Storyteller

Briar Rose

A free B1-level English story for language learners, readable online in 7 languages, with an option to listen via the free Storyteller app.

Level
B1
Genres
fairy-tale, classic
Reading time
8 min
Languages available
EN, VI, ES, ZH, PT, HI, ID
Briar Rose cover

When a wicked fairy's curse dooms a princess to fall into an endless sleep, an enchanted forest of thorns grows up around her castle — until a brave prince fights his way through to wake her.

A king and queen once upon a time reigned in a country a great way off, where there were in those days fairies. Now this king and queen had plenty of money, and plenty of fine clothes to wear, and plenty of good things to eat and drink, and a coach to ride out in every day: but though they had been married many years they had no children, and this grieved them very much indeed.

Dahulu kala ada seorang raja dan ratu yang memerintah di sebuah negeri yang sangat jauh, di mana pada masa itu masih ada peri-peri. Nah, raja dan ratu ini punya banyak uang, dan banyak pakaian bagus untuk dikenakan, dan banyak makanan serta minuman lezat, dan sebuah kereta untuk berkeliling setiap hari: tetapi meskipun mereka sudah menikah bertahun-tahun, mereka belum juga memiliki anak, dan ini membuat mereka sangat bersedih.

But one day as the queen was walking by the side of the river, at the bottom of the garden, she saw a poor little fish, that had thrown itself out of the water, and lay gasping and nearly dead on the bank. Then the queen took pity on the little fish, and threw it back again into the river; and before it swam away it lifted its head out of the water and said, ‘I know what your wish is, and it shall be fulfilled, in return for your kindness to me—you will soon have a daughter.’

Tetapi suatu hari ketika sang ratu sedang berjalan-jalan di tepi sungai, di ujung taman, ia melihat seekor ikan kecil yang malang, yang telah melompat keluar dari air, dan terbaring megap-megap hampir mati di tepian. Maka sang ratu pun merasa kasihan pada ikan kecil itu, dan melemparkannya kembali ke sungai; dan sebelum ikan itu berenang pergi, ia mengangkat kepalanya keluar dari air dan berkata, "Aku tahu apa keinginanmu, dan itu akan terkabul, sebagai balasan atas kebaikanmu kepadaku—kau akan segera memiliki seorang putri."

What the little fish had foretold soon came to pass; and the queen had a little girl, so very beautiful that the king could not cease looking on it for joy, and said he would hold a great feast and make merry, and show the child to all the land. So he asked his kinsmen, and nobles, and friends, and neighbours. But the queen said, ‘I will have the fairies also, that they might be kind and good to our little daughter.’

Apa yang telah diramalkan ikan kecil itu pun segera terjadi; dan sang ratu melahirkan seorang bayi perempuan, yang begitu cantik hingga sang raja tak henti-hentinya memandanginya dengan penuh kegembiraan, dan berkata ia akan mengadakan pesta besar dan bersukaria, serta memperlihatkan sang anak kepada seluruh negeri. Maka ia pun mengundang para kerabat, bangsawan, sahabat, dan tetangganya. Tetapi sang ratu berkata, "Aku juga ingin mengundang para peri, agar mereka bisa baik dan penuh kasih kepada putri kecil kita."

Now there were thirteen fairies in the kingdom; but as the king and queen had only twelve golden dishes for them to eat out of, they were forced to leave one of the fairies without asking her. So twelve fairies came, each with a high red cap on her head, and red shoes with high heels on her feet, and a long white wand in her hand: and after the feast was over they gathered round in a ring and gave all their best gifts to the little princess. One gave her goodness, another beauty, another riches, and so on till she had all that was good in the world.

Nah, ada tiga belas peri di kerajaan itu; tetapi karena raja dan ratu hanya memiliki dua belas piring emas untuk mereka makan, mereka terpaksa tidak mengundang satu peri. Maka datanglah dua belas peri, masing-masing dengan topi merah tinggi di kepalanya, dan sepatu merah bertumit tinggi di kakinya, serta sebatang tongkat putih panjang di tangannya: dan setelah pesta selesai mereka berkumpul membentuk lingkaran dan memberikan semua hadiah terbaik mereka kepada sang putri kecil. Satu memberinya kebaikan hati, satu lagi kecantikan, satu lagi kekayaan, dan begitu seterusnya hingga ia memiliki segala hal baik di dunia ini.

Just as eleven of them had done blessing her, a great noise was heard in the courtyard, and word was brought that the thirteenth fairy was come, with a black cap on her head, and black shoes on her feet, and a broomstick in her hand: and presently up she came into the dining-hall. Now, as she had not been asked to the feast she was very angry, and scolded the king and queen very much, and set to work to take her revenge.

Tepat ketika sebelas dari mereka telah selesai memberkatinya, terdengar suara ribut besar di halaman istana, dan datanglah kabar bahwa peri ketiga belas telah tiba, dengan topi hitam di kepalanya, dan sepatu hitam di kakinya, serta sebatang sapu di tangannya: dan tak lama kemudian ia pun naik ke aula makan. Nah, karena ia tidak diundang ke pesta itu, ia sangat marah, dan memarahi raja dan ratu habis-habisan, lalu mulai merencanakan balas dendamnya.

So she cried out, ‘The king’s daughter shall, in her fifteenth year, be wounded by a spindle, and fall down dead.’ Then the twelfth of the friendly fairies, who had not yet given her gift, came forward, and said that the evil wish must be fulfilled, but that she could soften its mischief; so her gift was, that the king’s daughter, when the spindle wounded her, should not really die, but should only fall asleep for a hundred years.

Maka ia pun berseru, "Putri sang raja ini, pada usia lima belas tahun, akan tertusuk oleh sebuah alat pemintal, dan jatuh mati." Kemudian peri kedua belas yang ramah, yang belum sempat memberikan hadiahnya, maju ke depan, dan berkata bahwa harapan jahat itu harus tetap terkabul, tetapi ia bisa meringankan akibat buruknya; maka hadiahnya adalah, ketika alat pemintal itu melukai putri sang raja, ia tak akan benar-benar mati, melainkan hanya akan tertidur selama seratus tahun.

However, the king hoped still to save his dear child altogether from the threatened evil; so he ordered that all the spindles in the kingdom should be bought up and burnt. But all the gifts of the first eleven fairies were in the meantime fulfilled; for the princess was so beautiful, and well behaved, and good, and wise, that everyone who knew her loved her.

Namun, sang raja masih berharap bisa menyelamatkan putrinya yang tersayang sepenuhnya dari kutukan yang mengancam itu; maka ia memerintahkan agar semua alat pemintal di kerajaan itu dibeli dan dibakar habis. Tetapi semua hadiah dari sebelas peri pertama itu tetap terkabul; sebab sang putri begitu cantik, berperilaku baik, baik hati, dan bijaksana, sehingga semua orang yang mengenalnya mencintainya.

It happened that, on the very day she was fifteen years old, the king and queen were not at home, and she was left alone in the palace. So she roved about by herself, and looked at all the rooms and chambers, till at last she came to an old tower, to which there was a narrow staircase ending with a little door. In the door there was a golden key, and when she turned it the door sprang open, and there sat an old lady spinning away very busily.

Kebetulan, tepat pada hari ia berusia lima belas tahun, raja dan ratu sedang tidak berada di rumah, dan ia ditinggal sendirian di istana. Maka ia pun berkeliling sendirian, melihat-lihat semua ruangan dan kamar, hingga akhirnya ia sampai ke sebuah menara tua, yang menuju ke sana ada tangga sempit yang berakhir dengan sebuah pintu kecil. Di pintu itu ada sebuah kunci emas, dan ketika ia memutarnya, pintu itu terbuka, dan di sana duduklah seorang wanita tua yang sedang sibuk memintal.

‘Why, how now, good mother,’ said the princess; ‘what are you doing there?’ ‘Spinning,’ said the old lady, and nodded her head, humming a tune, while buzz! went the wheel. ‘How prettily that little thing turns round!’ said the princess, and took the spindle and began to try and spin. But scarcely had she touched it, before the fairy’s prophecy was fulfilled; the spindle wounded her, and she fell down lifeless on the ground.

"Wah, apa yang sedang Nenek lakukan di sana?" tanya sang putri. "Memintal," kata wanita tua itu, sambil mengangguk-angguk, bersenandung sebuah lagu, sementara roda pemintal itu berdengung! "Betapa cantiknya benda kecil itu berputar!" kata sang putri, dan mengambil alat pemintal itu lalu mencoba memintal. Tetapi begitu ia menyentuhnya, ramalan sang peri pun terkabul; alat pemintal itu melukainya, dan ia jatuh tak sadarkan diri ke tanah.

However, she was not dead, but had only fallen into a deep sleep; and the king and the queen, who had just come home, and all their court, fell asleep too; and the horses slept in the stables, and the dogs in the court, the pigeons on the house-top, and the very flies slept upon the walls.

Namun, ia tidak mati, melainkan hanya jatuh ke dalam tidur yang sangat dalam; dan raja serta ratu, yang baru saja pulang ke rumah, beserta seluruh istananya, ikut tertidur pula; dan kuda-kuda tertidur di kandangnya, anjing-anjing di halaman, merpati-merpati di atap rumah, dan bahkan lalat-lalat pun tertidur di dinding.

Even the fire on the hearth left off blazing, and went to sleep; the jack stopped, and the spit that was turning about with a goose upon it for the king’s dinner stood still; and the cook, who was at that moment pulling the kitchen-boy by the hair to give him a box on the ear for something he had done amiss, let him go, and both fell asleep; the butler, who was slyly tasting the ale, fell asleep with the jug at his lips: and thus everything stood still, and slept soundly.

Bahkan api di perapian berhenti berkobar, dan ikut tertidur; roda pemutar berhenti, dan tusukan panggang yang sedang memutar seekor angsa untuk makan malam sang raja pun berhenti bergerak; dan juru masak, yang saat itu sedang menjambak rambut anak pelayan dapur untuk menampar telinganya karena suatu kesalahan, melepaskannya, dan keduanya pun tertidur; kepala pelayan, yang diam-diam sedang mencicipi bir, ikut tertidur dengan kendi masih menempel di bibirnya: dan begitulah, semuanya terdiam, dan tertidur lelap.

A large hedge of thorns soon grew round the palace, and every year it became higher and thicker; till at last the old palace was surrounded and hidden, so that not even the roof or the chimneys could be seen. But there went a report through all the land of the beautiful sleeping Briar Rose (for so the king’s daughter was called): so that, from time to time, several kings’ sons came, and tried to break through the thicket into the palace. This, however, none of them could ever do; for the thorns and bushes laid hold of them, as it were with hands; and there they stuck fast, and died wretchedly.

Tak lama kemudian tumbuhlah semak duri yang besar mengelilingi istana, dan setiap tahun semak itu semakin tinggi dan semakin lebat; hingga akhirnya istana tua itu terkepung dan tersembunyi sepenuhnya, sehingga bahkan atap ataupun cerobong asapnya tak lagi terlihat. Tetapi tersiar kabar ke seluruh negeri tentang Briar Rose yang cantik dan sedang tertidur (sebab begitulah putri sang raja itu disebut): sehingga, dari waktu ke waktu, beberapa putra raja datang, dan mencoba menerobos masuk melalui semak lebat itu ke dalam istana. Namun, tak seorang pun di antara mereka pernah berhasil; sebab duri-duri dan semak-semak itu mencengkeram mereka, seolah-olah dengan tangan; dan mereka pun terjebak di sana, dan mati dengan menyedihkan.

After many, many years there came a king’s son into that land: and an old man told him the story of the thicket of thorns; and how a beautiful palace stood behind it, and how a wonderful princess, called Briar Rose, lay in it asleep, with all her court. He told, too, how he had heard from his grandfather that many, many princes had come, and had tried to break through the thicket, but that they had all stuck fast in it, and died. Then the young prince said, ‘All this shall not frighten me; I will go and see this Briar Rose.’ The old man tried to hinder him, but he was bent upon going.

Setelah bertahun-tahun, bertahun-tahun lamanya, datanglah seorang putra raja ke negeri itu: dan seorang pria tua menceritakan kepadanya kisah semak duri itu; dan bagaimana sebuah istana yang indah berdiri di baliknya, dan bagaimana seorang putri luar biasa, bernama Briar Rose, tertidur di dalamnya, bersama seluruh istananya. Ia juga menceritakan, bagaimana ia mendengar dari kakeknya bahwa banyak sekali pangeran telah datang, dan mencoba menerobos semak lebat itu, tetapi mereka semua terjebak di dalamnya, dan mati. Kemudian sang pangeran muda berkata, "Semua ini tak akan menakutiku; aku akan pergi dan melihat Briar Rose ini." Pria tua itu mencoba mencegahnya, tetapi ia bertekad untuk pergi.

Now that very day the hundred years were ended; and as the prince came to the thicket he saw nothing but beautiful flowering shrubs, through which he went with ease, and they shut in after him as thick as ever. Then he came at last to the palace, and there in the court lay the dogs asleep; and the horses were standing in the stables; and on the roof sat the pigeons fast asleep, with their heads under their wings.

Nah, tepat pada hari itu seratus tahun telah berakhir; dan ketika sang pangeran sampai di semak lebat itu, ia tak melihat apa pun selain semak-semak berbunga yang indah, yang bisa ia lalui dengan mudah, dan semak itu menutup kembali di belakangnya setebal sebelumnya. Kemudian akhirnya ia sampai di istana, dan di sana di halaman terbaringlah anjing-anjing yang tertidur; dan kuda-kuda berdiri di kandangnya; dan di atap duduklah merpati-merpati yang tertidur lelap, dengan kepala mereka terselip di bawah sayap.

And when he came into the palace, the flies were sleeping on the walls; the spit was standing still; the butler had the jug of ale at his lips, going to drink a draught; the maid sat with a fowl in her lap ready to be plucked; and the cook in the kitchen was still holding up her hand, as if she was going to beat the boy.

Dan ketika ia masuk ke dalam istana, lalat-lalat sedang tertidur di dinding; tusukan panggang itu berdiri diam; kepala pelayan memegang kendi bir di bibirnya, hendak meneguknya; pelayan wanita duduk dengan seekor unggas di pangkuannya siap untuk dicabuti bulunya; dan juru masak di dapur masih mengangkat tangannya, seolah-olah hendak memukul si anak pelayan.

Then he went on still farther, and all was so still that he could hear every breath he drew; till at last he came to the old tower, and opened the door of the little room in which Briar Rose was; and there she lay, fast asleep on a couch by the window. She looked so beautiful that he could not take his eyes off her, so he stooped down and gave her a kiss. But the moment he kissed her she opened her eyes and awoke, and smiled upon him; and they went out together; and soon the king and queen also awoke, and all the court, and gazed on each other with great wonder.

Kemudian ia berjalan lebih jauh lagi, dan semuanya begitu sunyi hingga ia bisa mendengar setiap tarikan napasnya sendiri; hingga akhirnya ia sampai ke menara tua itu, dan membuka pintu kamar kecil tempat Briar Rose berada; dan di sana ia terbaring, tertidur lelap di sebuah dipan dekat jendela. Ia tampak begitu cantik hingga sang pangeran tak bisa mengalihkan pandangannya darinya, maka ia pun membungkuk dan memberinya sebuah ciuman. Namun begitu ia menciumnya, sang putri membuka matanya dan terbangun, dan tersenyum kepadanya; dan mereka pun keluar bersama; dan tak lama kemudian raja dan ratu pun ikut terbangun, beserta seluruh istana, dan mereka semua saling memandang dengan penuh keheranan.

And the horses shook themselves, and the dogs jumped up and barked; the pigeons took their heads from under their wings, and looked about and flew into the fields; the flies on the walls buzzed again; the fire in the kitchen blazed up; round went the jack, and round went the spit, with the goose for the king’s dinner upon it; the butler finished his draught of ale; the maid went on plucking the fowl; and the cook gave the boy the box on his ear.

Dan kuda-kuda mengibaskan tubuhnya, dan anjing-anjing melompat bangun dan menggonggong; merpati-merpati mengeluarkan kepalanya dari bawah sayap, melihat sekeliling lalu terbang ke ladang; lalat-lalat di dinding berdengung kembali; api di dapur berkobar lagi; roda pemutar berputar kembali, dan tusukan panggang pun berputar kembali, dengan angsa untuk makan malam sang raja masih di atasnya; kepala pelayan menyelesaikan teguk birnya; pelayan wanita melanjutkan mencabuti bulu unggasnya; dan juru masak pun menampar telinga si anak pelayan.

And then the prince and Briar Rose were married, and the wedding feast was given; and they lived happily together all their lives long.

Dan kemudian sang pangeran dan Briar Rose pun menikah, dan pesta pernikahan diadakan; dan mereka hidup bahagia bersama sepanjang hidup mereka.

Open in the Storyteller app Get it on Google Play