Storyteller

The Frog Prince

A free B1-level English story for language learners, readable online in 7 languages, with an option to listen via the free Storyteller app.

Level
B1
Genres
fairy-tale, classic
Reading time
7 min
Languages available
EN, VI, ES, ZH, PT, HI, ID
The Frog Prince cover

A princess drops her golden ball into a spring, and a frog retrieves it — but only if she promises to be his companion. Can she keep her promise and discover the secret hidden beneath the frog's ugly skin?

One fine evening a young princess put on her bonnet and clogs, and went out to take a walk by herself in a wood; and when she came to a cool spring of water, that rose in the midst of it, she sat herself down to rest a while. Now she had a golden ball in her hand, which was her favourite plaything; and she was always tossing it up into the air, and catching it again as it fell. After a time she threw it up so high that she missed catching it as it fell; and the ball bounded away, and rolled along upon the ground, till at last it fell down into the spring.

Pada suatu petang yang cerah, seorang putri muda memakai topinya dan sepatu kayunya, lalu keluar untuk berjalan-jalan sendirian di sebuah hutan; dan ketika ia sampai di sebuah mata air sejuk yang muncul di tengah hutan itu, ia duduk sejenak untuk beristirahat. Ia membawa sebuah bola emas di tangannya, mainan kesayangannya; dan ia selalu melemparkannya ke udara, lalu menangkapnya lagi saat jatuh. Setelah beberapa saat ia melemparkannya begitu tinggi sampai ia tak berhasil menangkapnya saat jatuh; dan bola itu memantul menjauh, lalu bergulir di tanah, sampai akhirnya jatuh ke dalam mata air itu.

The princess looked into the spring after her ball, but it was very deep, so deep that she could not see the bottom of it. Then she began to bewail her loss, and said, ‘Alas! if I could only get my ball again, I would give all my fine clothes and jewels, and everything that I have in the world.’

Sang putri menatap ke dalam mata air itu mencari bolanya, tapi airnya sangat dalam, begitu dalam sampai ia tak bisa melihat dasarnya. Lalu ia mulai meratapi kehilangannya, dan berkata, "Aduh! Andai saja aku bisa mendapatkan bolaku kembali, akan kuberikan semua pakaian dan perhiasan indahku, dan segala yang kumiliki di dunia ini."

Whilst she was speaking, a frog put its head out of the water, and said, ‘Princess, why do you weep so bitterly?’ ‘Alas!’ said she, ‘what can you do for me, you nasty frog? My golden ball has fallen into the spring.’ The frog said, ‘I want not your pearls, and jewels, and fine clothes; but if you will love me, and let me live with you and eat from off your golden plate, and sleep upon your bed, I will bring you your ball again.’

Sementara ia berbicara, seekor katak mengeluarkan kepalanya dari air, dan berkata, "Putri, mengapa kau menangis begitu sedih?" "Aduh!" katanya, "apa yang bisa kau lakukan untukku, katak jelek? Bola emasku jatuh ke dalam mata air." Sang katak berkata, "Aku tak menginginkan mutiara, perhiasan, dan pakaian indahmu; tapi kalau kau mau menyayangiku, dan membiarkanku hidup bersamamu dan makan dari piring emasmu, dan tidur di ranjangmu, aku akan mengambilkan bolamu kembali."

‘What nonsense,’ thought the princess, ‘this silly frog is talking! He can never even get out of the spring to visit me, though he may be able to get my ball for me, and therefore I will tell him he shall have what he asks.’ So she said to the frog, ‘Well, if you will bring me my ball, I will do all you ask.’

"Omong kosong apa," pikir sang putri, "yang dikatakan katak konyol ini! Ia bahkan tak akan pernah bisa keluar dari mata air untuk mengunjungiku, meski mungkin ia bisa mengambilkan bolaku, jadi akan kukatakan padanya ia akan mendapat apa yang ia minta." Maka ia berkata pada katak itu, "Baiklah, kalau kau bawakan bolaku kembali, aku akan lakukan semua yang kau minta."

Then the frog put his head down, and dived deep under the water; and after a little while he came up again, with the ball in his mouth, and threw it on the edge of the spring. As soon as the young princess saw her ball, she ran to pick it up; and she was so overjoyed to have it in her hand again, that she never thought of the frog, but ran home with it as fast as she could. The frog called after her, ‘Stay, princess, and take me with you as you said,’ But she did not stop to hear a word.

Lalu sang katak menundukkan kepalanya, dan menyelam dalam ke bawah air; dan setelah sesaat ia muncul lagi, dengan bola itu di mulutnya, lalu melemparkannya ke tepi mata air. Begitu sang putri muda melihat bolanya, ia berlari untuk mengambilnya; dan ia begitu gembira memilikinya kembali di tangannya, sampai ia sama sekali tak memikirkan sang katak, tapi berlari pulang membawa bolanya secepat mungkin. Sang katak berteriak memanggilnya, "Tunggu, Putri, bawa aku bersamamu seperti yang kau janjikan," Tapi ia tak berhenti untuk mendengarkan sepatah kata pun.

The next day, just as the princess had sat down to dinner, she heard a strange noise—tap, tap—plash, plash—as if something was coming up the marble staircase: and soon afterwards there was a gentle knock at the door, and a little voice cried out and said:

Keesokan harinya, tepat ketika sang putri baru saja duduk untuk makan malam, ia mendengar suara aneh—tok, tok—plas, plas— seolah ada sesuatu yang naik di tangga marmer: dan tak lama kemudian terdengar ketukan lembut di pintu, dan sebuah suara kecil berseru dan berkata:

‘Open the door, my princess dear, Open the door to thy true love here! And mind the words that thou and I said By the fountain cool, in the greenwood shade.’

"Bukalah pintu, putriku sayang, Bukalah pintu untuk kekasihmu di sini! Dan ingatlah kata-kata yang kau dan aku ucapkan Di dekat mata air sejuk, dalam naungan hutan hijau."

Then the princess ran to the door and opened it, and there she saw the frog, whom she had quite forgotten. At this sight she was sadly frightened, and shutting the door as fast as she could came back to her seat. The king, her father, seeing that something had frightened her, asked her what was the matter. ‘There is a nasty frog,’ said she, ‘at the door, that lifted my ball for me out of the spring this morning: I told him that he should live with me here, thinking that he could never get out of the spring; but there he is at the door, and he wants to come in.’

Lalu sang putri berlari ke pintu dan membukanya, dan di sana ia melihat sang katak, yang sudah sama sekali ia lupakan. Melihat itu ia sangat ketakutan, dan menutup pintu secepat mungkin lalu kembali ke tempat duduknya. Sang raja, ayahnya, melihat ada sesuatu yang menakutinya, bertanya apa yang terjadi. "Ada seekor katak jelek," katanya, "di pintu, yang mengambilkan bolaku dari mata air tadi pagi: aku bilang padanya ia boleh tinggal bersamaku di sini, kupikir ia tak akan pernah bisa keluar dari mata air itu; tapi sekarang ia ada di pintu, dan ia ingin masuk."

While she was speaking the frog knocked again at the door, and said:

Sementara ia berbicara sang katak mengetuk pintu lagi, dan berkata:

‘Open the door, my princess dear, Open the door to thy true love here! And mind the words that thou and I said By the fountain cool, in the greenwood shade.’

"Bukalah pintu, putriku sayang, Bukalah pintu untuk kekasihmu di sini! Dan ingatlah kata-kata yang kau dan aku ucapkan Di dekat mata air sejuk, dalam naungan hutan hijau."

Then the king said to the young princess, ‘As you have given your word you must keep it; so go and let him in.’ She did so, and the frog hopped into the room, and then straight on—tap, tap—plash, plash—from the bottom of the room to the top, till he came up close to the table where the princess sat. ‘Pray lift me upon chair,’ said he to the princess, ‘and let me sit next to you.’ As soon as she had done this, the frog said, ‘Put your plate nearer to me, that I may eat out of it.’

Lalu sang raja berkata pada sang putri muda, "Karena kau sudah memberikan janjimu, kau harus menepatinya; jadi pergilah dan biarkan ia masuk." Ia pun melakukannya, dan sang katak melompat masuk ke ruangan, lalu terus—tok, tok—plas, plas—dari ujung bawah ruangan sampai ke atas, hingga ia sampai dekat meja tempat sang putri duduk. "Tolong angkat aku ke atas kursi," katanya pada sang putri, "dan biarkan aku duduk di sampingmu." Begitu ia melakukannya, sang katak berkata, "Dekatkan piringmu padaku, supaya aku bisa makan darinya."

This she did, and when he had eaten as much as he could, he said, ‘Now I am tired; carry me upstairs, and put me into your bed.’ And the princess, though very unwilling, took him up in her hand, and put him upon the pillow of her own bed, where he slept all night long. As soon as it was light he jumped up, hopped downstairs, and went out of the house. ‘Now, then,’ thought the princess, ‘at last he is gone, and I shall be troubled with him no more.’

Ia pun melakukannya, dan ketika sang katak sudah makan sekenyangnya, ia berkata, "Sekarang aku lelah; bawa aku naik ke atas, dan letakkan aku di ranjangmu." Dan sang putri, meski sangat enggan, mengangkatnya di tangannya, dan meletakkannya di bantal ranjangnya sendiri, tempat ia tidur sepanjang malam. Begitu hari terang ia melompat bangun, melompat turun tangga, dan pergi keluar rumah. "Nah, sekarang," pikir sang putri, "akhirnya ia pergi, dan aku tak akan diganggu olehnya lagi."

But she was mistaken; for when night came again she heard the same tapping at the door; and the frog came once more, and said:

Tapi ia keliru; sebab ketika malam tiba lagi ia mendengar ketukan yang sama di pintu; dan sang katak datang sekali lagi, dan berkata:

‘Open the door, my princess dear, Open the door to thy true love here! And mind the words that thou and I said By the fountain cool, in the greenwood shade.’

"Bukalah pintu, putriku sayang, Bukalah pintu untuk kekasihmu di sini! Dan ingatlah kata-kata yang kau dan aku ucapkan Di dekat mata air sejuk, dalam naungan hutan hijau."

And when the princess opened the door the frog came in, and slept upon her pillow as before, till the morning broke. And the third night he did the same. But when the princess awoke on the following morning she was astonished to see, instead of the frog, a handsome prince, gazing on her with the most beautiful eyes she had ever seen, and standing at the head of her bed.

Dan ketika sang putri membuka pintu sang katak masuk, dan tidur di bantalnya seperti sebelumnya, sampai pagi tiba. Dan pada malam ketiga ia melakukan hal yang sama. Tapi ketika sang putri terbangun keesokan paginya ia terkejut melihat, alih-alih sang katak, seorang pangeran tampan, menatapnya dengan mata paling indah yang pernah ia lihat, berdiri di ujung ranjangnya.

He told her that he had been enchanted by a spiteful fairy, who had changed him into a frog; and that he had been fated so to abide till some princess should take him out of the spring, and let him eat from her plate, and sleep upon her bed for three nights. ‘You,’ said the prince, ‘have broken his cruel charm, and now I have nothing to wish for but that you should go with me into my father’s kingdom, where I will marry you, and love you as long as you live.’

Ia menceritakan padanya bahwa ia telah disihir oleh seorang peri jahat, yang mengubahnya menjadi katak; dan bahwa ia ditakdirkan untuk tetap begitu sampai ada seorang putri yang mau mengangkatnya keluar dari mata air, dan membiarkannya makan dari piringnya, dan tidur di ranjangnya selama tiga malam. "Kau," kata sang pangeran, "telah memutus kutukan kejamnya, dan sekarang aku tak ingin apa pun lagi selain kau ikut bersamaku ke kerajaan ayahku, tempat aku akan menikahimu, dan menyayangimu selama kau hidup."

The young princess, you may be sure, was not long in saying ‘Yes’ to all this; and as they spoke a gay coach drove up, with eight beautiful horses, decked with plumes of feathers and a golden harness; and behind the coach rode the prince’s servant, faithful Heinrich, who had bewailed the misfortunes of his dear master during his enchantment so long and so bitterly, that his heart had well-nigh burst.

Sang putri muda, bisa dipastikan, tak lama menjawab "Ya" untuk semua ini; dan ketika mereka berbicara sebuah kereta megah datang, ditarik delapan kuda indah, dihiasi bulu-bulu dan tali kekang emas; dan di belakang kereta itu naik pelayan sang pangeran, Heinrich yang setia, yang telah meratapi nasib malang tuannya tercinta selama masa sihirnya begitu lama dan begitu pedih, sampai hatinya nyaris pecah.

They then took leave of the king, and got into the coach with eight horses, and all set out, full of joy and merriment, for the prince’s kingdom, which they reached safely; and there they lived happily a great many years.

Mereka lalu berpamitan pada sang raja, dan naik ke kereta dengan delapan kuda itu, dan semua berangkat, penuh sukacita dan keriangan, menuju kerajaan sang pangeran, yang mereka capai dengan selamat; dan di sana mereka hidup berbahagia selama bertahun- tahun lamanya.

Open in the Storyteller app Get it on Google Play