The Stolen Bike Listing
Cerita bahasa Inggris gratis level B2 untuk pelajar, bisa dibaca online dalam 5 bahasa, dengan pilihan untuk mendengarkannya di aplikasi Storyteller gratis.
Dorit spots her stolen bike for sale online and arranges a careful meeting that leads to an unexpected ally.
Itu cuplikannya! Dengarkan cerita lengkapnya di aplikasi Storyteller gratis. Unduh aplikasi
Audio belum tersedia saat ini.
Dorit was scrolling through the online listings on a Tuesday evening, looking for nothing in particular, when she saw her own bike.
Selasa malam itu Dorit sedang menggulir iklan-iklan daring tanpa tujuan tertentu ketika ia melihat sepedanya sendiri.
It had the same dark green frame and the same cracked left pedal. In the third photo, a strip of green tape was wound around the handlebar, exactly where she had mended a split grip last spring. The bike had been stolen from outside her office three weeks earlier.
Sepeda itu punya rangka hijau tua yang sama dan pedal kiri yang retak yang sama. Di foto ketiga, selembar pita hijau melilit setang, tepat di bagian yang tahun lalu ia perbaiki karena gagangnya pecah. Sepeda itu dicuri dari depan kantornya tiga minggu sebelumnya.
Her first instinct was to write to the seller and demand it back. Her second, which came a minute later, was that a thief would hardly hand it over politely. She called her friend Judit instead.
Naluri pertamanya adalah menulis kepada si penjual dan menuntut sepedanya kembali. Naluri keduanya, yang muncul semenit kemudian, adalah bahwa pencuri tentu tidak akan menyerahkannya dengan sopan. Ia pun menelepon temannya, Judit.
"Don't go alone," Judit said at once. "Choose somewhere public, in daylight, and I'll come with you. If it were my bike, I'd want to see the seller before the seller saw me."
"Jangan pergi sendirian," kata Judit seketika. "Pilih tempat yang ramai, siang hari, dan aku akan menemanimu. Kalau itu sepedaku, aku ingin melihat si penjual lebih dulu sebelum dia melihatku."
So Dorit wrote a short message, pretending to be an ordinary buyer. The seller answered within minutes and suggested the bench outside the library on Saturday at noon. The price, she noticed, was suspiciously low.
Maka Dorit menulis pesan singkat, berpura-pura menjadi pembeli biasa. Si penjual membalas dalam hitungan menit dan mengusulkan bangku di depan perpustakaan pada hari Sabtu tengah hari. Harganya, ia perhatikan, murah sekali sampai mencurigakan.
On Saturday, Judit sat on a low wall across the square with a newspaper she wasn't reading. Dorit waited by the bench. At noon, a thin teenage boy came around the corner, wheeling her bike carefully, as though it might break.
Pada hari Sabtu, Judit duduk di tembok rendah di seberang alun-alun sambil memegang koran yang tidak dibacanya. Dorit menunggu di dekat bangku. Tepat tengah hari, seorang remaja laki-laki yang kurus muncul di tikungan, menuntun sepedanya dengan hati-hati, seakan sepeda itu bisa patah.
"Hi," he said. "Are you the one who wrote about the bike?"
"Halo," katanya. "Apakah Anda yang menulis soal sepeda ini?"
Dorit looked at the tape on the handlebar and felt her anger turn into something more complicated. "That's my bike," she said. "It was stolen three weeks ago."
Dorit menatap pita di setang itu dan merasakan amarahnya berubah menjadi sesuatu yang lebih rumit. "Itu sepeda saya," katanya. "Sepeda itu dicuri tiga minggu lalu."
The boy went pale. "That can't be right. I paid sixty for it at the flea market. The man said it had belonged to his sister." He added, a little desperately, "I'm Kaveh, by the way. I only wanted to sell it because the gears keep slipping."
Wajah anak itu memucat. "Itu tidak mungkin. Saya membelinya seharga enam puluh di pasar loak. Katanya sepeda itu milik adik perempuannya." Dengan agak putus asa ia menambahkan, "Oh ya, nama saya Kaveh. Saya cuma ingin menjualnya karena giginya sering selip."
Judit had crossed the square by then and was standing quietly beside Dorit. "Sixty, for a bike like this?" she asked.
Judit sudah menyeberangi alun-alun dan kini berdiri tenang di samping Dorit. "Enam puluh, untuk sepeda seperti ini?" tanyanya.
Kaveh stared at the pavement. "I know. I should have asked more questions."
Kaveh menunduk menatap trotoar. "Saya tahu. Seharusnya saya bertanya lebih banyak."
"You might have wondered," Dorit agreed. "But you came here in daylight, with your own face, and you brought the bike. A thief wouldn't have done that." She asked to see his messages, and together they photographed the whole conversation, the seller's account name, and the serial number stamped on the frame.
"Mungkin kamu memang seharusnya curiga," kata Dorit. "Tapi kamu datang ke sini siang hari, dengan wajahmu sendiri, dan kamu membawa sepedanya. Pencuri tidak akan melakukan itu." Ia meminta untuk melihat pesan-pesannya, dan bersama-sama mereka memotret seluruh percakapan itu, nama akun si penjual, dan nomor seri yang dicap di rangka.
Kaveh offered to come to the police station, and Dorit hadn't expected that. She had half expected him to run.
Kaveh menawarkan diri untuk ikut ke kantor polisi, dan Dorit tidak menduganya. Ia justru setengah mengira anak itu akan lari.
At the station, an officer studied the screenshots and said that the same account had been mentioned in two other reports that month. "Without this conversation," she said, "we would have had nothing to follow."
Di kantor polisi, seorang petugas memeriksa tangkapan layar itu dan mengatakan bahwa akun yang sama disebut dalam dua laporan lain bulan itu. "Tanpa percakapan ini," katanya, "kami tidak punya apa pun untuk ditelusuri."
Outside, Dorit crouched beside the bike, took a small tool from her bag, and tightened the gear cable that had been bothering Kaveh. He watched every turn of the screw, memorizing it.
Di luar, Dorit berjongkok di samping sepeda, mengambil perkakas kecil dari tasnya, lalu mengencangkan kabel gigi yang selama ini mengganggu Kaveh. Anak itu memperhatikan setiap putaran sekrup, menghafalkannya.
Then she swung her leg over the saddle, pushed off, and rang the bell twice, loudly enough that Judit jumped.
Kemudian ia mengayunkan kakinya ke atas sadel, mengayuh, dan membunyikan bel dua kali, begitu keras sampai Judit terlonjak.






