Sampul The Lake Swim

Every August, the town held a two-kilometer swim across the lake, and this year Eira and her father had entered together. He had been talking about it for months. As a young man, he said, he had swum in far colder water than this, and he had never needed a wetsuit.

Setiap bulan Agustus, kota itu mengadakan lomba renang dua kilometer menyeberangi danau, dan tahun ini Eira dan ayahnya mendaftar bersama. Ayahnya sudah membicarakannya selama berbulan-bulan. Waktu muda, katanya, ia pernah berenang di air yang jauh lebih dingin dari ini, dan ia tidak pernah butuh pakaian selam.

On the morning of the race, the lake lay flat and silver under a thin mist. Two hundred swimmers in orange caps stood shivering on the shingle. Eira had been training three evenings a week, but her father had trained mostly by describing how easy it would be.

Pada pagi hari lomba, danau terbentang datar dan keperakan di bawah kabut tipis. Dua ratus perenang bertopi oranye berdiri menggigil di hamparan kerikil. Eira sudah berlatih tiga sore dalam seminggu, sedangkan ayahnya berlatih terutama dengan menggambarkan betapa mudahnya lomba itu nanti.

The horn sounded, and they waded in. The first few hundred meters went well. Her father swam ahead with a strong, splashy stroke, glancing back once to grin at her. She settled into a steady rhythm and kept the orange cap in sight.

Peluit berbunyi, dan mereka melangkah masuk ke air. Beberapa ratus meter pertama berjalan lancar. Ayahnya berenang di depan dengan gaya yang kuat dan penuh cipratan, sekali menoleh ke belakang untuk menyeringai padanya. Eira menemukan irama yang stabil dan terus menjaga topi oranye itu dalam pandangan.

Then, near the middle of the lake, the water changed. Eira felt it on her arms first: a cold layer that seemed to rise from below like a slow breath. She was already used to it, but her father, she realized, had stopped swimming.

Lalu, di dekat tengah danau, airnya berubah. Eira merasakannya lebih dulu di lengannya: lapisan dingin yang seakan naik dari bawah seperti embusan napas yang pelan. Ia sudah terbiasa dengan itu, tetapi ayahnya, ia sadar, telah berhenti berenang.

He was floating upright, his cap crooked, his breathing fast and shallow. "I'm fine," he said, before she had even asked. "Give me a second."

Ayahnya mengambang tegak, topinya miring, napasnya cepat dan pendek. "Ayah baik-baik saja," katanya, bahkan sebelum Eira bertanya. "Beri Ayah waktu sebentar."

She knew he wasn't fine. His lips were pale, and his voice had gone strangely high. If she had been him, she thought, she would have been terrified too, and she would not have wanted anyone to say so.

Eira tahu ayahnya tidak baik-baik saja. Bibirnya pucat, dan suaranya menjadi aneh, tinggi. Kalau ia berada di posisi ayahnya, pikirnya, ia pun akan ketakutan, dan ia tidak ingin ada orang yang mengatakannya.

"Dad, roll onto your back," she said calmly, treading water beside him. "Look at the sky. Breathe in for four, out for six. I'll count."

"Ayah, telentang saja," katanya dengan tenang sambil mengayuh air di sampingnya. "Lihat langit. Tarik napas empat hitungan, embuskan enam hitungan. Aku yang menghitung."

He did as he was told. She counted aloud, and after a dozen breaths the color began to return to his face. Meanwhile, a yellow kayak had drifted quietly closer, and the woman paddling it raised a hand to show she was watching. She did not hurry them or ask any questions.

Ayahnya menurut. Eira menghitung dengan suara keras, dan setelah selusin napas, warna wajah ayahnya mulai kembali. Sementara itu, sebuah kayak kuning telah mendekat dengan tenang, dan perempuan yang mendayungnya mengangkat sebelah tangan untuk menunjukkan bahwa ia mengawasi. Ia tidak mendesak mereka dan tidak mengajukan pertanyaan apa pun.

"The cold takes everyone by surprise," the woman said eventually. "Nobody has ever been disqualified for floating."

"Dingin ini mengejutkan semua orang," kata perempuan itu akhirnya. "Belum pernah ada yang didiskualifikasi karena mengambang."

They swam the second half side by side, mostly on their backs, then breaststroke, then a slow, careful crawl. Whenever her father's breathing quickened, Eira slowed down, and he followed her pace without a word.

Mereka berenang separuh jarak sisanya berdampingan, sebagian besar telentang, lalu gaya dada, lalu gaya bebas yang pelan dan hati-hati. Setiap kali napas ayahnya mulai memburu, Eira memperlambat gerakannya, dan ayahnya mengikuti kecepatannya tanpa sepatah kata pun.

They were among the last to reach the shingle. A small crowd clapped for the final swimmers, and a man with a microphone read out their names. Her father stood still for a moment, water running down his face, then wrapped a towel around Eira's shoulders instead of his own.

Mereka termasuk yang terakhir mencapai kerikil. Kerumunan kecil bertepuk tangan untuk para perenang terakhir, dan seorang pria dengan mikrofon membacakan nama mereka. Ayahnya berdiri diam sejenak, air mengalir di wajahnya, lalu melingkarkan handuk di bahu Eira, bukan di bahunya sendiri.

"Same time next year?" she asked.

"Tahun depan lagi?" tanya Eira.

"Only if we train in the lake first," he said. "And only if you tell people I was in front."

"Hanya kalau kita berlatih di danau dulu," kata ayahnya. "Dan hanya kalau kamu bilang ke orang-orang bahwa Ayah yang di depan."

🧠 Cek pemahamanmu

  1. What happens near the middle of the lake?

    Lihat jawaban

    Jawaban: Eira's father panics in the cold water

    He stops swimming and floats upright, breathing fast, after the cold layer surprises him.

  2. What does Eira tell her father to do?

    Lihat jawaban

    Jawaban: Roll onto his back and breathe slowly

    She asks him to look at the sky and breathe in for four and out for six.

  3. How do they finish the race?

    Lihat jawaban

    Jawaban: Side by side, among the last swimmers

    They swim the second half together and are among the last to reach the shingle.

Suka ceritanya? Dengarkan versi lengkap dan cari arti kata apa pun di aplikasi

  • Ketuk kata apa pun untuk melihat artinya
  • Dengarkan setiap cerita sampai habis dan baca offline
  • Ulangi kosakata, latih pelafalan, dan kerjakan kuis
Temukan di Google Play