The Buyout Clause
Cerita bahasa Inggris gratis level C1 untuk pelajar, bisa dibaca online dalam 5 bahasa, dengan pilihan untuk mendengarkannya di aplikasi Storyteller gratis.
When a corporate buyer offers to purchase their eight-year-old letterpress studio, two business partners discover they disagree completely about what the shop was ever actually for.
Itu cuplikannya! Dengarkan cerita lengkapnya di aplikasi Storyteller gratis. Unduh aplikasi
Audio belum tersedia saat ini.
Halina and Gideon had run the letterpress studio together for eight years without a single written agreement about what would happen if one of them wanted out. It had never seemed necessary, the way a smoke detector never seems necessary until the toast catches fire. Then a company calling itself Bright Column Holdings offered to buy them out, and Gideon, to Halina's genuine astonishment, wanted to say yes.
Halina dan Gideon sudah delapan tahun mengelola studio cetak letterpress bersama tanpa satu pun perjanjian tertulis tentang apa yang terjadi bila salah satu dari mereka ingin keluar. Hal itu tak pernah terasa perlu, seperti alarm asap yang tak pernah terasa perlu sampai roti panggang terbakar. Lalu sebuah perusahaan bernama Bright Column Holdings menawarkan untuk membeli saham mereka, dan Gideon, yang membuat Halina sungguh terheran-heran, ingin mengatakan ya.
"It's not even a real name," she said, reading the offer letter a third time at the shop's one working table. "Bright Column. It sounds like a vitamin."
"Namanya saja tidak masuk akal," kata Halina sambil membaca surat penawaran itu untuk ketiga kalinya di satu-satunya meja kerja toko yang masih bagus. "Bright Column. Kedengarannya seperti vitamin."
"It's four hundred thousand dollars, Halina. That's not a vitamin, whatever it sounds like." Gideon rubbed his eyes, the way he did when he'd already had this argument in his head several times before saying any of it out loud. "I'm forty-four. I have a kid starting college in three years. I can't keep printing wedding invitations on faith."
"Empat ratus ribu dolar, Halina. Itu bukan vitamin, kedengarannya seperti apa pun." Gideon mengusap matanya, seperti yang ia lakukan saat sudah berdebat soal ini dalam kepalanya beberapa kali sebelum mengatakannya keras-keras. "Aku empat puluh empat tahun. Anakku mulai kuliah tiga tahun lagi. Aku tak bisa terus mencetak undangan pernikahan hanya berbekal keyakinan."
She understood the arithmetic; she simply didn't believe the arithmetic was the whole question. Had money been the only thing either of them cared about, they would have sold the presses years ago and taken ordinary jobs with ordinary hours. Something else had kept them both here through two recessions and one flood, and she wasn't ready to pretend that thing had stopped mattering just because a number had finally gotten large enough to notice.
Ia mengerti hitungannya; ia hanya tidak percaya hitungan itu adalah seluruh persoalannya. Seandainya uang satu-satunya yang mereka pedulikan, mereka sudah menjual mesin cetak itu bertahun-tahun lalu dan mengambil pekerjaan biasa dengan jam biasa. Sesuatu yang lain telah menahan mereka berdua di sini melewati dua resesi dan satu banjir, dan ia belum siap berpura-pura sesuatu itu tak lagi penting hanya karena sebuah angka akhirnya cukup besar untuk diperhatikan.
"What happens to the shop name?" she asked. "The equipment? Do we even get a say in what they do with it, once it's theirs?"
"Bagaimana dengan nama toko?" tanyanya. "Peralatannya? Apa kita masih punya suara soal apa yang mereka lakukan dengannya setelah jadi milik mereka?"
"They keep the name for branding. The presses go into storage, probably. Realistically, in a year, it's a logo on a website that used to be a place." Gideon said this flatly, not because he didn't feel it but because, she suspected, feeling it too much would have made the offer impossible to accept.
"Mereka akan mempertahankan namanya untuk branding. Mesin cetaknya mungkin masuk gudang. Realistisnya, setahun lagi, ini hanya logo di situs web yang dulu sebuah tempat." Gideon mengatakannya dengan datar, bukan karena tak merasakannya, melainkan karena, curiga Halina, merasakannya terlalu dalam akan membuat tawaran itu mustahil diterima.
"So we'd be selling the thing that makes it worth anything, and keeping the parts that don't matter."
"Jadi kita menjual hal yang membuat semua ini berharga, dan menyimpan bagian-bagian yang tak penting."
"Or," he said, "we'd be finally getting paid for eight years of not sleeping, and letting someone else worry about the roof."
"Atau," kata Gideon, "akhirnya kita dibayar untuk delapan tahun kurang tidur, dan membiarkan orang lain memikirkan atapnya."
Neither of them was wrong, which was somehow worse than either of them being wrong. Rarely had Halina felt so unable to argue with a position she still, completely, disagreed with. She looked around the shop: the cat asleep in a bin of scrap paper, the proof of a wedding invitation drying on the rack, ink she'd still be scrubbing off her hands at midnight. Then she tried to weigh it honestly against a number she couldn't actually picture spending.
Tak ada yang salah di antara mereka, yang entah bagaimana lebih buruk daripada salah satunya salah. Jarang sekali Halina merasa begitu tak mampu membantah sebuah pendirian yang tetap, sepenuhnya, ia tentang. Ia memandang berkeliling toko: kucing tidur di tong kertas bekas, contoh cetak undangan pernikahan yang sedang mengering di rak, tinta yang tengah malam nanti masih akan ia gosok dari tangannya. Lalu ia mencoba menimbangnya dengan jujur terhadap sebuah angka yang tak bisa ia bayangkan cara membelanjakannya.
"Give me a week," she said finally. "Not to talk you out of it. To figure out if there's a version of yes I can actually live with."
"Beri aku seminggu," katanya akhirnya. "Bukan untuk membujukmu mundur. Untuk mencari tahu apakah ada versi 'ya' yang bisa kuterima."
"And if there isn't one?"
"Dan kalau tidak ada?"
"Then you buy me out instead, and I find out the hard way whether I love this place enough to run it alone." She almost laughed, hearing herself say it. "Which, frankly, terrifies me more than Bright Column Holdings does."
"Kalau begitu kamu beli saja sahamku, dan aku akan tahu dengan cara yang pahit apakah aku cukup mencintai tempat ini untuk mengelolanya sendirian." Ia hampir tertawa mendengar dirinya mengatakannya. "Yang, terus terang, lebih menakutkanku daripada Bright Column Holdings."
Gideon managed something close to a smile for the first time since the offer had arrived. "That," he said, "is the most honest either of us has been all week."
Gideon berhasil menampilkan sesuatu yang mendekati senyum untuk pertama kalinya sejak penawaran itu datang. "Itu," katanya, "hal paling jujur yang kita katakan seminggu ini."






