Sampul The Rescue Dog's First Search

The call comes at dusk, while Emmerich is still washing dishes. A hiker has not returned from the ridge, and the fog has settled so thickly on the hillside that the helicopter cannot fly. By the time he has loaded the car, Kaja is already waiting at the door in her orange vest.

Panggilan itu datang saat senja, ketika Emmerich masih mencuci piring. Seorang pendaki belum kembali dari punggung bukit, dan kabut turun begitu tebal di lereng sehingga helikopter tidak bisa terbang. Ketika ia selesai memuat mobil, Kaja sudah menunggu di pintu dengan rompi oranyenya.

He has trained her for two years. They have searched for hidden volunteers in forests, quarries, and abandoned barns, and every time she has found her person within minutes. But those were exercises. Today, someone is actually missing, and his own heartbeat feels louder than the engine.

Ia sudah melatihnya selama dua tahun. Mereka pernah mencari relawan yang bersembunyi di hutan, tambang batu, dan lumbung terbengkalai, dan setiap kali Kaja menemukan orangnya dalam hitungan menit. Namun, itu semua latihan. Hari ini, seseorang benar-benar hilang, dan detak jantungnya sendiri terasa lebih keras daripada suara mesin.

At the base camp, a coordinator unfolds a map on the hood of a van. The hiker was last seen near the upper trail, he explains, and the teams will fan out along the path. "Emmerich, you take the north slope," he says. "Stay on the trail, and keep your radio on."

Di pos pangkalan, seorang koordinator membentangkan peta di atas kap sebuah van. Pendaki itu terakhir terlihat di dekat jalur atas, jelasnya, dan tim-tim akan menyebar di sepanjang jalan setapak. "Emmerich, kamu ambil lereng utara," katanya. "Tetap di jalur, dan biarkan radiomu menyala."

The fog is like wet cotton. Emmerich's flashlight lights up only a few meters of grass and stone. He lets Kaja off the lead, and she works the air in wide, quiet curves, her nose high, her tail low.

Kabut itu seperti kapas basah. Senter Emmerich hanya menerangi beberapa meter rumput dan batu. Ia melepaskan tali Kaja, dan anjing itu menyisir udara dengan lengkungan lebar yang tenang, hidungnya tinggi, ekornya rendah.

Fifteen minutes in, she stops. Then, to his surprise, she turns away from the trail and trots downhill, toward a gully full of black bushes and loose rock.

Lima belas menit kemudian, Kaja berhenti. Lalu, yang mengejutkannya, ia berbalik dari jalur dan berlari kecil menuruni lereng, menuju sebuah ngarai penuh semak hitam dan batu lepas.

"Kaja, here," he calls. She hesitates, looks back at him, and then turns again toward the gully.

"Kaja, sini," panggilnya. Anjing itu ragu, menoleh padanya, lalu kembali berbalik ke arah ngarai.

Everything in him says she is wrong. The hiker was last seen high on the ridge, and nobody sensible would walk down into a ravine in this weather. The coordinator's voice replays in his head: stay on the trail. If he follows the dog and she is mistaken, he will lose time, and time is the one thing the hiker may not have.

Seluruh dirinya mengatakan anjing itu salah. Pendaki itu terakhir terlihat tinggi di punggung bukit, dan tidak ada orang waras yang akan turun ke jurang dalam cuaca seperti ini. Suara sang koordinator terulang di kepalanya: tetap di jalur. Kalau ia mengikuti anjing itu dan ternyata keliru, ia akan kehilangan waktu, dan waktu adalah satu-satunya hal yang mungkin tidak dimiliki si pendaki.

But Emmerich remembers his instructor's favorite sentence, delivered with a shrug in a rainy parking lot. "You are the legs and the radio," she used to say. "The nose belongs to the dog."

Namun, Emmerich teringat kalimat favorit instrukturnya, yang diucapkan sambil mengangkat bahu di sebuah tempat parkir yang hujan. "Kamu itu kaki dan radionya," katanya dulu. "Hidung itu milik anjing."

He breathes in, lets out his doubt with the breath, and follows.

Ia menarik napas, mengembuskan keraguannya bersama napas itu, lalu mengikuti.

The ground drops steeply. Twice, his boots slide on wet stones, and he has to grab at a branch. Kaja moves ahead of him, sure and unhurried, and then she stops so abruptly that he nearly walks into her.

Tanahnya menurun curam. Dua kali sepatu botnya tergelincir di atas batu basah, dan ia harus berpegangan pada sebatang dahan. Kaja bergerak di depannya, yakin dan tidak terburu-buru, lalu berhenti begitu mendadak sampai ia hampir menabraknya.

Her bark is sharp and clear, exactly as she was taught. Beneath an overhang of rock, half hidden by ferns, a figure in a gray jacket lifts a hand into the beam of his light. "I took the wrong path," a hoarse voice says. "I think I twisted my ankle. I was ready to wait until morning."

Gonggongannya tajam dan jelas, persis seperti yang diajarkan kepadanya. Di bawah tonjolan batu, setengah tersembunyi di balik pakis, sesosok orang berjaket abu-abu mengangkat tangan ke dalam sorot cahayanya. "Saya salah jalan," kata sebuah suara serak. "Sepertinya pergelangan kaki saya terkilir. Saya sudah siap menunggu sampai pagi."

Emmerich kneels, wraps the hiker in a foil blanket, and reaches for the radio with unsteady fingers. "Base, this is Emmerich," he says. "We have her. We're in the gully, south of the trail."

Emmerich berlutut, membungkus pendaki itu dengan selimut foil, dan meraih radio dengan jari yang gemetar. "Pangkalan, ini Emmerich," katanya. "Kami menemukannya. Kami di ngarai, di selatan jalur."

Behind him, Kaja takes the knotted rope from his vest pocket and shakes it hard.

Di belakangnya, Kaja mengambil tali bersimpul dari saku rompinya dan mengguncangnya kuat-kuat.

🧠 Cek pemahamanmu

  1. Why is the search so difficult?

    Lihat jawaban

    Jawaban: Thick fog covers the hillside

    The fog is so thick that the helicopter cannot fly.

  2. What does Kaja do that Emmerich doubts?

    Lihat jawaban

    Jawaban: She leaves the trail and goes downhill to a gully

    She turns away from the trail and trots down toward the gully.

  3. What helps him decide to trust her?

    Lihat jawaban

    Jawaban: He remembers that the nose belongs to the dog

    His instructor taught him that he is the legs and the radio, and the nose belongs to the dog.

Suka ceritanya? Dengarkan versi lengkap dan cari arti kata apa pun di aplikasi

  • Ketuk kata apa pun untuk melihat artinya
  • Dengarkan setiap cerita sampai habis dan baca offline
  • Ulangi kosakata, latih pelafalan, dan kerjakan kuis
Temukan di Google Play