Sampul The Rideshare Rehearsal

Fadi has been driving since six, and the evening's first fare is the first one to talk to herself. The woman in the back seat, a green scarf pulled up to her chin, is whispering at the window. Then she clears her throat and says, quite loudly, "Dear friend, this is very hard for me."

Fadi sudah menyetir sejak pukul enam, dan penumpang pertama malam itu adalah yang pertama berbicara sendiri. Perempuan di kursi belakang, dengan syal hijau yang ditarik sampai ke dagu, sedang berbisik ke arah jendela. Lalu ia berdeham dan berkata, cukup keras, "Sahabatku, ini sangat sulit bagiku."

Fadi glances at the mirror. She does not look up. He understands that he is not being addressed; he is simply the audience.

Fadi melirik kaca spion. Perempuan itu tidak menengadah. Ia mengerti bahwa bukan dirinya yang diajak bicara; ia hanyalah penonton.

"I have thought about this for weeks," she goes on. "It's not you, it's me. We want different things. I will always remember the good times." She stops. "No. Too much like a greeting card."

"Aku sudah memikirkan ini berminggu-minggu," lanjutnya. "Bukan salahmu, ini salahku. Kita menginginkan hal yang berbeda. Aku akan selalu mengenang masa-masa indah itu." Ia berhenti. "Tidak. Terlalu mirip kartu ucapan."

By the second traffic light, she has started again four times. The opening changes. The ending changes. The sentence "I'm not angry, just disappointed" survives every version. Fadi counts it quietly and decides that if he had to grade the speech, he would give it four out of ten. He keeps his eyes on the road and a bag of mints in the door pocket. At the next red light he holds the bag over his shoulder without a word. She takes one.

Pada lampu lalu lintas kedua, ia sudah memulai lagi empat kali. Pembukanya berubah. Penutupnya berubah. Kalimat "Aku tidak marah, hanya kecewa" bertahan di setiap versi. Fadi menghitungnya dengan diam-diam dan memutuskan bahwa kalau ia harus menilai pidato itu, ia akan memberinya empat dari sepuluh. Ia menjaga pandangannya pada jalan dan sekantong permen mint di saku pintu. Pada lampu merah berikutnya, ia mengulurkan kantong itu lewat bahunya tanpa berkata apa-apa. Perempuan itu mengambil satu.

"Sorry," she says. "I'm practicing. I'm ending something tonight."

"Maaf," katanya. "Saya sedang berlatih. Saya akan mengakhiri sesuatu malam ini."

"I noticed," Fadi says. "It was hard to miss. May I say one thing? You don't have to answer."

"Saya sudah menduganya," kata Fadi. "Susah untuk tidak menyadarinya. Boleh saya katakan satu hal? Anda tidak harus menjawab."

"Go ahead. You've heard all of it by now anyway."

"Silakan. Toh Anda sudah mendengar semuanya."

"When my wife and I nearly split up, I wrote a speech too. It was perfect. Every sentence had a lock on it, so she couldn't argue." He signals and turns into a narrow street. "She listened to the whole thing. Then she asked me one question: what do you actually want?"

"Waktu istri saya dan saya nyaris berpisah, saya juga menulis pidato. Pidato itu sempurna. Setiap kalimatnya digembok, supaya dia tidak bisa membantah." Ia menyalakan lampu sein dan berbelok ke sebuah jalan sempit. "Dia mendengarkan semuanya. Lalu dia mengajukan satu pertanyaan: sebenarnya kamu ingin apa?"

"What did you say?"

"Apa jawaban Anda?"

"Nothing. I had no line for that. I had only prepared the part where I was right."

"Tidak ada. Saya tidak punya kalimat untuk itu. Saya hanya menyiapkan bagian ketika saya benar."

The woman laughs, then stops. She holds up her phone, and the notes screen glows with a long block of text. "Eleven paragraphs. I've been polishing them since Sunday."

Perempuan itu tertawa, lalu berhenti. Ia mengangkat ponselnya, dan layar catatan menyala dengan blok teks yang panjang. "Sebelas paragraf. Saya memolesnya sejak hari Minggu."

"A speech is a good way to avoid a conversation," Fadi says. "But I'm only a driver. What do I know?"

"Pidato adalah cara yang bagus untuk menghindari percakapan," kata Fadi. "Tapi saya cuma sopir. Apa yang saya tahu?"

"More than my friends. They all said, 'Just be firm.'" She holds her thumb over the screen, hesitates and deletes the whole note.

"Lebih banyak daripada teman-teman saya. Mereka semua bilang, 'Tegas saja.'" Ia menahan ibu jarinya di atas layar, ragu, lalu menghapus seluruh catatan itu.

"What will you say instead?" he asks.

"Lalu apa yang akan Anda katakan?" tanyanya.

"That I'm unhappy. That I think he is too. That I want to talk about it properly, and that I'm scared." She says it quickly, as if testing the sentences. "That's all I've got."

"Bahwa saya tidak bahagia. Bahwa saya rasa dia juga begitu. Bahwa saya ingin membicarakannya dengan benar, dan bahwa saya takut." Ia mengatakannya dengan cepat, seolah menguji kalimat-kalimat itu. "Hanya itu yang saya punya."

"That's nine out of ten," says Fadi.

"Itu sembilan dari sepuluh," kata Fadi.

They stop in front of a narrow house with a lamp in the window. She sits still for a moment, one hand on the door handle. "Could you wait?" she asks. "Ten minutes. If it goes badly, I'd rather not stand alone on the street."

Mereka berhenti di depan sebuah rumah sempit dengan lampu di jendelanya. Ia duduk diam sejenak, satu tangan di gagang pintu. "Bisakah Anda menunggu?" tanyanya. "Sepuluh menit. Kalau berjalan buruk, saya lebih baik tidak berdiri sendirian di jalan."

Fadi presses the button on the meter, and the numbers stop. "Take your time," he says, and he turns off the engine.

Fadi menekan tombol di argometer, dan angka-angkanya berhenti. "Silakan, tidak usah buru-buru," katanya, lalu mematikan mesin.

🧠 Cek pemahamanmu

  1. What is the passenger doing in the back seat?

    Lihat jawaban

    Jawaban: Practicing how to end a relationship

    She is rehearsing a speech because she is ending something that night.

  2. What does Fadi say about the speech he once wrote?

    Lihat jawaban

    Jawaban: He had written it so that his wife could not argue with it

    He says every sentence "had a lock on it, so she couldn't argue."

  3. What does the passenger do with her long note?

    Lihat jawaban

    Jawaban: She deletes it

    She hesitates and then deletes the whole note, planning an honest conversation instead.

Suka ceritanya? Dengarkan versi lengkap dan cari arti kata apa pun di aplikasi

  • Ketuk kata apa pun untuk melihat artinya
  • Dengarkan setiap cerita sampai habis dan baca offline
  • Ulangi kosakata, latih pelafalan, dan kerjakan kuis
Temukan di Google Play