Storyteller

The Lad Who Went to the North Wind

A free B1-level English story for language learners, readable online in 7 languages, with an option to listen via the free Storyteller app.

Level
B1
Genres
fairy-tale
Reading time
6 min
Languages available
EN, VI, ES, ZH, PT, HI, ID
The Lad Who Went to the North Wind cover

After the North Wind blows away his family's flour, a boy demands it back and is given a magic cloth instead — if only an innkeeper would leave it alone.

Once on a time there was an old widow who had one son; and as she was poorly and weak, her son had to go up into the safe to fetch meal for cooking; but when he got outside the safe, and was just going down the steps, there came the North Wind, puffing and blowing, caught up the meal, and so away with it through the air.

Dahulu kala ada seorang janda tua yang mempunyai satu putra; dan karena ia lemah dan sakit-sakitan, putranya harus naik ke lumbung untuk mengambil tepung untuk memasak; tetapi ketika ia keluar dari lumbung itu, dan baru saja hendak menuruni anak tangga, datanglah Angin Utara, mendengus dan bertiup, menyambar tepung itu, lalu terbang membawanya pergi melalui udara.

Then the lad went back into the safe for more; but when he came out again on the steps, if the North Wind didn’t come again and carry off the meal with a puff; and, more than that, he did so the third time. At this the lad got very angry; and as he thought it hard that the North Wind should behave so, he thought he’d just look him up, and ask him to give up his meal.

Kemudian si pemuda kembali masuk ke lumbung untuk mengambil lagi; tetapi ketika ia keluar lagi di anak tangga, Angin Utara datang lagi dan membawa kabur tepung itu dengan satu embusan; dan, lebih dari itu, ia melakukannya untuk ketiga kalinya. Karena ini si pemuda menjadi sangat marah; dan karena ia pikir tidak adil Angin Utara berbuat begitu, ia berpikir ia akan mencarinya, dan memintanya mengembalikan tepungnya.

So off he went, but the way was long, and he walked and walked; but at last he came to the North Wind’s house.

Maka berangkatlah ia, tetapi jalannya jauh, dan ia berjalan dan berjalan; tetapi akhirnya ia tiba di rumah Angin Utara.

“Good day!” said the lad, “and thank you for coming to see us yesterday.”

"Selamat siang!" kata si pemuda, "dan terima kasih sudah datang mengunjungi kami kemarin."

“GOOD DAY!” answered the North Wind, for his voice was loud and gruff, “AND THANKS FOR COMING TO SEE ME. WHAT DO YOU WANT?”

"SELAMAT SIANG!" jawab Angin Utara, sebab suaranya keras dan kasar, "DAN TERIMA KASIH SUDAH DATANG MENGUNJUNGIKU. APA YANG KAUINGINKAN?"

“Oh!” answered the lad, “I only wished to ask you to be so good as to let me have back that meal you took from me on the safe steps, for we haven’t much to live on; and if you’re to go on snapping up the morsel we have, there’ll be nothing for it but to starve.”

"Oh!" jawab si pemuda, "aku hanya ingin memintamu berbaik hati mengembalikan tepung yang kauambil dariku di anak tangga lumbung itu, sebab kami tak punya banyak untuk hidup; dan kalau kau terus menyambar sedikit yang kami punya, tak ada pilihan lain selain kelaparan."

“I haven’t got your meal”, said the North Wind; “but if you are in such need, I’ll give you a cloth which will get you everything you want, if you only say, “Cloth, spread yourself, and serve up all kind of good dishes!”

"Aku tidak punya tepungmu," kata Angin Utara; "tapi kalau kau begitu membutuhkan, akan kuberikan kau sehelai taplak yang bisa memberimu segala yang kauinginkan, kalau kau hanya berkata, 'Taplak, buka dirimu, dan sajikan segala macam hidangan lezat!'"

With this the lad was well content. But, as the way was so long he couldn’t get home in one day, so he turned into an inn on the way; and when they were going to sit down to supper he laid the cloth on a table which stood in the corner, and said,

Dengan ini si pemuda merasa sangat puas. Tetapi, karena jalannya begitu jauh ia tak bisa sampai rumah dalam satu hari, maka ia singgah di sebuah penginapan di jalan; dan ketika mereka hendak duduk untuk makan malam ia membentangkan taplak itu di atas sebuah meja yang berdiri di sudut, dan berkata,

“Cloth, spread yourself, and serve up all kinds of good dishes.”

"Taplak, buka dirimu, dan sajikan segala macam hidangan lezat."

He had scarce said so before the cloth did as it was bid; and all who stood by thought it a fine thing, but most of all the landlady. So, when all were fast asleep at dead of night, she took the lad’s cloth, and put another in its stead, just like the one he had got from the North Wind, but which couldn’t so much as serve up a bit of dry bread.

Baru saja ia mengatakan itu taplak itu langsung menurutinya; dan semua yang berdiri di sana menganggapnya luar biasa, terutama sekali sang pemilik penginapan wanita. Maka, ketika semuanya sudah tertidur lelap di tengah malam, ia mengambil taplak si pemuda, dan menaruh taplak lain di tempatnya, persis seperti yang ia dapat dari Angin Utara, tetapi yang tak bisa menyajikan bahkan sepotong roti kering pun.

So, when the lad woke, he took his cloth and went off with it, and that day he got home to his mother.

Maka, ketika si pemuda bangun, ia mengambil taplaknya dan pergi membawanya, dan hari itu ia sampai di rumah ibunya.

“Now”, said he, “I’ve been to the North Wind’s house, and a good fellow he is, for he gave me this cloth, and when I only say to it, ‘Cloth, spread yourself, and serve up all kind of good dishes’, I get any sort of food I please.”

"Nah," katanya, "aku sudah pergi ke rumah Angin Utara, dan ia orang yang baik, sebab ia memberiku taplak ini, dan kalau aku hanya berkata kepadanya, 'Taplak, buka dirimu, dan sajikan segala macam hidangan lezat', aku bisa mendapatkan makanan apa pun yang kuinginkan."

“All very true, I daresay,” said his mother; “but seeing is believing, and I shan’t believe it till I see it.”

"Semuanya mungkin benar, kurasa," kata ibunya; "tapi melihat baru percaya, dan aku tak akan percaya sampai aku melihatnya sendiri."

So the lad made haste, drew out a table, laid the cloth on it, and said:

Maka si pemuda pun bergegas, menarik keluar sebuah meja, membentangkan taplak itu di atasnya, dan berkata,

“Cloth, spread yourself, and serve up all kind of good dishes.”

"Taplak, buka dirimu, dan sajikan segala macam hidangan lezat."

But never a bit of dry bread did the cloth serve up.

Tetapi taplak itu tak menyajikan bahkan sepotong roti kering pun.

“Well”, said the lad, “there’s no help for it but to go to the North Wind again”; and away he went.

"Nah," kata si pemuda, "tak ada jalan lain selain pergi lagi ke Angin Utara"; dan berangkatlah ia.

So he came to where the North Wind lived late in the afternoon.

Maka ia tiba di tempat tinggal Angin Utara pada sore hari.

“Good evening!” said the lad.

"Selamat sore!" kata si pemuda.

“Good evening!” said the North Wind.

"Selamat sore!" kata Angin Utara.

“I want my rights for that meal of ours which you took”, said the lad; “for, as for that cloth I got, it isn’t worth a penny.”

"Aku ingin haluanku atas tepung kami yang kauambil," kata si pemuda; "sebab, soal taplak yang kudapat itu, tak berharga sepeser pun."

“I’ve got no meal”, said the North Wind; “but yonder you have a ram which coins nothing but golden ducats as soon as you say to it:

"Aku tak punya tepungmu," kata Angin Utara; "tapi di sana kau punya seekor domba jantan yang tidak mencetak apa pun selain koin emas ducat begitu kau berkata kepadanya:

‘Rain, ram! make money!’

'Hujan, domba! buatlah uang!'

So the lad thought this a fine thing; but as it was too far to get home that day, he turned in for the night to the same inn where he had slept before.

Maka si pemuda menganggap ini luar biasa; tetapi karena terlalu jauh untuk sampai rumah hari itu, ia singgah bermalam di penginapan yang sama tempat ia menginap sebelumnya.

Before he called for anything, he tried the truth of what the North Wind had said of the ram, and found it all right; but, when the landlord saw that, he thought it was a famous ram, and, when the lad had fallen asleep, he took another which couldn’t coin gold ducats, and changed the two.

Sebelum ia memesan apa pun, ia mencoba kebenaran apa yang dikatakan Angin Utara tentang domba itu, dan mendapati itu benar semua; tetapi, ketika sang pemilik penginapan melihat itu, ia berpikir itu domba yang luar biasa, dan, ketika si pemuda sudah tertidur, ia mengambil domba lain yang tak bisa mencetak koin emas ducat, dan menukar keduanya.

Next morning off went the lad; and when he got home to his mother, he said:

Keesokan paginya berangkatlah si pemuda; dan ketika ia sampai rumah kepada ibunya, ia berkata,

“After all, the North Wind is a jolly fellow; for now he has given me a ram which can coin golden ducats if I only say ‘Ram, ram! make money.’”

"Bagaimanapun juga, Angin Utara memang orang yang menyenangkan; sebab sekarang ia telah memberiku seekor domba yang bisa mencetak koin emas ducat kalau aku hanya berkata 'Domba, domba! buatlah uang.'"

“All very true, I daresay”, said his mother; “but I shan’t believe any such stuff until I see the ducats made.”

"Semuanya mungkin benar, kurasa," kata ibunya; "tapi aku tak akan percaya omong kosong semacam itu sampai aku melihat ducat-ducat itu tercetak."

“Ram, ram! make money!” said the lad; but if the Ram made anything, it wasn’t money.

"Domba, domba! buatlah uang!" kata si pemuda; tetapi kalaupun sang domba mencetak sesuatu, itu bukan uang.

So the lad went back again to the North Wind, and blew him up, and said the ram was worth nothing, and he must have his rights for the meal.

Maka si pemuda kembali lagi ke Angin Utara, dan memarahinya habis-habisan, serta bilang domba itu tak berharga sama sekali, dan ia harus mendapatkan haluannya atas tepung itu.

“Well!” said the North Wind; “I’ve nothing else to give you but that old stick in the corner yonder; but it’s a stick of that kind that if you say:

"Baiklah!" kata Angin Utara; "aku tak punya apa-apa lagi untuk kuberikan kepadamu selain tongkat tua itu di sudut sana; tapi itu tongkat semacam itu, kalau kau berkata:

“‘Stick, stick! lay on!’ it lays on till you say: ‘Stick, stick! now stop!’”

"'Tongkat, tongkat! hajar!' ia akan terus menghajar sampai kau berkata: 'Tongkat, tongkat! sekarang berhenti!'"

So, as the way was long, the lad turned in this night too to the landlord; but as he could pretty well guess how things stood as to the cloth and the ram, he lay down at once on the bench and began to snore, as if he were asleep.

Maka, karena jalannya jauh, si pemuda pun singgah malam itu juga di penginapan sang pemilik yang sama; tetapi karena ia sudah bisa menebak dengan baik bagaimana keadaan sebenarnya soal taplak dan domba itu, ia langsung berbaring di bangku dan mulai mendengkur, seolah ia tertidur.

Now the landlord, who easily saw that the stick must be worth something, hunted up one which was like it, and when he heard the lad snore, was going to change the two; but, just as the landlord was about to take it, the lad bawled out: “Stick, stick! lay on!”

Nah sang pemilik penginapan, yang dengan mudah melihat bahwa tongkat itu pastilah berharga, mencari-cari sebuah tongkat yang serupa, dan ketika ia mendengar si pemuda mendengkur, ia hendak menukar keduanya; tetapi, tepat ketika sang pemilik penginapan hendak mengambilnya, si pemuda berteriak, "Tongkat, tongkat! hajar!"

So the stick began to beat the landlord, till he jumped over chairs, and tables, and benches, and yelled and roared:

Maka tongkat itu mulai memukuli sang pemilik penginapan, sampai ia melompati kursi-kursi, dan meja-meja, dan bangku-bangku, sambil menjerit dan meraung,

“Oh my! oh my! bid the stick be still, else it will beat me to death, and you shall have back both your cloth and our ram.”

"Aduh! aduh! suruh tongkat itu berhenti, kalau tidak ia akan memukuliku sampai mati, dan kau akan mendapatkan kembali baik taplak maupun dombamu."

When the lad thought the landlord had got enough, he said:

Ketika si pemuda merasa sang pemilik penginapan sudah cukup dihajar, ia berkata,

“Stick, stick! now stop!”

"Tongkat, tongkat! sekarang berhenti!"

Then he took the cloth and put it into his pocket, and went home with his stick in his hand, leading the ram by a cord round its horns; and so he got his rights for the meal he had lost.

Kemudian ia mengambil taplak itu dan memasukkannya ke sakunya, lalu pulang dengan tongkat di tangannya, menuntun domba itu dengan tali di sekitar tanduknya; dan begitulah ia mendapatkan haluannya atas tepung yang telah hilang darinya.

Open in the Storyteller app Get it on Google Play