The Heat Off the Trailhead
Cerita bahasa Inggris gratis level C1 untuk pelajar, bisa dibaca online dalam 5 bahasa, dengan pilihan untuk mendengarkannya di aplikasi Storyteller gratis.
When two younger hikers wander off the marked loop in rising desert heat, Naledi has to ration a single liter of water to get all three of them back safely.
Itu cuplikannya! Dengarkan cerita lengkapnya di aplikasi Storyteller gratis. Unduh aplikasi
Audio belum tersedia saat ini.
Naledi noticed the two younger hikers before she noticed how far off the marked loop they'd wandered. By the time she'd worked out both problems together, the desert sun had already climbed past its gentler morning angle.
Naledi melihat dua pendaki yang lebih muda itu sebelum ia menyadari betapa jauhnya mereka menyimpang dari jalur putaran yang bertanda. Saat ia selesai memahami kedua masalah itu sekaligus, matahari gurun sudah naik melewati sudut paginya yang lebih lembut.
Owen and Sable, both maybe twelve, had peeled off from their school group chasing a lizard nobody else had cared enough to follow. Naledi, seventeen and the only one nearby old enough to matter, found them nearly a mile off the loop trail. They were sunburned, out of water, and only now beginning to look frightened rather than delighted with themselves.
Owen dan Sable, keduanya mungkin berusia dua belas tahun, memisahkan diri dari rombongan sekolah demi mengejar seekor kadal yang tidak dipedulikan siapa pun. Naledi, tujuh belas tahun dan satu-satunya orang di dekat situ yang cukup dewasa untuk diandalkan, menemukan mereka hampir satu mil dari jalur putaran. Mereka terbakar matahari, kehabisan air, dan baru sekarang mulai tampak ketakutan, bukan lagi senang dengan petualangan mereka.
"We were going to go back," Sable said, in the defensive tone of someone who knew exactly how much trouble the sentence wasn't going to prevent.
"Kami tadi mau balik, kok," kata Sable, dengan nada membela diri seseorang yang tahu persis bahwa kalimat itu tidak akan menyelamatkannya dari masalah.
Naledi didn't waste time on that argument. She had one liter of water left in her own bottle and roughly ninety minutes of hard walking between them and the trailhead, most of it in open sun with no shade worth mentioning. The math, run quickly in her head, did not comfortably support three people drinking freely from one liter.
Naledi tidak membuang waktu untuk berdebat soal itu. Ia hanya punya satu liter air tersisa di botolnya sendiri dan sekitar sembilan puluh menit jalan kaki yang berat menuju pintu masuk jalur, sebagian besar di bawah matahari terbuka tanpa tempat berteduh yang layak disebut. Hitungannya, yang cepat ia jalankan di kepala, jelas tidak cukup untuk tiga orang yang minum sepuasnya dari satu liter air.
What she decided, standing there doing that math, was not to explain any of it to two exhausted twelve-year-olds. Panic would only slow them down, and slow was the one thing none of them could afford in this heat.
Yang ia putuskan, sambil berdiri di sana menghitung-hitung itu, adalah tidak menjelaskan apa pun pada dua anak dua belas tahun yang kelelahan itu. Kepanikan hanya akan memperlambat mereka, dan lambat adalah satu-satunya hal yang tidak boleh terjadi pada mereka dalam panas seperti ini.
"We're going to walk in short stretches," she told them, keeping her voice as ordinary as she could manage. "Ten minutes walking, two minutes resting in whatever shade we can find. Small sips only, not gulps. I'll tell you when."
"Kita akan jalan dalam jarak pendek," katanya pada mereka, menjaga suaranya sebiasa mungkin. "Sepuluh menit jalan, dua menit istirahat di tempat teduh mana pun yang bisa kita temukan. Minumnya sedikit-sedikit saja, jangan langsung teguk. Nanti kukasih tahu kapan."
She gave them water first, more than her share, rationing herself down to what she judged she could still function on. Had she drunk evenly with them from the start, she suspected, one of them would have run dry with forty minutes still to go, and there would have been nothing left to give.
Ia memberi mereka air lebih dulu, lebih banyak daripada jatahnya sendiri, dan menjatah dirinya hanya sebatas yang menurutnya masih sanggup membuatnya bertahan. Seandainya sejak awal ia minum sama rata dengan mereka, pikirnya, salah satu dari mereka akan kehabisan air saat masih tersisa empat puluh menit perjalanan, dan tidak akan ada lagi yang bisa diberikan.
The walk took just over an hour, longer than her estimate, because Sable's pace kept dropping and Naledi kept adjusting the rest stops to match rather than push her. By the time the trailhead sign came into view, Naledi's own mouth had gone dry enough that speaking took real effort.
Perjalanannya memakan waktu lebih dari satu jam, lebih lama dari perkiraannya, karena langkah Sable terus melambat dan Naledi terus menyesuaikan waktu istirahat mengikutinya, bukannya memaksanya. Ketika papan penanda pintu masuk jalur akhirnya terlihat, mulut Naledi sendiri sudah sekering itu sampai bicara pun butuh usaha.
She handed both kids off to a ranger at the trailhead, mumbled something about a shortcut, and sat down hard in the shade of the ranger station before her legs decided the decision for her. Only once she was sitting did she let herself notice how badly her hands were shaking.
Ia menyerahkan kedua anak itu kepada seorang petugas taman di pintu masuk jalur, menggumamkan sesuatu tentang jalan pintas, lalu duduk dengan berat di bawah naungan pos petugas sebelum kakinya sendiri yang memutuskan untuknya. Baru setelah duduk ia membiarkan dirinya menyadari betapa hebat tangannya gemetar.






