Storyteller

Beth Gellert

A free B1-level English story for language learners, readable online in 7 languages, with an option to listen via the free Storyteller app.

Level
B1
Genres
folklore, drama
Reading time
3 min
Languages available
EN, VI, ES, ZH, PT, HI, ID
Beth Gellert cover

When Prince Llewelyn returns from the hunt to find his loyal hound covered in blood and his baby son missing, he leaps to a terrible conclusion.

Prince Llewelyn had a favourite greyhound named Gellert that had been given to him by his father-in-law, King John. He was as gentle as a lamb at home but a lion in the chase. One day Llewelyn went to the chase and blew his horn in front of his castle. All his other dogs came to the call but Gellert never answered it. So he blew a louder blast on his horn and called Gellert by name, but still the greyhound did not come. At last Prince Llewelyn could wait no longer and went off to the hunt without Gellert. He had little sport that day because Gellert was not there, the swiftest and boldest of his hounds.

Pangeran Llewelyn memiliki seekor anjing greyhound kesayangan bernama Gellert yang diberikan kepadanya oleh mertuanya, Raja John. Anjing itu selembut anak domba di rumah tetapi seganas singa saat berburu. Suatu hari Llewelyn pergi berburu dan meniup terompetnya di depan istananya. Semua anjingnya yang lain datang memenuhi panggilan itu, tetapi Gellert tak pernah menyahutnya. Maka ia meniup terompetnya lebih keras lagi dan memanggil nama Gellert, tetapi anjing greyhound itu tetap tidak datang. Akhirnya Pangeran Llewelyn tak bisa menunggu lebih lama lagi dan pergi berburu tanpa Gellert. Ia hanya mendapat sedikit hasil hari itu karena Gellert tidak ada, padahal ia anjing pemburunya yang paling cepat dan paling berani.

He turned back in a rage to his castle, and as he came to the gate, who should he see but Gellert come bounding out to meet him. But when the hound came near him, the Prince was startled to see that his lips and fangs were dripping with blood. Llewelyn started back and the greyhound crouched down at his feet as if surprised or afraid at the way his master greeted him.

Ia kembali ke istananya dengan marah, dan ketika ia tiba di gerbang, siapa yang ia lihat selain Gellert yang berlari-lari keluar menyambutnya. Tetapi ketika anjing itu mendekat, sang Pangeran terkejut melihat bibir dan taringnya berlumuran darah. Llewelyn terkejut mundur dan anjing greyhound itu merunduk di kakinya seolah terkejut atau takut melihat cara tuannya menyambutnya.

Now Prince Llewelyn had a little son a year old with whom Gellert used to play, and a terrible thought crossed the Prince's mind that made him rush towards the child's nursery. And the nearer he came the more blood and disorder he found about the rooms. He rushed into it and found the child's cradle overturned and daubed with blood.

Nah, Pangeran Llewelyn memiliki seorang putra kecil berusia satu tahun yang biasa bermain dengan Gellert, dan sebuah pikiran mengerikan melintas di benak sang Pangeran yang membuatnya bergegas ke kamar bayi anaknya. Dan semakin dekat ia, semakin banyak darah dan kekacauan yang ia temukan di sekitar ruangan-ruangan itu. Ia bergegas masuk dan mendapati boks bayi anaknya terbalik dan berlumuran darah.

Prince Llewelyn grew more and more terrified, and sought for his little son everywhere. He could find him nowhere but only signs of some terrible conflict in which much blood had been shed. At last he felt sure the dog had destroyed his child, and shouting to Gellert, "Monster, thou hast devoured my child," he drew out his sword and plunged it in the greyhound's side, who fell with a deep yell and still gazing in his master's eyes.

Pangeran Llewelyn semakin ketakutan, dan mencari putra kecilnya ke mana-mana. Ia tak bisa menemukannya di mana pun, hanya tanda-tanda pertarungan hebat yang telah menumpahkan banyak darah. Akhirnya ia yakin bahwa anjing itu telah membunuh anaknya, dan sambil berteriak kepada Gellert, "Monster, kau telah memangsa anakku," ia menghunus pedangnya dan menusukkannya ke sisi tubuh anjing greyhound itu, yang jatuh dengan lolongan pilu sambil tetap menatap mata tuannya.

As Gellert raised his dying yell, a little child's cry answered it from beneath the cradle, and there Llewelyn found his child unharmed and just awakened from sleep. But just beside him lay the body of a great gaunt wolf all torn to pieces and covered with blood. Too late, Llewelyn learned what had happened while he was away. Gellert had stayed behind to guard the child and had fought and slain the wolf that had tried to destroy Llewelyn's heir.

Saat Gellert mengeluarkan lolongan sekaratnya, tangisan seorang anak kecil menyahut dari bawah boks bayi, dan di sanalah Llewelyn menemukan anaknya tak terluka dan baru saja terbangun dari tidur. Tetapi tepat di sampingnya terbaring tubuh seekor serigala besar yang kurus, tercabik-cabik dan berlumuran darah. Terlambat sudah, Llewelyn baru menyadari apa yang terjadi selagi ia pergi. Gellert telah tinggal untuk menjaga anak itu dan telah bertarung serta membunuh serigala yang mencoba membunuh pewaris Llewelyn.

In vain was all Llewelyn's grief; he could not bring his faithful dog to life again. So he buried him outside the castle walls within sight of the great mountain of Snowdon, where every passer-by might see his grave, and raised over it a great cairn of stones. And to this day the place is called Beth Gellert, or the Grave of Gellert.

Sia-sialah segala kesedihan Llewelyn; ia tak bisa menghidupkan kembali anjing setianya. Maka ia menguburkannya di luar tembok istana, menghadap ke gunung besar Snowdon, di tempat setiap orang yang lewat bisa melihat makamnya, dan mendirikan sebuah gundukan batu besar di atasnya. Dan hingga hari ini, tempat itu disebut Beth Gellert, atau Makam Gellert.

Open in the Storyteller app Get it on Google Play