. Ia tak pernah berhenti sampai ia aman di dalam rumahnya, dan telah menutup serta mengunci pintu di belakangnya. Di sana ia meringkuk, gemetar dan bertanya-tanya apa yang akan terjadi. Tetapi tak ada yang terjadi, dan semuanya tenang, jadi setelah beberapa saat serigala itu memberanikan diri keluar dan berlari ke rumah si babi.

“Piggy, Piggy! Are you in there?”

"Babi, Babi! Apakah kau di dalam sana?"

Yes, the little pig was sitting by the fire roasting apples.

Ya, anak babi itu sedang duduk dekat perapian memanggang apel.

“Then, listen while I tell you what happened to me on the way to the fair.” Then the wolf put his nose close to the crack of the door, and told the little pig all about the great round squealing thing that had chased him down the hill.

"Kalau begitu, dengarkan sementara aku ceritakan apa yang terjadi padaku di jalan menuju pasar malam." Kemudian serigala itu mendekatkan hidungnya ke celah pintu, dan menceritakan kepada anak babi itu semua tentang benda bulat besar yang menjerit-jerit yang telah mengejarnya menuruni bukit.

The little pig laughed and laughed. “And I can tell you exactly what the great squealing thing was; it was a churn I had bought at the fair, and I was inside it.”

Anak babi itu tertawa dan tertawa. "Dan aku bisa memberitahumu persis apa benda besar yang menjerit-jerit itu; itu adalah alat pengaduk mentega yang kubeli di pasar malam, dan aku ada di dalamnya."

When the old wolf heard this he was so furious that he determined to have the little pig whether or no, even if he had to climb up on the roof and down the chimney to get him. He stuck his sharp nails in between the bricks of the house and climbed right up the side of it and onto the roof. Then he climbed up on the chimney and slid down it into the fire-place.

Ketika serigala tua itu mendengar ini, ia begitu murka sehingga ia bertekad untuk mendapatkan anak babi itu bagaimanapun caranya, bahkan jika ia harus memanjat naik ke atap dan turun melalui cerobong asap untuk menangkapnya. Ia menancapkan kuku-kuku tajamnya di antara bata-bata rumah itu dan memanjat naik ke sisi rumah itu dan ke atas atap. Kemudian ia memanjat naik ke cerobong asap dan meluncur turun ke dalam perapian.

But the little pig had heard what he was doing, and was ready for him. He had a great pot of boiling water on the fire, and when he heard the wolf slipping and scrabbling down the chimney he took the lid off the kettle, and plump! the old wolf fell right into the boiling water. Then the little pig clapped the lid tight down over him, and that was the end of the wolf.

Tetapi anak babi itu telah mendengar apa yang sedang dilakukannya, dan sudah siap menghadapinya. Ia memiliki sebuah panci besar berisi air mendidih di atas api, dan ketika ia mendengar serigala itu tergelincir dan meraba-raba turun cerobong asap, ia membuka tutup panci itu, dan byur! serigala tua itu jatuh tepat ke dalam air mendidih itu. Kemudian anak babi itu segera menutup rapat tutup panci itu di atasnya, dan itulah akhir dari serigala itu.

But the little pig lived on in peace and plenty forever after, and if any other wolf ever came along to bother him I never heard of it.

Tetapi anak babi kecil itu hidup dalam damai dan berkecukupan selamanya sesudah itu, dan jika ada serigala lain yang datang untuk mengganggunya, aku tak pernah mendengarnya.

Open in the Storyteller app Get it on Google Play