The Promotion Decision
Cerita bahasa Inggris gratis level B1 untuk pelajar, bisa dibaca online dalam 5 bahasa, dengan pilihan untuk mendengarkannya di aplikasi Storyteller gratis.
Nathan is offered a promotion that would mean moving to a new city, and he and his partner weigh what they would gain and lose.
Itu cuplikannya! Dengarkan cerita lengkapnya di aplikasi Storyteller gratis. Unduh aplikasi
Audio belum tersedia saat ini.
Nathan had worked at the marketing firm for six years, and he was good at his job. One Tuesday, his manager called him into her office and offered him a promotion. The new role meant more responsibility and a higher salary. It also meant moving to the company's office in another city.
Nathan sudah bekerja selama enam tahun di perusahaan pemasaran itu, dan ia pandai dalam pekerjaannya. Pada suatu hari Selasa, manajernya memanggilnya ke kantornya dan menawarkan promosi. Jabatan baru itu berarti tanggung jawab lebih besar dan gaji lebih tinggi. Itu juga berarti pindah ke kantor perusahaan di kota lain.
Nathan felt excited, but he also felt uncertain. He and his partner, Chloe, had lived in their small apartment for three years. Their friends, their families, and their favorite coffee shop were all nearby. Moving would mean leaving all of that behind.
Nathan merasa senang, tetapi juga ragu. Ia dan pasangannya, Chloe, sudah tiga tahun tinggal di apartemen kecil mereka. Teman-teman, keluarga, dan kedai kopi favorit mereka semuanya ada di dekat situ. Pindah berarti meninggalkan semua itu.
That night, Nathan told Chloe about the offer. "It's a great opportunity," he said, "but I don't know if I should take it."
Malam itu, Nathan menceritakan tawaran itu kepada Chloe. "Ini kesempatan yang bagus," katanya, "tapi aku tidak tahu apakah aku harus menerimanya."
Chloe thought for a moment. "What happens if you say no?" she asked.
Chloe berpikir sejenak. "Apa yang terjadi kalau kamu menolak?" tanyanya.
"I'll probably stay in the same role for a few more years," Nathan admitted. "There might not be another chance like this one."
"Mungkin aku akan tetap di posisi yang sama beberapa tahun lagi," Nathan mengaku. "Mungkin tidak akan ada kesempatan seperti ini lagi."
They talked for hours, listing what each choice would mean. Staying meant comfort and familiar faces. Moving meant a fresh start and new experiences, even though it would be hard at first.
Mereka berbincang berjam-jam, mendaftar apa arti masing-masing pilihan. Bertahan berarti kenyamanan dan wajah-wajah yang akrab. Pindah berarti awal yang baru dan pengalaman baru, meskipun pada awalnya akan terasa sulit.
"If we move, we'll have to build a new life from nothing," Chloe said. "But we've done hard things together before."
"Kalau kita pindah, kita harus membangun kehidupan baru dari nol," kata Chloe. "Tapi kita sudah pernah melalui hal-hal sulit bersama."
Nathan nodded slowly. Neither option was wrong, and that was what made the decision so difficult. Both paths could lead to a good life; he simply had to pick one.
Nathan mengangguk pelan. Tak ada pilihan yang salah, dan itulah yang membuat keputusan ini begitu sulit. Kedua jalan bisa menuju kehidupan yang baik; ia hanya harus memilih salah satu.
The next morning, Nathan called his manager back. "I've thought it over, and I'd like to accept the promotion," he said. His voice was steady, even though his heart was racing.
Keesokan paginya, Nathan menelepon kembali manajernya. "Saya sudah memikirkannya, dan saya bersedia menerima promosi itu," katanya. Suaranya mantap, meskipun jantungnya berdebar kencang.
That evening, they sat on the floor of their apartment, surrounded by empty boxes. Together, they began making a list of everything they would need to pack.
Sore itu, mereka duduk di lantai apartemen mereka, dikelilingi kardus-kardus kosong. Bersama-sama, mereka mulai membuat daftar semua yang perlu mereka kemas.






