The Thermostat Three People Share
Cerita bahasa Inggris gratis level A2 untuk pelajar, bisa dibaca online dalam 5 bahasa, dengan pilihan untuk mendengarkannya di aplikasi Storyteller gratis.
Zeynep's family argues about their smart thermostat until they realize they each set a separate schedule.
Itu cuplikannya! Dengarkan cerita lengkapnya di aplikasi Storyteller gratis. Unduh aplikasi
Audio belum tersedia saat ini.
Zeynep's house had a smart thermostat. It knew three names: Mom, Bram, and Zeynep. Each person had a favorite temperature.
Rumah Zeynep memiliki termostat pintar. Termostat itu mengenal tiga nama: Ibu, Bram, dan Zeynep. Masing-masing punya suhu favorit.
Every evening, someone changed it. Zeynep liked the house warm. Bram liked it cool. Their mom Edda just wanted it to stay the same all day.
Setiap malam, selalu ada yang mengubahnya. Zeynep suka rumah yang hangat. Bram suka yang sejuk. Ibu mereka, Edda, hanya ingin suhunya tetap sama sepanjang hari.
One week, the house felt strange. The temperature changed every hour, warm, then cool, then warm again. Nobody understood why.
Pada suatu minggu, rumah itu terasa aneh. Suhunya berubah setiap jam, hangat, lalu sejuk, lalu hangat lagi. Tak ada yang mengerti sebabnya.
"Did you touch the thermostat?" Zeynep asked Bram at dinner.
"Kamu menyentuh termostatnya?" tanya Zeynep kepada Bram saat makan malam.
"No, I didn't touch it today," Bram said. "Maybe it's broken."
"Tidak, hari ini aku tidak menyentuhnya," kata Bram. "Mungkin rusak."
"I changed it once this morning," Edda said. "Just a little, for a few minutes."
"Ibu mengubahnya sekali tadi pagi," kata Edda. "Hanya sedikit, selama beberapa menit."
They all looked at each other. Nobody planned to change it again.
Mereka saling berpandangan. Tak ada yang berencana mengubahnya lagi.
After dinner, Zeynep opened the thermostat app on her phone. She saw three separate schedules. Each one tried to control the temperature.
Setelah makan malam, Zeynep membuka aplikasi termostat di ponselnya. Ia melihat tiga jadwal yang terpisah. Masing-masing berusaha mengatur suhu.
"We each made our own schedule," Zeynep said. "That's the problem. They don't agree with each other."
"Kita masing-masing membuat jadwal sendiri," kata Zeynep. "Itulah masalahnya. Jadwal-jadwal itu tidak sejalan."
Bram laughed. "So the thermostat feels confused too," he said.
Bram tertawa. "Jadi termostatnya juga bingung," katanya.
The next day, they sat down together and made one shared schedule. Warm in the morning, cool in the afternoon, warm again at night.
Keesokan harinya, mereka duduk bersama dan membuat satu jadwal bersama. Hangat di pagi hari, sejuk di siang hari, hangat lagi di malam hari.
The house stayed calm after that. No more surprises, and no more arguing about the temperature.
Setelah itu rumah tetap nyaman. Tak ada lagi kejutan, dan tak ada lagi pertengkaran soal suhu.






