Sampul The Interview That Wasn't Recorded

Jalen leans back in his chair and smiles at Wanda across the little table. For an hour, she has been telling him about forty years in her bakery on Mill Street. She has described the winter when the ovens broke. She has told him about the bride who came in for a cake at six in the morning.

Jalen bersandar di kursinya dan tersenyum kepada Wanda di seberang meja kecil. Selama satu jam, Wanda bercerita tentang empat puluh tahun di toko rotinya di Mill Street. Ia sudah menceritakan musim dingin ketika oven-ovennya rusak. Ia sudah menceritakan pengantin perempuan yang datang membeli kue pada pukul enam pagi.

"That's wonderful," Jalen says. "I think that's everything I need. Thank you so much for your time."

"Luar biasa," kata Jalen. "Saya rasa itu semua yang saya butuhkan. Terima kasih banyak atas waktu Ibu."

He reaches for his recorder to switch it off. The red light is not on. He presses the button, then presses it again. The screen says, Ready to record. Jalen's stomach drops. In sixty minutes, he has not recorded a single word.

Ia meraih perekamnya untuk mematikannya. Lampu merahnya tidak menyala. Ia menekan tombolnya, lalu menekannya lagi. Layar bertuliskan, Siap merekam. Perut Jalen terasa mencelos. Dalam enam puluh menit, ia tidak merekam satu kata pun.

He thinks about pretending that everything is fine. He could write down what he remembers and say the quotes are from memory. But the real stories would be gone, and Wanda deserves better. He takes a deep breath.

Ia berpikir untuk pura-pura semuanya baik-baik saja. Ia bisa menuliskan apa yang ia ingat dan mengatakan kutipannya berasal dari ingatan. Tetapi cerita-cerita yang sebenarnya akan hilang, dan Wanda pantas mendapat yang lebih baik. Ia menarik napas dalam-dalam.

"Wanda, I have to tell you something embarrassing. I forgot to press record. Nothing was saved."

"Bu Wanda, ada hal memalukan yang harus saya katakan. Saya lupa menekan tombol rekam. Tidak ada yang tersimpan."

Her eyebrows rise, and for a second he is sure she will be angry. Instead, she laughs, a big, warm laugh that fills the room. "Oh, dear. Thirty years ago I did the same thing with a camera. Half of my daughter's first birthday was a picture of the floor."

Alisnya terangkat, dan sesaat ia yakin Wanda akan marah. Sebaliknya, Wanda tertawa, tawa yang besar dan hangat yang memenuhi ruangan. "Astaga. Tiga puluh tahun lalu saya melakukan hal yang sama dengan kamera. Separuh ulang tahun pertama putri saya hanya berupa gambar lantai."

"I'm so sorry," Jalen says. "Would you be willing to do it again? I promise I'll check the light this time."

"Saya benar-benar minta maaf," kata Jalen. "Apakah Ibu bersedia mengulanginya? Saya janji kali ini akan memeriksa lampunya."

"Of course. But I should warn you, I don't remember what I said before."

"Tentu saja. Tapi saya peringatkan, saya tidak ingat apa yang saya katakan tadi."

"That's fine. I will ask different questions."

"Tidak apa-apa. Saya akan mengajukan pertanyaan yang berbeda."

This time, the red light glows, and Jalen checks it twice. Because Wanda has no script to follow, she wanders into new territory. She tells him about the night the whole street lost power. That night, she says, she baked bread by candlelight for the neighbors. She tells him about the old man who came every morning for one roll and never once spoke.

Kali ini, lampu merah itu menyala, dan Jalen memeriksanya dua kali. Karena Wanda tidak punya naskah untuk diikuti, ia berkelana ke wilayah baru. Ia bercerita tentang malam ketika seluruh jalan kehilangan listrik. Malam itu, katanya, ia memanggang roti dengan cahaya lilin untuk para tetangga. Ia bercerita tentang pria tua yang datang setiap pagi untuk membeli sepotong roti dan tidak pernah sekali pun berbicara.

When they finish, Jalen listens to the first minute of the recording just to be safe. Then he looks at her. "That was better than the first time."

Setelah selesai, Jalen mendengarkan menit pertama rekaman itu sekadar untuk berjaga-jaga. Lalu ia menatap Wanda. "Ini lebih bagus daripada yang pertama."

"Then you should forget to record more often," Wanda says. She reaches for the last cookie on the plate.

"Kalau begitu, kamu sebaiknya lebih sering lupa merekam," kata Wanda. Ia meraih kue kering terakhir di piring.

🧠 Cek pemahamanmu

  1. What mistake does Jalen make?

    Lihat jawaban

    Jawaban: He forgets to press record

    He finds out after an hour that nothing was saved.

  2. How does Wanda react?

    Lihat jawaban

    Jawaban: She laughs and agrees to do it again

    She laughs and says she once made a similar mistake with a camera.

  3. Why is the second interview better?

    Lihat jawaban

    Jawaban: Wanda tells new stories

    Without a script, Wanda tells stories she did not tell the first time.

Suka ceritanya? Dengarkan versi lengkap dan cari arti kata apa pun di aplikasi

  • Ketuk kata apa pun untuk melihat artinya
  • Dengarkan setiap cerita sampai habis dan baca offline
  • Ulangi kosakata, latih pelafalan, dan kerjakan kuis
Temukan di Google Play