The Little Old Woman and Her Pig
A free A2-level English story for language learners, readable online in 7 languages, with an option to listen via the free Storyteller app.
An old woman's pig refuses to cross a stile on the way home, so she recruits a comic chain of reluctant helpers — a dog, a stick, a fire, and more — to get it moving.
One time a little old woman was sweeping her room, and she found in the corner a bright silver shilling. “There!” said the old woman, “Now I can buy that little pig I have been wanting for such a long time.”
Suatu kali seorang nenek kecil sedang menyapu kamarnya, dan ia menemukan di sudut sebuah uang shilling perak yang berkilau. "Nah!" kata nenek itu, "Sekarang aku bisa membeli babi kecil yang sudah lama sekali kuinginkan."
She finished her sweeping in a hurry and put on her bonnet and her shawl and started off to market to buy her pig, and she carried a tin pail with her so she could gather blackberries along the way.
Ia buru-buru menyelesaikan menyapunya dan mengenakan topinya dan selendangnya lalu berangkat ke pasar untuk membeli babinya, dan ia membawa sebuah ember timah agar bisa memetik buah blackberry di sepanjang jalan.
The bushes were fairly loaded down with berries, so it did not take her long to fill her pail, and after that she got to market in no time.
Semak-semak itu penuh sekali dengan buah beri, jadi tak butuh waktu lama baginya untuk memenuhi embernya, dan setelah itu ia pun sampai di pasar dalam waktu singkat.
At first she could not find just the pig she wanted. Some were too little and some were too big; some were too fat and some were too thin. But at last she found just exactly the right pig; it was round and pink and it had one black ear, and the curliest tail there was in the market. She paid just exactly a shilling for it, and then she tied a rope around its hind leg and started home with it, driving it before her, and carrying the pail of blackberries on her arm.
Mulanya ia tak bisa menemukan babi yang benar-benar ia inginkan. Ada yang terlalu kecil dan ada yang terlalu besar; ada yang terlalu gemuk dan ada yang terlalu kurus. Tetapi akhirnya ia menemukan babi yang tepat sekali; babi itu bulat dan merah muda dan bertelinga satu hitam, dan memiliki ekor paling keriting yang ada di pasar itu. Ia membayar tepat satu shilling untuknya, lalu ia mengikat tali di kaki belakangnya dan mulai pulang bersamanya, menggiringnya di depan dirinya, dan membawa ember blackberry di lengannya.
At first all went well. The little pig trotted quietly along, and the sun shone, and the birds sang, and the little white clouds floated across the sky. But presently they came to a stile, and the pig did not want to go over it. Now, there was no way to go round, and no way to get home except over this stile.
Mulanya semuanya berjalan lancar. Babi kecil itu berjalan dengan tenang, dan matahari bersinar, dan burung-burung berkicau, dan awan-awan putih kecil melayang melintasi langit. Tetapi tak lama kemudian mereka sampai ke sebuah tangga pagar, dan babi itu tidak mau melewatinya. Nah, tak ada jalan untuk memutar, dan tak ada cara untuk pulang kecuali melewati tangga pagar ini.
“Go on, piggy,” said the old woman, shaking the rope. But piggy wouldn’t go on. The old woman tried to drive him, and he wouldn’t go, and then she tried to lead him, and then she coaxed him and talked to him, but he just _wouldn’t_ go over the stile.
"Ayo jalan, babi kecil," kata nenek itu, sambil menggoyangkan tali. Tetapi si babi tak mau berjalan. Nenek itu mencoba menggiringnya, dan babi itu tak mau berjalan, lalu ia mencoba menuntunnya, lalu ia membujuknya dan mengajaknya bicara, tetapi babi itu tetap saja _tak mau_ melewati tangga pagar itu.
At last the old woman quite lost patience with him. She saw a dog trotting along the road, and she called to him. “Here! here, good dog; come and bite piggy, for I can’t make pig go over the stile, and at this rate I won’t get home till midnight with my pail of fine ripe blackberries.”
Akhirnya nenek itu kehilangan kesabaran sepenuhnya dengan babi itu. Ia melihat seekor anjing berlari-lari di jalan, dan ia memanggilnya. "Ke sini! ke sini, anjing baik; gigitlah babi kecil, karena aku tak bisa membuat babi ini melewati tangga pagar, dan dengan begini aku takkan pulang sampai tengah malam dengan ember blackberry mataangku yang bagus."
The dog stopped and looked at her and looked at the pig, but he would not bite it.
Anjing itu berhenti dan menatapnya lalu menatap babi itu, tetapi ia tidak mau menggigitnya.
Close by a stick lay in the road, and the woman called to it (and she was quite cross by this time). “Stick, stick, beat dog; dog won’t bite pig, pig won’t go over the stile, and at this rate I shan’t get home till midnight with my pail of fine ripe blackberries.”
Di dekat situ ada sebatang tongkat tergeletak di jalan, dan nenek itu memanggilnya (dan ia sudah cukup kesal saat ini). "Tongkat, tongkat, pukullah anjing; anjing tak mau menggigit babi, babi tak mau melewati tangga pagar, dan dengan begini aku takkan pulang sampai tengah malam dengan ember blackberry mataangku yang bagus."
But the stick wouldn’t. It lay there quietly in the road just as though she hadn’t spoken to it.
Tetapi tongkat itu tak mau. Ia tergeletak tenang saja di jalan seolah-olah nenek itu tak berkata apa-apa padanya.
Over in the field a fire was burning, and the old woman called to it, “Fire, fire, burn stick; stick won’t beat dog, dog won’t bite pig, pig won’t go over the stile, and at this rate I won’t get home till midnight with my pail of fine ripe blackberries.”
Di seberang ladang ada api yang menyala, dan nenek itu memanggilnya, "Api, api, bakarlah tongkat; tongkat tak mau memukul anjing, anjing tak mau menggigit babi, babi tak mau melewati tangga pagar, dan dengan begini aku takkan pulang sampai tengah malam dengan ember blackberry mataangku yang bagus."
But the fire wouldn’t.
Tetapi api itu tak mau.
Then the old woman called to a brook near by, “Water, water, quench fire; fire won’t burn stick, stick won’t beat dog, dog won’t bite pig, pig won’t go over the stile, and I shan’t get home till midnight with my pail of fine ripe blackberries.”
Kemudian nenek itu memanggil sebuah sungai kecil di dekat situ, "Air, air, padamkan api; api tak mau membakar tongkat, tongkat tak mau memukul anjing, anjing tak mau menggigit babi, babi tak mau melewati tangga pagar, dan aku takkan pulang sampai tengah malam dengan ember blackberry mataangku yang bagus."
But the brook wouldn’t.
Tetapi sungai itu tak mau.
She saw an ox over in the field. “Ox, ox,” she cried, “drink water; water won’t quench fire, fire won’t burn stick, stick won’t beat dog, dog won’t bite pig, pig won’t go over the stile, and I shan’t get home till midnight with my pail of fine ripe blackberries.”
Ia melihat seekor lembu jantan di seberang ladang. "Lembu, lembu," serunya, "minumlah air; air tak mau memadamkan api, api tak mau membakar tongkat, tongkat tak mau memukul anjing, anjing tak mau menggigit babi, babi tak mau melewati tangga pagar, dan aku takkan pulang sampai tengah malam dengan ember blackberry mataangku yang bagus."
But the ox wouldn’t.
Tetapi lembu jantan itu tak mau.
She saw a butcher riding along the road, and she called to him “Butcher, butcher, kill ox; ox won’t drink water, water won’t quench fire, fire won’t burn stick, stick won’t beat dog, dog won’t bite pig, pig won’t go over the stile, and I won’t get home till midnight with my pail of fine ripe blackberries.”
Ia melihat seorang tukang jagal berkuda di jalan, dan ia memanggilnya "Tukang jagal, tukang jagal, sembelihlah lembu; lembu tak mau minum air, air tak mau memadamkan api, api tak mau membakar tongkat, tongkat tak mau memukul anjing, anjing tak mau menggigit babi, babi tak mau melewati tangga pagar, dan aku takkan pulang sampai tengah malam dengan ember blackberry mataangku yang bagus."
But the butcher wouldn’t.
Tetapi tukang jagal itu tak mau.
There was a piece of rope twisted about the fence. “Rope, rope,” she cried, “hang butcher; butcher won’t kill ox, ox won’t drink water, water won’t quench fire, fire won’t burn stick, stick won’t beat dog, dog won’t bite pig, pig won’t go over the stile, and I shan’t get home till midnight with my pail of fine ripe blackberries.”
Ada seutas tali yang terlilit pada pagar. "Tali, tali," serunya, "gantunglah tukang jagal; tukang jagal tak mau menyembelih lembu, lembu tak mau minum air, air tak mau memadamkan api, api tak mau membakar tongkat, tongkat tak mau memukul anjing, anjing tak mau menggigit babi, babi tak mau melewati tangga pagar, dan aku takkan pulang sampai tengah malam dengan ember blackberry mataangku yang bagus."
But the rope wouldn’t.
Tetapi tali itu tak mau.
Then she called to a rat that lived in a hole under the stile, “Rat, rat, gnaw rope; rope won’t hang butcher, butcher won’t kill ox, ox won’t drink water, water won’t quench fire, fire won’t burn stick, stick won’t beat dog, dog won’t bite pig, pig won’t go over the stile, and I shan’t get home till midnight with my pail of fine ripe blackberries.”
Kemudian ia memanggil seekor tikus yang tinggal di sebuah lubang di bawah tangga pagar, "Tikus, tikus, gerogotilah tali; tali tak mau menggantung tukang jagal, tukang jagal tak mau menyembelih lembu, lembu tak mau minum air, air tak mau memadamkan api, api tak mau membakar tongkat, tongkat tak mau memukul anjing, anjing tak mau menggigit babi, babi tak mau melewati tangga pagar, dan aku takkan pulang sampai tengah malam dengan ember blackberry mataangku yang bagus."
But the rat wouldn’t.
Tetapi tikus itu tak mau.
A cat was sitting on a gate-post. “Puss, puss, catch rat,” called the old woman. “Rat won’t gnaw rope, rope won’t hang butcher, butcher won’t kill ox, ox won’t drink water, water won’t quench fire, fire won’t burn stick, stick won’t beat dog, dog won’t bite pig, and I shan’t get home till midnight with my pail of fine ripe blackberries.”
Seekor kucing sedang duduk di atas tiang gerbang. "Kucing, kucing, tangkaplah tikus," panggil nenek itu. "Tikus tak mau menggerogoti tali, tali tak mau menggantung tukang jagal, tukang jagal tak mau menyembelih lembu, lembu tak mau minum air, air tak mau memadamkan api, api tak mau membakar tongkat, tongkat tak mau memukul anjing, anjing tak mau menggigit babi, dan aku takkan pulang sampai tengah malam dengan ember blackberry mataangku yang bagus."
“No,” answered puss, “I am very comfortable sitting here. Why should I disturb myself just to please you. But if you will get the red cow to give you a saucerful of milk for me then I will catch the rat.”
"Tidak," jawab si kucing, "aku sangat nyaman duduk di sini. Untuk apa aku mengganggu diriku sendiri hanya untuk menyenangkanmu. Tetapi kalau kau mau meminta sapi merah itu memberimu semangkuk susu untukku, maka aku akan menangkap tikus itu."
So the little old woman tied the pig to the stile, and then she climbed over the fence into the field where the red cow was standing.
Maka nenek kecil itu mengikat babinya ke tangga pagar, lalu ia memanjat melewati pagar masuk ke ladang tempat sapi merah itu berdiri.
“Please, good cow, give me a saucerful of milk for puss,” she said, “so that puss will catch the rat that won’t gnaw the rope that won’t hang the butcher who won’t kill the ox that won’t drink the water that won’t quench the fire that won’t burn the stick that won’t beat the dog that won’t bite the pig that won’t go over the stile so that I can get home before midnight with my pail of fine ripe blackberries.”
"Tolong, sapi yang baik, berikan aku semangkuk susu untuk si kucing," katanya, "agar si kucing mau menangkap tikus yang tak mau menggerogoti tali yang tak mau menggantung tukang jagal yang tak mau menyembelih lembu yang tak mau minum air yang tak mau memadamkan api yang tak mau membakar tongkat yang tak mau memukul anjing yang tak mau menggigit babi yang tak mau melewati tangga pagar agar aku bisa pulang sebelum tengah malam dengan ember blackberry mataangku yang bagus."
Said the cow, “If you will go over yonder to where the haymakers are working and fetch me a wisp of hay to eat, then I will give you the milk.”
Kata sapi itu, "Kalau kau mau pergi ke sana tempat para pemotong rumput sedang bekerja dan mengambilkan aku seikat jerami untuk dimakan, maka aku akan memberimu susunya."
So the little old woman went over to the haymakers and said, “Please, good kind haymakers, give me a wisp of hay to give to the cow so that she may give me some milk to give to the cat.”
Maka nenek kecil itu pergi ke tempat para pemotong rumput dan berkata, "Tolong, para pemotong rumput yang baik hati, berikan aku seikat jerami untuk kuberikan pada sapi agar ia mau memberiku susu untuk kuberikan pada kucing."
The haymakers were very hot and thirsty and they said, “Very well; if you will go down to the stream and fetch us a pailful of water we will give you the hay.”
Para pemotong rumput itu sedang sangat kepanasan dan kehausan dan mereka berkata, "Baiklah; kalau kau mau turun ke sungai dan mengambilkan kami seember air, kami akan memberimu jeraminya."
So the little old woman emptied out her blackberries on the ground very carefully and then she hurried down to the stream and brought back to the haymakers a pailful of fresh cool water.
Maka nenek kecil itu menumpahkan buah blackberry-nya ke tanah dengan sangat hati-hati lalu ia bergegas turun ke sungai dan membawa kembali ke para pemotong rumput seember air segar yang dingin.
The haymakers drank deep of it and then they gave the little old woman all the hay she wanted. She put the blackberries back in the pail and hurried back to the cow with the hay.
Para pemotong rumput itu meminumnya sepuas-puasnya lalu mereka memberi nenek kecil itu semua jerami yang ia inginkan. Ia memasukkan kembali buah blackberry-nya ke dalam ember dan bergegas kembali ke sapi dengan jerami itu.
The cow gladly gave her a saucerful of milk in return for the hay.
Sapi itu dengan senang hati memberinya semangkuk susu sebagai imbalan jeraminya.
The old woman took the milk to the cat, and while puss was drinking it the old woman untied the rope that fastened the pig to the stile.
Nenek itu membawa susu itu kepada si kucing, dan sementara si kucing sedang meminumnya nenek itu melepas tali yang mengikat babi ke tangga pagar.
Puss finished the milk and licked up the last drop of it, and then she bounded down beside the stile and began to catch the rat.
Si kucing menghabiskan susunya dan menjilat tetes terakhirnya, lalu ia melompat turun ke sisi tangga pagar dan mulai menangkap tikus itu.
The rat squeaked with terror and began to gnaw the rope.
Tikus itu menjerit ketakutan dan mulai menggerogoti tali itu.
The rope began to hang the butcher, the butcher began to kill the ox, the ox began to drink the water, the water began to quench the fire, the fire began to burn the stick, the stick began to beat the dog, the dog began to bite the pig, and the pig squealed at the top of its lungs and scrambled over the stile and ran for home so fast that the little old woman could hardly keep up with it.
Tali itu mulai menggantung tukang jagal, tukang jagal mulai menyembelih lembu, lembu mulai minum air, air mulai memadamkan api, api mulai membakar tongkat, tongkat mulai memukul anjing, anjing mulai menggigit babi, dan babi itu menjerit sekencang-kencangnya dan melompat melewati tangga pagar lalu berlari pulang begitu cepatnya sehingga nenek kecil itu nyaris tak bisa mengejarnya.
They got home in less than no time; it wasn’t even midday, and the little old woman had her blackberries for dinner, and what was left over she gave to the pig.
Mereka sampai di rumah dalam waktu singkat sekali; bahkan belum tengah hari, dan nenek kecil itu makan buah blackberry-nya untuk makan malam, dan sisanya ia berikan kepada babi itu.